Novel Baswedan: Kepolisian Tak Mau Tuntaskan Kasus Saya
Jumat, 27 Juli 2018 | 18:22 WIB
Jakarta - Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan menegaskan pihak kepolisian tak mau mengungkap dan menuntaskan kasus teror penyiraman air keras yang dialaminya. Novel diketahui diteror dengan disiram air keras pada 11 April 2017 lalu. Namun, setelah 16 bulan berlalu, pihak kepolisian belum juga mengungkap dan menangkap peneror Novel.
"Saya sejak awal sampaikan, bahwa polisi tidak mau untuk mengungkap ini (penyiraman air keras). Saya tegaskan lagi, polisi tidak mau mengungkap ini," kata Novel di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (27/7).
Untuk itu, kata Novel mendesak Presiden Joko Widodo turun tangan menuntaskan kasus ini. Presiden, kata Novel harus membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) kasus air keras.
"Saya desak bapak Presiden untuk mengungkap kasus ini, kenapa Presiden bukan Polri sebagai institusi? Karena polisi tidak mau mengungkap kasus ini, karena itu saya minta ke atasannya polisi (Presiden)," katanya.
Novel menyatakan, desakan ini bukan didasari karena rasa dendam dan kemarahan dirinya sebagai korban. Novel memastikan telah memaafkan pelaku. Namun, Novel menegaskan, tuntutan pengungkapan pelaku penyiraman air keras ini sama halnya dengan kerja pemberantasan korupsi.
"Saya tidak berhenti bersuara agar ini semua diungkap. Saya akan bicara dengan risiko apapun, bukan hanya terkait diri saya sendiri tapi pelakunya penyerangan adalah penyerangan ke KPK. Setiap penyerangan ke pegawai KPK harus diungkap jangan ditutupi, kita tidak menuduh tapi apa adanya. Tidak bicara di wilayah abu-abu. Korupsi tidak akan bisa diberantas kalau ditutup-tutupi," katanya.
Novel menyatakan pembentukan TGPF merupakan salah satu wujud konkret Presiden Jokowi dalam mendukung upaya pemberantasan korupsi. Dikatakan, pemberantasan korupsi tidak akan berhasil jika hanya sekadar retorika dan seremoni.
"Semoga ke depan bapak Presiden mau sungguh-sungguh untuk mendukung KPK dan lembaga lain, tidak hanya retorika atau kamuflase atau seremoni karena korupsi sangat banyak dan efeknya sangat besar," tegasnya.
Desakan agar Presiden segera membentuk TGPF kasus Novel juga disuarakan Wadah Pegawai KPK. Desakan ini disampaikan Wadah Pegawai lantaran setelah 16 bulan berlalu pihak kepolisian belum juga berhasil mengungkap peneror Novel.
"Apabila dirasa belum ada titik terang dari kerja lembaga yang ada saat ini, kami berharap sikap tegas Presiden membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) sekarang juga," kata Ketua Wadah Pegawai (WP) KPK, Yudi Purnomo saat membacakan Surat Terbuka para pegawai lembaga antikorupsi.
Para pegawai mengingatkan penyerangan terhadap Novel bukanlah penyerangan biasa. Lebih dari itu, penyerangan ini merupakan upaya untuk membunuh hadirnya negara yang sedang berupaya memberantas korupsi yang menggurita. Penyerangan terhadap Novel ini dapat menimpa siapapun yang berupaya memberantas korupsi di Indonesia.
"Untuk itu kami tidak menuntut banyak, kami hanya menuntut negara hadir untuk Novel Baswedan dan pemberantasan korupsi melalui pengungkapan kasus Novel Basedan," katanya.
Yudi menyatakan, WP KPK sudah berkirim surat kepada Presiden terkait kasus Novel. Namun, surat yang dilayangkan berbulan lalu itu tak kunjung ditindaklanjuti Jokowi.
Sebagai simbol desakan agar Jokowi untuk turun tangan dalam menuntaskan kasus ini, WP KPK pun menggelar sayembara berhadiah sepeda bagi orang yang berhasil mengungkap kasus teror Novel. Siapapun yang berhasil mengungkap kasus ini bakal mendapat sepeda jenis BMX warna hitam dan putih yang ditaruh WP KPK di pelataran Gedung KPK. Sepeda seharga Rp 950.000 ini dibeli dari satu toko di Pasar Jumat pada Kamis (26/7). Pemberian sepeda itu seolah sindiran atas kebiasaan Presiden Joko Widodo memberikan sepeda kepada masyarakat yang dapat menjawab kuis saat menghadiri suatu acara di daerah
"Sepeda ini akan terus ada di depan lobi KPK sampai pelaku penyiraman bang Novel ditemukan," kata Yudi
Dikatakan, sepeda yang bakal diberikan tidak hanya satu, bisa sampai lebih dari lima tergantung berapa banyak pihak yang bisa membantu menuntaskan kasus Novel. Ditegaskan, hadiah sepeda ini merupakan simbol WP KPK takkan pernah tinggal diam atas kasus teror penyiraman air keras yang dialami Novel.
"Untuk itu bang Novel dan teman-teman, sepeda ini kami taruh di sini sebagai simbol bahwa kita tidak akan pernah berhenti untuk mendukung pengungkapan kasus bang Novel, bahkan sampai 2019, 2020, dan seterusnya jadi ini adalah sepeda dari wadah pegawai KPK," jelasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




