Tipis, PM Inggris Lolos dari Mosi Tidak Percaya
Kamis, 17 Januari 2019 | 03:50 WIB
London - Theresa May akan meneruskan jabatannya sebagai perdana menteri setelah pemerintahannya lolos dari mosi tidak percaya yang digelar Rabu (16/1) dengan selisih hanya sembilan suara, sehari setelah parlemen menolak kesepakatan yang dia tawarkan untuk membawa Inggris keluar dari Uni Eropa atau Brexit.
Voting anggota parlemen menghasilkan 325 suara berbanding 306 untuk mempertahankan pemerintahan May. Seandainya dia kalah, maka pemilu harus digelar kecuali dia bisa mendapatkan kembali kepercayaan House of Commons atau DPR dalam batas waktu dua pekan.
Merespons hasil voting tersebut, May menyampaikan ke parlemen dia akan "terus bekerja untuk merealisasikan janji kepada rakyat negara ini, merealisasikan hasil referendum, dan meninggalkan Uni Eropa".
Dia juga mengundang semua ketua partai politik untuk bertemu dengannya satu per satu menuju Brexit -- dimulai malam ini -- tetapi mengingatkan mereka untuk membawa "semangat yang konstruktif".
"Kita harus menemukan solusi yang bisa dirundingkan dan bisa menguasai dukungan memadai di DPR ini," kata May.
Namun Ketua Partai Buruh Jeremy Corbyn, yang memimpin gerakan mosi tidak percaya, mengingatkan bahwa sebelum ada "diskusi yang positif", May harus memastikan tidak ada opsi keluar dari UE tanpa kesepakatan sama sekali.
"Pemerintah harus secara tegas meniadakan, sekali dan selamanya, peluang terjadinya bencana dengan meninggalkan UE tanpa kesepakatan dan semua kekacauan yang mungkin timbul karena hal tersebut," kata Corbyn kepada anggota parlemen.
Partai Buruh masih bisa mengajukan mosi tidak percaya lagi, tetapi Corbyn mendapat tekanan dari puluhan rekannya agar lebih baik mengupayakan digelarnya referendum kedua saja.
Peristiwa ini merupakan lanjutan drama politik di Inggris setelah pada Selasa (15/1) malam parlemen menolak proposal kesepakatan Brexit yang diajukan May dengan selisih 230 suara. Ini merupakan margin kekalahan terbesar yang dialami pemerintah Inggris di era parlemen modern.
Setelah kekalahan pemerintah, Corbyn yang berada di kubu oposisi menyerukan dilakukannya voting mosi tidak percaya terhadap pemerintah.
Kacaunya peta politik Inggris tercermin dari hasil pemungutan suara tersebut. Banyak anggota parlemen yang memilih mempertahankan May pada Rabu, sehari sebelumnya memilih untuk menolak kesepakatan Brexit yang diusung May.
Kekalahan May pada Selasa banyak disebabkan oleh kubu sayap kanan di partainya. Namun, kalau ada yang lebih dibenci daripada May oleh kelompok tersebut, orang itu adalah Corbyn -- sosok yang tidak mereka kehendaki untuk menjadi perdana menteri.
Perkembangan terakhir ini membuat May tetap memegang kendali, tetapi makin lemah dan tanpa jalan keluar yang jelas terhadap rencana Brexit, hanya 72 hari menjelang tenggat waktu keluarnya Inggris dari UE pada 29 Maret nanti.
Inggris punya beberapa opsi: menunda perceraian dengan UE, meninggalkan UE dengan kesepakatan yang dinegosiasikan ulang, keluar dari UE tanpa kesepakatan sama sekali, atau menggelar referendum ulang untuk membatalkan niat keluar dari blok tersebut.
Situasi Sekarang
Meskipun masih berkuasa, beberapa hari berikutnya masih akan penuh ranjau bagi May. Dia punya waktu tiga hari untuk mengajukan rencana alternatif bagi Brexit yang bisa diterima para anggota parlemen.
Senin depan, dia harus kembali ke parlemen untuk memaparkan rencana alternatif tersebut. Jika disetujui, dia harus membawa revisi itu ke para pemimpin UE.
Ini terdengar sederhana, tetapi tidak ada jaminan bahwa UE akan bersedia melakukan negosiasi ulang.
Untuk diketahui, May butuh waktu dua tahun yang penuh perdebatan sengit dan negosiasi alot hanya untuk mendapatkan persetujuan UE atas kesepakatan Brexit awal yang dia ajukan, yang Selasa lalu ditolak oleh parlemennya sendiri. Sementara itu, waktu terus berjalan.
Hanya tersisa 72 hari ke depan untuk mematangkan kesepakatan, dan kalau gagal maka Inggris akan meninggalkan UE tanpa kesepakatan sama sekali yang pasti akan menimbulkan banyak kekacauan.
May sebetulnya berkeras dia ingin Inggris lepas dari UE sesuai jadwal 29 Maret, tetapi mengindikasikan tenggat waktu itu bisa diperpanjang.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




