Pendidikan Kesehatan Reproduksi Tekan Aborsi Ilegal
Senin, 16 Juli 2012 | 17:29 WIB
Pendidikan kesehatan reproduksi seharusnya diberikan sejak remaja.
Pendidikan kesehatan reproduksi di sekolah dan konseling keluarga bisa menjadi solusi untuk menekan angka aborsi ilegal yang banyak berujung pada kematian.
Demikian yang dikemukakan oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Linda Gumelar, Senin (16/7).
"Pendidikan kesehatan reproduksi seharusnya diberikan sejak awal pada usia remaja dengan bahasa yang cocok buat usia mereka," ujarnya.
Pembekalan yang cukup mengenai pentingnya kesehatan reproduksi, lanjut Linda, disebut bisa mengurangi potensi terjadinya hubungan seks di luar institusi pernikahan.
Penelitian dari berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat termasuk Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), justru menemukan sebagian besar pelaku aborsi ilegal adalah perempuan menikah yang mengalami kegagalan program kontrasepsi dan tidak ingin memiliki anak lagi.
Linda mengatakan, seharusnya sebuah keluarga, baik suami maupun istri, berkonsultasi kepada tenaga kesehatan seperti bidan atau dokter untuk menentukan keluarga seperti apa yang ingin mereka bangun sehingga tidak akan berujung pada pengguguran janin.
"Lebih baik lakukan konseling dengan tenaga kesehatan," tutupnya.
Pendidikan kesehatan reproduksi di sekolah dan konseling keluarga bisa menjadi solusi untuk menekan angka aborsi ilegal yang banyak berujung pada kematian.
Demikian yang dikemukakan oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Linda Gumelar, Senin (16/7).
"Pendidikan kesehatan reproduksi seharusnya diberikan sejak awal pada usia remaja dengan bahasa yang cocok buat usia mereka," ujarnya.
Pembekalan yang cukup mengenai pentingnya kesehatan reproduksi, lanjut Linda, disebut bisa mengurangi potensi terjadinya hubungan seks di luar institusi pernikahan.
Penelitian dari berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat termasuk Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), justru menemukan sebagian besar pelaku aborsi ilegal adalah perempuan menikah yang mengalami kegagalan program kontrasepsi dan tidak ingin memiliki anak lagi.
Linda mengatakan, seharusnya sebuah keluarga, baik suami maupun istri, berkonsultasi kepada tenaga kesehatan seperti bidan atau dokter untuk menentukan keluarga seperti apa yang ingin mereka bangun sehingga tidak akan berujung pada pengguguran janin.
"Lebih baik lakukan konseling dengan tenaga kesehatan," tutupnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
INFOGRAFIK
ARTIKEL TERPOPULER
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




