Rabu hingga Jumat, Jakut Minus Tempe Tahu
Selasa, 24 Juli 2012 | 17:59 WIB
Aksi mogok untuk mendorong pemerintah memperhatikan nasib perajin tempe.
Besok dipastikan tempe dan tahu menghilang dari peredaran di wilayah Jakarta Utara. Hilangnya kedua macam makanan khas Indonesia ini akibat gerakan mogok yang dilakukan para produsen tempe dan tahu.
Pemogokan tersebut merupakan dampak dari melambungnya harga kedelai. "Hilangnya tempe dan tahu ini akibat gerakan mogok kami yang berlangsung sejak Minggu hingga Selasa," kata Ketua Primer Koperasi Tempe dan Tahu Indonesia (Primkopti), Kalwi, hari ini.
Menurut Kalwi, pemogokan yang dirancang para perajin adalah dengan tidak menjual tempe dan tahu selama tiga hari, mulai Rabu besok hingga Jumat. Untuk itu, 811 perajin tempe dan tahu di Jakut tidak memproduksi tempe dan tahu sejak Minggu hingga Selasa ini.
Sebab, menurut Kalwi, setiap kali produksi tempe memakan waktu tiga hari hingga tempe tersebut dapat dikonsumsi. "Makanya, saat tempe hilang pada Rabu besok, saat itu kami mulai produksi lagi untuk penjualan hari Sabtu," tutur Kalwi.
Pemogokan ini, menurut Kalwi, sebagai dorongan kepada pemerintah agar dapat memperhatikan nasib perajin tempe. Itu juga sekaligus memberikan terapi kejut kepada konsumen agar dapat menerima kenaikan harga tempe yang diperkirakan mencapai Rp500 per potong untuk tempe lenjer sepanjang jengkal tangan.
Besok dipastikan tempe dan tahu menghilang dari peredaran di wilayah Jakarta Utara. Hilangnya kedua macam makanan khas Indonesia ini akibat gerakan mogok yang dilakukan para produsen tempe dan tahu.
Pemogokan tersebut merupakan dampak dari melambungnya harga kedelai. "Hilangnya tempe dan tahu ini akibat gerakan mogok kami yang berlangsung sejak Minggu hingga Selasa," kata Ketua Primer Koperasi Tempe dan Tahu Indonesia (Primkopti), Kalwi, hari ini.
Menurut Kalwi, pemogokan yang dirancang para perajin adalah dengan tidak menjual tempe dan tahu selama tiga hari, mulai Rabu besok hingga Jumat. Untuk itu, 811 perajin tempe dan tahu di Jakut tidak memproduksi tempe dan tahu sejak Minggu hingga Selasa ini.
Sebab, menurut Kalwi, setiap kali produksi tempe memakan waktu tiga hari hingga tempe tersebut dapat dikonsumsi. "Makanya, saat tempe hilang pada Rabu besok, saat itu kami mulai produksi lagi untuk penjualan hari Sabtu," tutur Kalwi.
Pemogokan ini, menurut Kalwi, sebagai dorongan kepada pemerintah agar dapat memperhatikan nasib perajin tempe. Itu juga sekaligus memberikan terapi kejut kepada konsumen agar dapat menerima kenaikan harga tempe yang diperkirakan mencapai Rp500 per potong untuk tempe lenjer sepanjang jengkal tangan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
INFOGRAFIK
ARTIKEL TERPOPULER
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




