Kontras Kecam Kekerasan Oknum TNI-AU
Selasa, 16 Oktober 2012 | 23:20 WIB
Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS) mengecam tindakan kekerasan oknum TNI Angkatan Udara terhadap sejumlah jurnalis saat meliput jatuhnya pesawat Hawk-200 milik TNI AU di Pekanbaru, Riau.
"Tindakan ini menunjukan bahwa ada ancaman terhadap kebebasan pers untuk mendapatkan informasi di lapangan," kata Ketua Badan Pekerja KontraS, Haris Azhar, menanggapi aksi kekerasan tersebut, di Jakarta, Selasa (16/10) malam.
Selain itu, tindakan tersebut menunjukkan masih ada praktek kekerasan yang dilakukan oleh anggota militer.
Haris menilai, situasi itu menandakan bahwa reformasi TNI masih tidak bermakna bagi hak asasi dan kebebasan yang fundamental di Indonesia dan menandakan bahwa klaim-klaim penghukuman melalui peradilan militer masih tidak mampu memberikan koreksi yang signifikan untuk meminimalisir kekerasan oleh oknum anggota TNI.
Apalagi, kekerasan tersebut dilakukan di hadapan masyarakat, bahkan di hadapan anak-anak. Mereka (oknum TNI) memberikan contoh dan mempertontonkan hal yang buruk.
Insiden itu akan terus terjadi bila polisi tidak berani bertindak melakukan penegakan hukum yang baik kepada TNI, mekanisme internal TNI hanya teaterikal dan Kementerian Pertahanan (Kemhan) juga sibuk membangun citra melalui alat utama sistem senjata (alutsista) saja tanpa membangun jati diri TNI yang profesional, humanis dan demokratis.
"Tidak ada upaya serius mengawal koreksi untuk TNI yang melakukan kekerasan dan mewarisi tindakan brutal dimasa lalu. Alih-alih tetap ngotot untuk memiliki Undang-Undang Keamanan Nasional (Kamnas). Lalu bagaimana masa depan implementasi Kamnas jika tidak dimbangi dengan prilaku yang baik?," tegas Haris.
Selain melakukan tindakan kekerasan terhadap wartawan, sejumlah oknum TNI AU juga telah merampas empat kamera foto dan video milik beberapa wartawan, selain sejumlah ponsel milik warga yang mencoba mengabadikan Superhawk-200 yang jatuh di Riau, Selasa.
Pesawat tempur taktis Hawk-200 milik TNI Angkatan Udara (AU) jatuh di sekitar permukiman warga RT 03, RW 03, Dusun 03, Desa Pandau Jaya, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar, Riau, sekitar pukul 09.47 WIB.
Empat kamera foto dan video yang dirampas oknum TNI masing-masing Canon EOS 7D milik pewarta foto Riaupos Didik Hermanto, Nikon D300s milik pewarta Kantor Berita ANTARA Riau FB Anggoro.
Selanjutnya adapula dua kamera video jenis handycam, dan Panasonic MD9000 milik pewarta yang bertugas di Media Riau Televisi.
"Tindakan ini menunjukan bahwa ada ancaman terhadap kebebasan pers untuk mendapatkan informasi di lapangan," kata Ketua Badan Pekerja KontraS, Haris Azhar, menanggapi aksi kekerasan tersebut, di Jakarta, Selasa (16/10) malam.
Selain itu, tindakan tersebut menunjukkan masih ada praktek kekerasan yang dilakukan oleh anggota militer.
Haris menilai, situasi itu menandakan bahwa reformasi TNI masih tidak bermakna bagi hak asasi dan kebebasan yang fundamental di Indonesia dan menandakan bahwa klaim-klaim penghukuman melalui peradilan militer masih tidak mampu memberikan koreksi yang signifikan untuk meminimalisir kekerasan oleh oknum anggota TNI.
Apalagi, kekerasan tersebut dilakukan di hadapan masyarakat, bahkan di hadapan anak-anak. Mereka (oknum TNI) memberikan contoh dan mempertontonkan hal yang buruk.
Insiden itu akan terus terjadi bila polisi tidak berani bertindak melakukan penegakan hukum yang baik kepada TNI, mekanisme internal TNI hanya teaterikal dan Kementerian Pertahanan (Kemhan) juga sibuk membangun citra melalui alat utama sistem senjata (alutsista) saja tanpa membangun jati diri TNI yang profesional, humanis dan demokratis.
"Tidak ada upaya serius mengawal koreksi untuk TNI yang melakukan kekerasan dan mewarisi tindakan brutal dimasa lalu. Alih-alih tetap ngotot untuk memiliki Undang-Undang Keamanan Nasional (Kamnas). Lalu bagaimana masa depan implementasi Kamnas jika tidak dimbangi dengan prilaku yang baik?," tegas Haris.
Selain melakukan tindakan kekerasan terhadap wartawan, sejumlah oknum TNI AU juga telah merampas empat kamera foto dan video milik beberapa wartawan, selain sejumlah ponsel milik warga yang mencoba mengabadikan Superhawk-200 yang jatuh di Riau, Selasa.
Pesawat tempur taktis Hawk-200 milik TNI Angkatan Udara (AU) jatuh di sekitar permukiman warga RT 03, RW 03, Dusun 03, Desa Pandau Jaya, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar, Riau, sekitar pukul 09.47 WIB.
Empat kamera foto dan video yang dirampas oknum TNI masing-masing Canon EOS 7D milik pewarta foto Riaupos Didik Hermanto, Nikon D300s milik pewarta Kantor Berita ANTARA Riau FB Anggoro.
Selanjutnya adapula dua kamera video jenis handycam, dan Panasonic MD9000 milik pewarta yang bertugas di Media Riau Televisi.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
INFOGRAFIK
ARTIKEL TERPOPULER
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




