Asrul Sani: Ada Elemen Pengusung Khilafah di Kubu Prabowo-Sandi

Sabtu, 30 Maret 2019 | 20:32 WIB
RW
WM
Penulis: Robertus Wardi | Editor: WM
Calon Presiden Nomor Urut 02 Prabowo Subianto menggelar kampanye akbar di Lapangan Sidolig, Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (28/3/2019).
Calon Presiden Nomor Urut 02 Prabowo Subianto menggelar kampanye akbar di Lapangan Sidolig, Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (28/3/2019). (Beritasatu TV)

Jakarta, Beritasatu.com - Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo (Jokowi) dan Ma'ruf Amin, Asrul Sani mengemukakan,‎ harus diakui bahwa ada pendukung Paslon nomor urut 02 Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno yang merupakan massa khilafah. Hal itu sudah terlihat bentuk dukungan yang terjadi selama ini.

"Kalau kita bicara tentang khilafah itu kita lekatkan dengan kubu 02, bahwa faktanya di kubu 02, ada elemen-elemen pengusung khilafah iya. Jangan diingkari juga itu. Tapi apakah keseluruhan kubu 02 setuju khilafah, tentu bukan," kata Asrul, di Hotel Shangri-La, Jakarta, Sabtu (30/3/2019) mala‎m sebelum debat.

Ia menjelaskan, khilafah itu adalah sebagai ideologi transnasional yang ingin menghilangkan paham negara bangsa. Paham seperti itu tidak layak di Indonesia yang sudah memiliki ideologi sendiri yaitu Pancasila.

Dia menegaskan, pernyataan mantan Kepala BIN AM Hendropriyono bahwa Pilpres 2019 adalah pertarungan ideologi Pancasila dengan Khilafah, Asrul mengemukakan, harus diletakkan dalam konteks yang lebih luas. Artinya, ideologi khilafah sudah mempengaruhi dunia dan menjadi ancaman. Di beberapa negara sudah ditolak kehadirannya. Indonesia pun sudah melarang penyebaran ideologi tersebut.

"Statement Pak Hendro harus dimaknai dalam kerangka mengingatkan ada ancaman yang sebagaimana dialami oleh negara lain. Artinya adalah ancaman saling berhadap-hapannya antara ekssistensi negara bangsa. Negara bangsa itu di manapun. Misal New Zealand yang menuai ancaman dengan adanya penembakan massal itu versus masuknya paham-paham transnasional yang ingin menegasikan paham negara bangsa. Nah itu dibuat dalam satu pusat kekuasaan tertentu yang sekarang itu kerennya atau istilah populernya itu dengan khilafah," tutur Asrul.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon