Bali Kurang Pemandu Wisata Bahasa Jerman

Minggu, 9 September 2012 | 11:27 WIB
AH
FH
Penulis: Antara/ Murizal Hamzah | Editor: FER
Beberpa perempuan menari saat merayakan Hari Suci Kuningan di Pulau Serangan, Denpasar, Bali.FOTO: AFP PHOTO / SONNY TUMBELAKA
Beberpa perempuan menari saat merayakan Hari Suci Kuningan di Pulau Serangan, Denpasar, Bali.FOTO: AFP PHOTO / SONNY TUMBELAKA
Dalam perda mengisyarakatkan pramuwisata minimal pendidikannya Diploma 3. Itu menjadi permasalahan.

Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Provinsi Bali Sang Putu Subaya mengatakan, hingga saat ini provinsi setempat mengalami kekurangan pemandu wisata yang mahir berbahasa Jerman.

"Kekurangan ini karena paket pola perjalanan wisata mengalami pergeseran yaitu dari yang dulu tinggal di satu hotel, sekarang banyak diminati paket menginap dari satu hotel ke hotel lain," katanya di Denpasar, Minggu.

Ia menyampaikan, beberapa waktu terakhir kecenderungan wisatawan dari Eropa ketika berwisata ke Pulau Dewata, pertama menginap di Sanur (Kota Denpasar), lalu bergerak ke Ubud (Kabupaten Gianyar), kemudian ke Amed/Candidasa di Karangasem, hingga ke Lovina di Buleleng.

"Oleh karena itu pemandu wisata membutuhkan waktu satu minggu sampai sembilan hari untuk menangani satu tamu, satu grup atau satu pasang wisatawan yang memilih paket wisata seperti itu," ucapnya.

Terlebih dalam kondisi puncak kunjungan wisatawan (peak season), pihaknya tidak hanya mengalami kekurangan pemandu yang mahir berbahasa Jerman, namun juga membutuhkan pemandu berbahasa Perancis dan Belanda.

"Memang yang paling laris mengambil paket wisata keliling wisatawan dari Jerman, Perancis dan Belanda. Belakangan wisatawan asal Spanyol serta Italia juga mulai mengambil paket tersebut," katanya.

Namun sayangnya, meskipun mengalami kekurangan pemandu wisata, HPI Bali tidak dapat begitu saja menerima pramuwisata karena terganjal aturan dalam Perda Provinsi Bali No 5 tahun 2008 tentang Pramuwisata .

"Dalam perda mengisyarakatkan pramuwisata minimal pendidikannya Diploma 3. Itu menjadi permasalahan juga bagi kami karena banyak sekali yang tamat SMA sudah menguasai bahasa asing atau bagi mereka yag pernah bekerja di luar dan balik ingin menjadi guide, namun terganjal dengan aturan pendidikan D3," ujarnya.

Subaya mengatakan pihaknya sudah mengajukan permohonan pada Pemprov Bali sebagai pihak yang memegang lisensi pramuwisata untuk membuka perekrutan baru.

Di sisi lain, yang menjadi tantangan HPI saat ini semakin merebaknya keberadaan pramuwisata tak berlisensi.

"Biro perjalanan wisata kecenderungan lebih suka menggunakan orang yang baru walaupun non lisensi agar mudah diatur dan patuh pada pimpinan," ucap Subaya.

Subaya menyebut pemandu semacam itu dapat mempengaruhi citra pariwisata Bali karena pramuwisata yang "liar" atau tak berlisensi tidak dibekali dengan penguasaan terhadap nilai-nilai budaya pada setiap atraksi wisata di Pulau Dewata.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon