Pertunjukan Bawi Lamus, Menyoroti Pesona Tanah Dayak
Kamis, 27 September 2018 | 12:28 WIB
Jakarta - Kalimantan menyimpan kekayaan sumber daya alam serta kekuatan seni tradisi yang penting dijaga dan dilestarikan. Terinspirasi dari pesona alam Kalimantan Tengah yang menakjubkan, serta simbol-simbol luhur seni tradisi Dayak yang agung, lahirlah karya pertunjukan Bawi Lamus.
Pertunjukan rencana dipentaskan di Gedung Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, pada tanggal 13-14 Oktober 2018.
Bawi Lamus adalah pertunjukan seni dan tradisi Suku Dayak Ngaju dan Suku Dayak Manyan dari Kalimantan Tengah, dikolaborasikan dengan musik orkestra dengan kemasan tata pertunjukan yang modern.
Dalam bahasa Dayak, Bawi Lamus berarti wanita cantik dan anggun. Energi yang dipancarkan oleh sosok istimewa Bawi Lamus diharapkan menjaga kelestarian lingkungan alam serta menata hubungan harmonis antar manusia dengan tetap berserah kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Pada awal perjalanan, putra daerah Kalimantan Tengah, Teras Narang, berkeinginan kuat mengangkat seni tradisi Suku Dayak Kalimantan Tengah. Cita-cita Bawi Lamus adalah memperkenalkan sebagian dari begitu banyak kebudayaan Dayak yang belum secara maksimal dikenal oleh masyarakat luas.
"Kehidupan kesenian di Kalimantan Tengah sudah cukup baik. Tapi baik saja tidak cukup, harus diperkuat, harus dipertontonkan, harus ditonjolkan," ungkap Teras, saat jumpa pers di kawasan Jakarta Selatan, Rabu (26/9).
Gayung bersambut, ide ini kemudian direspon positif oleh penulis naskah teater Bawi Lamus, Paquita Widjaja Rustandi. Ia mengatakan, pertunjukan Bawi Lamus menjadi narasi yang bercerita kondisi Kalimantan bukan hanya tentang keindahannya, namun juga tentang cita-cita serta harapan di masa mendatang.
"Mistis alam, kebijakan budaya, keunikan sejarah, dan keindahan manusia Kalimantan telah meniupkan pesona inspirasi seni bagi kami. Ini adalah pertunjukan multietnik yang tetap mengangkat empat tema utamanya alam, manusia, sejarah, dan harapan. Itulah yang kemudian menjadi empat pilar pertunjukan Bawi Lamus ini," kata Paquita
Diakui, Dayak dikenal akan keindahan alamnya, leluhurnya, sejarah. Tetapi Kalimantan juga merupakan paru-paru dunia. Harapan Paquita, pertunjukan ini tidak saja memberi inspirasi pada penonton tapi menghibur.
Sedangkan untuk menyelesaikan naskah tersebut, Paquita mengaku harus melakukan riset mendalam agar dapat memberikan sebuah sajian karya yang utuh.
"Saya memulai dengan membaca sebanyak mungkin artikel yang ada di internet tentang sejarah Dayak secara umum, juga dengan membaca beberapa literatur yang ada dari zaman penjajahan Belanda. Kemudian tentunya riset dilanjutkan di Kalimantan. Kami juga berbicara dengan beberapa orang yang kompeten untuk memberikan kami informasi lebih dalam," jelasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




