Mengaku Baru Keluar Penjara, Modus Penodong di Angkot
Selasa, 1 Januari 2013 | 16:22 WIB
Dalam aksinya di dalam angkot, mereka hanya berorasi untuk mengintimidasi para penumpang.
Mukti Ginanjar (19) dan M. Irawan (22), dua tersangka pelaku penodongan di angkot M-06A jurusan Kampung Melayu-Gandaria, ternyata bukanlah berprofesi sebagai pengamen. Setelah ditangkap dan dilakukan pemeriksaan, keduanya hanyalah seorang tuna karya.
Dalam aksinya di dalam angkot, mereka hanya berorasi untuk mengintimidasi para penumpang. Untuk membuat korban merasa takut, keduanya mengaku baru keluar dari penjara, dan memilih meminta uang kepada penumpang ketimbang melakukan tindak pidana lagi.
"Mereka tidak pakai alat musik. Modusnya hanya orasi untuk mencari simpati, kalau mereka baru keluar dari penjara dan meminta sesuap nasi," kata Kapolres Jakarta Timur, Kombes (Pol) Mulyadi, di Mapolres Jakarta Timur, Selasa (1/1).
Mulyadi mengungkapkan, modus serupa bukan yang pertama diungkap. Dikatakan, mulanya tindakan semacam ini hanya termasuk tindak pidana ringan. Namun, tindakan tersebut berpotensi menjadi tindak pidana perampokan, terutama jika menilai para calon korban masih berusia remaja seperti korban Rifki Firmansyah (17), M. Abduloh Azam (16) dan Muhammad Marfaiz Nurajri (17).
"Kalau ada kesempatan, dan melihat calon korbannya masih remaja, mereka tidak segan untuk memeras dan merampok," lanjut Mulyadi.
Untuk menekan tindak pidana ini, Mulyadi mengatakan bahwa pihaknya terus memantau dan menjaring para tersangka. Pada pekan lalu misalnya, terjaring 113 anak jalanan melalui Operasi Cipta Kondisi. Dari jumlah tersebut, 45 anak jalanan yang tak memiliki identitas diserahkan ke Panti Bina Suku Dinas Sosial Jakarta Timur, Cipayung.
"Kami tidak bisa bergerak sendirian. Perlu ada kerja sama dengan instansi lain," kata Mulyadi.
Dikatakan Mulyadi, salah seorang tersangka bernama Mukti mengaku, perampokan dilakukan karena tidak ada penumpang yang memberi uang yang akan digunakan untuk membeli makan. "Duitnya mau dipakai buat makan saja," katanya mengutip tersangka.
Selain menangkap kedua pelaku penodongan di angkot M-06A, pihak kepolisian juga menangkap Ricky Maulana alias Moti (22), serta Faisal Muchlis alias Codot (20). Keduanya, dengan modus yang mirip dengan Mukti dan Irawan, beroperasi di Metromini T03 jurusan Rawamangun-Senen.
Aksi Ricky dan Faisal terendus setelah salah seorang korban bernama Farhan melapor pada 28 Desember 2012. Peristiwa yang menimpa Farhan itu sendiri terjadi pada Jumat (14/12) lalu.
"Setelah kedua pelaku tak mendapatkan apa-apa, mereka mengikuti korban yang turun di Jalan Pemuda, Rawamangun, depan UNJ. Sesampainya di tempat itu, mereka mengancam korban untuk menyerahkan handphone jenis Nokia C3," tutur Mulyadi.
Dikatakan Mulyadi lagi, Mukti mengaku sudah dua tahun menjalani profesi "pengamen orasi" ini. Sebelumnya, selama tiga tahun, dia mengaku sempat mengamen dengan menggunakan alat musik.
"Latihan menghafal lirik ini sekali jalan saja. Kami mabok dulu biar pede," ungkapnya, seperti dikutip Mulyadi.
Mukti Ginanjar (19) dan M. Irawan (22), dua tersangka pelaku penodongan di angkot M-06A jurusan Kampung Melayu-Gandaria, ternyata bukanlah berprofesi sebagai pengamen. Setelah ditangkap dan dilakukan pemeriksaan, keduanya hanyalah seorang tuna karya.
Dalam aksinya di dalam angkot, mereka hanya berorasi untuk mengintimidasi para penumpang. Untuk membuat korban merasa takut, keduanya mengaku baru keluar dari penjara, dan memilih meminta uang kepada penumpang ketimbang melakukan tindak pidana lagi.
"Mereka tidak pakai alat musik. Modusnya hanya orasi untuk mencari simpati, kalau mereka baru keluar dari penjara dan meminta sesuap nasi," kata Kapolres Jakarta Timur, Kombes (Pol) Mulyadi, di Mapolres Jakarta Timur, Selasa (1/1).
Mulyadi mengungkapkan, modus serupa bukan yang pertama diungkap. Dikatakan, mulanya tindakan semacam ini hanya termasuk tindak pidana ringan. Namun, tindakan tersebut berpotensi menjadi tindak pidana perampokan, terutama jika menilai para calon korban masih berusia remaja seperti korban Rifki Firmansyah (17), M. Abduloh Azam (16) dan Muhammad Marfaiz Nurajri (17).
"Kalau ada kesempatan, dan melihat calon korbannya masih remaja, mereka tidak segan untuk memeras dan merampok," lanjut Mulyadi.
Untuk menekan tindak pidana ini, Mulyadi mengatakan bahwa pihaknya terus memantau dan menjaring para tersangka. Pada pekan lalu misalnya, terjaring 113 anak jalanan melalui Operasi Cipta Kondisi. Dari jumlah tersebut, 45 anak jalanan yang tak memiliki identitas diserahkan ke Panti Bina Suku Dinas Sosial Jakarta Timur, Cipayung.
"Kami tidak bisa bergerak sendirian. Perlu ada kerja sama dengan instansi lain," kata Mulyadi.
Dikatakan Mulyadi, salah seorang tersangka bernama Mukti mengaku, perampokan dilakukan karena tidak ada penumpang yang memberi uang yang akan digunakan untuk membeli makan. "Duitnya mau dipakai buat makan saja," katanya mengutip tersangka.
Selain menangkap kedua pelaku penodongan di angkot M-06A, pihak kepolisian juga menangkap Ricky Maulana alias Moti (22), serta Faisal Muchlis alias Codot (20). Keduanya, dengan modus yang mirip dengan Mukti dan Irawan, beroperasi di Metromini T03 jurusan Rawamangun-Senen.
Aksi Ricky dan Faisal terendus setelah salah seorang korban bernama Farhan melapor pada 28 Desember 2012. Peristiwa yang menimpa Farhan itu sendiri terjadi pada Jumat (14/12) lalu.
"Setelah kedua pelaku tak mendapatkan apa-apa, mereka mengikuti korban yang turun di Jalan Pemuda, Rawamangun, depan UNJ. Sesampainya di tempat itu, mereka mengancam korban untuk menyerahkan handphone jenis Nokia C3," tutur Mulyadi.
Dikatakan Mulyadi lagi, Mukti mengaku sudah dua tahun menjalani profesi "pengamen orasi" ini. Sebelumnya, selama tiga tahun, dia mengaku sempat mengamen dengan menggunakan alat musik.
"Latihan menghafal lirik ini sekali jalan saja. Kami mabok dulu biar pede," ungkapnya, seperti dikutip Mulyadi.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
INFOGRAFIK
ARTIKEL TERPOPULER
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




