38 Penyelam Telah Jalani Terapi Hiperbarik di RS Polri
Senin, 12 November 2018 | 14:27 WIB
Jakarta - Rumah Sakit Bhayangkara Polri Raden Sakit Tingkat I Raden Said Sukanto, terus membuka pelayanan terapi hiperbarik kepada para penyelam TNI-Polri, termasuk relawan yang turut membantu proses evakuasi penumpang dan badan pesawat Lion Air PK-LQP yang mengalami kecelakaan, di Perairan Karawang, Jawa Barat.
Hingga saat ini, sudah ada 38 penyelam yang menjalani terapi pemberian oksigen 100 persen itu, di RS Bhayangkara Polri.
"Kami juga melaksanakan pelayanan hiperbarik bagi penyelam, yang kami layani di sini 38 orang terdiri dari personel Dit Polair 32 orang dan relawan enam orang," ujar Kepala Bidang DVI Pusdokkes Polri Komisaris Besar Polisi Lisda Cancer, di Rumah Sakit Bhayangkara Polri Raden Said Sukanto, Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin (12/11).
Dikatakan, RS Bhayangkara Polri masih membuka pelayanan bagi penyelam yang akan menjalani terapi hiperbarik. "Masih dibuka, bergantung dari penyelamnya kapan (mau diterapi)," ungkapnya.
Sementara itu, Wakil Kepala Bidang DVI Pusdokkes Polri Komisaris Besar Polisi Triawan menuturkan, pada prinsipnya RS Bhayangkara Polri memberikan pelayanan kepada penyelam untuk mendapatkan terapi.
"Di Rumah Sakit Bhayangkara Polri Raden Said Sukanto ini yang kita lakukan adalah membantu rekan-rekan penyelam, khususnya Polair, melakukan upaya pencegahan antara lain melalui hiperbarik. Tidak menutup kemungkinan relawan juga. Prinsipnya semua penyakit yang timbul akibat penyelaman akan kami terapi, selain mungkin melalui hiperbarik," katanya.
Sebelumnya diketahui, RS Bhayangkara Polri Tingkat I Raden Said Sukanto, membuka pelayanan terapi hiperbarik -pemberian oksigen 100 persen- kepada penyelam Polri dan relawan untuk mengantisipasi penyelam mengalami dekompresi pada saat membantu proses evakuasi penumpang serta badan pesawat Lion Air yang jatuh di Perairan Karawang, Jawa Barat.
Penanggung Jawab Pelaksanaan Terapi Oksigen Hiperbarik RS Bhayangkara Polri Tingkat I Raden Said Sukanto AKBP Karjana, mengatakan terapi hiperbarik dilaksanakan untuk mendukung kegiatan-kegiatan penyelaman dan kegiatan yang terkait dengan aktifitas di laut.
"Terapi oksigen hiperbalik ini aplikasinya untuk penyelam bisa dilakukan sebelum yang bersangkutan menjalani penugasan penyelaman dan bisa dilakukan setelah beberapa kali penyelaman. Tujuannya apa untuk pencegahan preventif gangguan penyakit dekompresi, yaitu penyakit diakibatkan dari kegiatan penyelaman tadi," katanya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




