Antisipasi Demo Lanjutan, Polisi Akan Sekat Kawasan di Depan Gedung DPR

Rabu, 25 September 2019 | 13:11 WIB
BM
B
Penulis: Bayu Marhaenjati | Editor: B1
Kapolda Metro Jaya Irjen Gatot Eddy Pramono dan Pangdam Jaya Mayjen TNI Eko Margono
Kapolda Metro Jaya Irjen Gatot Eddy Pramono dan Pangdam Jaya Mayjen TNI Eko Margono (Beritasatu TV)

Jakarta, Beritasatu.com - Polda Metro Jaya akan melakukan penyekatan di depan Gedung DPR/MPR, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Pusat, guna mengamankan aksi unjuk rasa lanjutan.

Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Gatot Eddy Pramono di Jakarta, Rabu (25/9/2019) mengatakan, sebelumnya polisi sudah memberikan toleransi dan ruang kepada mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi di depan pagar DPR. Termasuk, melakukan upaya mediasi dengan mempertemukan pengunjukrasa dan pimpinan DPR.

"Karena niat baik kita untuk memberikan tolerensi ini disalahgunakan, maka nanti kami akan melakukan penyekatan-penyekatan pengamanan ini terhadap adik-adik mahasiwa apabila berunjukrasa kembali, karena kita sudah cukup tolenransi. Dan, apabila melakukan tindakan-tindakan anarkis kita akan melakukan tindakan tegas," ujar Gatot.

Pelaksanaan unjuk rasa atau penyampaian pendapat, kata Gatot, merupakan hak masyarakat dan tidak dilarang, tetapi harus sesuai dengan peraturan atau perundang-undangan yang berlaku.

"Unjuk rasa boleh dilakukan, aspirasi boleh disampaikan, tapi saya yakin betul adik-adik mahasiswa adalah mahasiswa cerdas, lakukan dengan cara-cara cerdas, elegan, sesuai peraturan dan perundang-undangan yang ada," ungkapnya.

Terkait aksi unjuk rasa yang berujung ricuh kemarin, Gatot menyampaikan, sebelumnya beberapa kali kegiatan aksi unjuk rasa mahasiswa berjalan dengan aman dan damai, di depan Gedung DPR/MPR. Aksi kemudian berlanjut, Selasa 24 September. Mahasiswa pun sudah mulai berkumpul pada pukul 08.00 WIB.

"Kemudian sampai jam dua (14.00) mereka masuk ruas jalan tol, tapi situasi masih aman dan kondusif," kata Gatot.

Sejurus kemudian, mahasiswa meminta berkomunikasi dengan pimpinan DPR. Polisi selanjutnya berkoordinasi dengan Sekjen DPR dan disampaikan kalau Ketua DPR siap menerima. Namun, mahasiswa menghendaki pimpinan DPR datang ke tengah-tengah aksi massa yang sedang berunjuk rasa.

"Tentunya hal ini tidak bisa karena melihat berbagai faktor. Kemudian adik-adik mahasiswa menyampaikan kalau sampai pukul 16.00 bapak pimpinan DPR tidak ada di tengah-tengah massa, mereka tidak bertanggung jawab terhadap apa yang terjadi," jelasnya.

Gatot menuturkan, sekitar pukul 16.05 WIB, massa mulai meneriakan yel-yel dan mencoba masuk ke dalam. Anggota yang melakukan pengamanan di depan pagar pun mulai didorong-dorong.

"Sedangkan massa yang di samping kanan merusak pagar DPR, karena tujuannya masuk ke dalam DPR dan ingin menguasai DPR. Pada kesempatan ini kami sampaikan unjuk rasa sudah diatur dalam undang-undang, itu hak setiap warga negara menyampaikan aspirasinya. Tetapi ketika menyampaikam aspirasi dengan cara yang mengganggu keamanan dan ketertiban, kemudian tidak menghormati nilai dan norma di masyarakat, mengganggu persatuan dan kesatuan, serta mengganggu keamanan, tentunya polisi harus mengambil langkah-langkah," tegasnya.

Gatot mengatakan, polisi akhirnya mengambil langkah tegas setelah massa merusak pagar dan melempari petugas dengan batu.

"Tindakan-tindakan sudah menuju ke anarkis. Kita lakukan tindakan dengan tahapan pertama kita tembakan air untuk mundur, tetapi mereka tidak mundur, tetap maju, bahkan merusak pagar DPR. Ada tiga bagian (pagar) yang dirusak, yang dua bagian itu betul-betul sudah jebol pagarnya. Sehingga, atas nama undang-undang polisi melakukan tindakan tegas menembakan gas air mata kepada pengunjuk rasa supaya adik-adik mahasiswa ini mundur," katanya.

Menurut Gatot, selain merusak pagar DPR, pengunjukrasa juga merusak kendaraan Raimas, water canon, satu mobil Toyota Avanza di dalam tol, dan satu taksi.

"Kita lihat lagi ada beberapa pos polisi dirusak, bahkan ada yang dibakar di belakang Pospol Palmerah, Pospol Slipi dan (pospol) di depan Hotel Mulia dibakar. Ada kendaraan bus TNI dibakar dekat Hotel Mulia, kemudian pagar DPR di belakang dirobohkan. Kejadian-kejadian ini terus berlangsung, dan berakhir semalam lebih kurang pukul 01.15 dini hari," tandasnya.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon