Kadishub DKI: Rekayasa Lalin Underpass Matraman Paling Berat

Rabu, 11 April 2018 | 15:46 WIB
LT
JS
Penulis: Lenny Tristia Tambun | Editor: JAS
Sejumlah pemotor melaju saat uji coba
Sejumlah pemotor melaju saat uji coba "open traffic" pada hari pertama di jalur Lintas Bawah Matraman, Jakarta, 10 April 2018. (BeritaSatu Photo/Joanito De Saojoao)

Jakarta – Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DKI, Andri Yansyah mengakui melakukan rekayasa lalu lintas di underpass Matraman-Salemba paling berat. Pasalnya, keberadaan underpass ini mengubah jalur lalu lintas yang sudah ada.

"Yang paling berat yang ini nih. Karena dia mengubah jalur, mengubah kinerja. Kalau yang lain kan di bawah dan di atas tanpa mengubah jalur. Bahkan infrastrukturnya ditambah, yang tadinya dua jalur, jadi empat jalur, tinggal jalan ke bawah atau ke atas. Tidak ada hambatan," kata Andri Yansyah sewaktu mendampingi Wakil Gubernur DKI, Sandiaga Uno meninjau Underpass Matraman, Selasa (10/4) malam.

Menurutnya, kawasan di sekitar underpass Matraman harus banyak dilakukan rekayasa lalu lintas. Hal ini tidak terjadi, saat uji coba di underpass Kartini, flyover Pancoran, Bintaro, dan Cipinang Lontar. Semua arus lalu lintas di keempat jalan tersebut saat uji coba maupun pengoperasian berjalan dengan lancar, tidak seperti underpass Matraman terjadi penumpukan kendaraan bermotor.

"Memang yang paling berat ini. Begitu kita buka seperti di Kartini, Pancoran, Bintaro dan Cipinang Lontar, ya sudah arusnya lancar. Namun kalau ini perlu ada rekayasa lalu lintas lagi," ujarnya.

Kemacetan yang terjadi pada hari pertama uji coba, lanjutnya, telah dievaluasi. Hasil evaluasi akan menjadi pedoman bagi Dishub DKI untuk mengurangi kemacetan di kawasan sekitar Matraman dan Salemba.

Dari hasil evaluasi tersebut, pihaknya akan merapatkan separator berbentuk MCB plastik. Karena pada hari pertama uji coba, separator diletakkan dengan adanya celah yang cukup bisa dilewati oleh motor.

"Penempatan separator yang tadinya jarang tetapi karena kami lihat banyaknya (crossing) motor-motor, maka kami rapatkan separatornya," ujarnya.

Kemudian, jalur jalan yang berada di sepanjang Jalan Tambak, yang tadinya dibuat menjadi dua jalur, akan dikembalikan seperti semula menjadi tiga jalur.

"Dari dua rekayasa ini kami akan lihat di hari kedua uji coba. Kami lihat seberapa efektif yang bisa kita dapatkan. Kalau tidak kami sudah siapkan formulasi rekayasa lalu lintas lainnya," terangnya.

Ada tiga strategi rekayasa lalu lintas yang disiapkan bila perapatan separator dan pengembalian jalur tidak berjalan efektif. Strategi pertama adalah melakukan penutupan penyeberangan (crossing) di Jalan Tambak sehingga arus lalu lintas dari Timur ke Barat (Pramuka ke Proklamasi) dibuka tanpa hambatan.

Strategi kedua, melakukan penutupan jalan untuk kendaraan pribadi di beberapa titik jalan dan hanya dibuka untuk bus Transjakarta saja. Kemudian, strategi ketiga, memfungsikan kembali lampu merah di Megaria.

Dengan demikian arus lalu lintas dari timur ke barat mempunyai tiga alternatif jalan. Yakni, kendaraan bisa langsung berbelok ke Jalan Diponegoro, ke Cikini dan langsung ke RSCM.

"Sehingga volume kendaraan bisa terurai dengan tiga alternatif tersebut," tuturnya.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon