Festival Angklung Paglak, Upaya Banyuwangi Merawat Kearifan Lokal

Sabtu, 4 Agustus 2018 | 20:59 WIB
FH
FH
Penulis: Feriawan Hidayat | Editor: FER
Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, menghadiri Festival Angklung Paglak yang digelar dalam rangkaian Banyuwangi Festival, di hamparan hijau Bandara Banyuwangi, Sabtu 4 Agustus 2018.
Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, menghadiri Festival Angklung Paglak yang digelar dalam rangkaian Banyuwangi Festival, di hamparan hijau Bandara Banyuwangi, Sabtu 4 Agustus 2018. (Istimewa)

Banyuwangi - Festival Angklung Paglak sukses digelar dalam rangkaian Banyuwangi Festival di hamparan hijau Bandara Banyuwangi, Sabtu (4/8). Alunan musik dari material bambu mengalun merdu dari 38 menara bambu yang dalam bahasa setempat disebut 'paglak'.

"Angklung paglak merupakan salah satu kesenian tertua di Banyuwangi. Ini kearifan lokal warga yang luar biasa. Kita ingin menunjukkan bahwa kearifan lokal bukan masa lalu, tapi masa depan," kata Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas di sela acara.

Festival Angklung Paglak

Paglak adalah menara bambu setinggi 6 meter hingga 7 meter, dengan lebar masing-masing sisinya sekitar 2 meter. Dari menara tersebut, musik angklung khas Banyuwangi dimainkan oleh 2 orang hingga 4 orang pemusik.

Kesenian ini muncul sejak 1880 silam dengan dimainkan di tengah sawah saat musim panen. Masyarakat Suku Using yang kerap disebut sebagai warga asli Banyuwangi biasanya memang saling membantu saat musim panen tiba.

Saat ada warga yang sedang panen di sawahnya, warga lainnya guyup membantu. Nah, angklung paglak ini dimainkan sebagai undangan dari sang pemilik sawah kepada warga agar ikut membantu sekaligus menghibur para petani.

"Jadi festival ini bukan sekadar atraksi wisata, tapi ada filosofi yang ingin disampaikan khususnya ke anak-anak muda. Nilai-nilai gotong royong ala masyarakat saat musim panen ini penting diteladani. Kalau hanya disampaikan di dalam kelas, akan membosankan. Tapi kalau langsung dimainkan seperti ini anak-anak langsung tahu," kata Anas.

Dalam festival ini, para pemusik angklung berusaha menghasilkan alunan musiknya yang terbaik. Satu per satu grup peserta menunjukkan kemahirannya memainkan alat musik pukul dari bambu tersebut. Semakin kencang pukulannya, maka menara bambu akan ikut bergoyang kian kencang. Hal ini, menjadi ciri khas kesenian tersebut.

Salah seorang peserta, Sumantri (55), mengatakan, dirinya sejak kecil sudah lihai memainkan angklung. "Senang sekarang ada festivalnya. Biasanya saya main di tengah sawah sendirian, sekarang bisa main ditonton banyak orang," ungkapnya.

Anas menambahkan, festival ini adalah salah satu strategi memajukan kebudayaan daerah. Di sejumlah negara, beragam atraksi seni-budaya telah menjadi indikator kebahagiaan warga dan kemajuan daerah.

"Jadi kemajuan daerah tidak semata-mata diukur dari ekonomi semata, namun juga proses memajukan seni-budaya. Di Jepang dan Korea, budaya menjadi sumber kemajuan negara. Maka, selama enam tahun terakhir kita konsisten menggelar festival untuk memajukan budaya Banyuwangi," kata Anas.

Festival Angklung Paglak ini juga menambah cantik kawasan bandara hijau Banyuwangi. Suasana khas lokal semakin terasa di bandara yang mengadopsi arsitekur berbasis budaya Suku Using tersebut.

Sejumlah wisatawan yang baru mendarat pun senang dengan festival tersebut. "Surprise, kok ada suara angklung pas berjalan di terminal bandara. Ternyata ada Festival Angklung Paglak. Langsung saya bawa anak-anak untuk nonton, maklum mereka tidak pernah tahu seni seperti ini. Mereka sangat tertarik," ujar dr Hendrawan, salah seorang penumpang asal Surabaya.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon