Obama Usulkan Pembatasan Kepemilikan Senjata
Kamis, 17 Januari 2013 | 02:59 WIB
Termasuk larangan kepemilikan senjata serbu tipe militer, yang sudah tidak berlaku lagi sejak 2004.
President Amerika Serikat Barack Obama mengusulkan pembatasan baru kepemilikan senjata serbu (assault weapon) dan kewajiban pemeriksaan latar belakang setiap pembeli senjata Rabu (16/1) waktu setempat (Kamis WIB) dalam upayanya mendesakkan kontrol kepemilikan senjata paling ketat dalam beberapa dekade terakhir.
Langkah ini merupakan reaksi dari pembunuhan murid-murid sebuah sekolah dasar di Newton.
Usulan aksi pembatasan senjata untuk dilaksanakan oleh eksekutif dan legislatif ini akan memicu konflik sengit dengan kelompok pelobi kepemilikan senjata yang kuat bersama para pendukung mereka di Kongres, dan mereka dipastikan akan mempertahankan apa yang mereka sebut sebagai hak memiliki senjata yang dilindungi oleh konstitusi.
Obama menyampaikan usulan tersebut di Gedung Putih dalam sebuah acara yang dihadiri oleh sebagian kerabat dari 20 murid kelas satu sekolah dasar, yang terbunuh bersama enam orang dewasa lainnya oleh seorang pria bersenjata pada 14 Desember 2012 di SD Sandy Hook di Newtown, Connecticut.
"Kita tak boleh membiarkan hal seperti ini lagi," kata Obama, sembari berjanji akan melakukan apapun yang diperlukan untuk mewujudkan proposalnya.
"Kongres harus bertindak segera," tegasnya.
Sampai sekarang, Obama tak banyak bertindak dalam soal budaya kepemilikan senjata di Amerika dalam masa jabatan empat tahun pertamanya. Namun beberapa hari sebelum pelantikannya yang kedua, tampaknya dia bertekad untuk melakukan kontrol kepemilikan senjata dengan mengusulkan undang-undang yang lebih ketat dan cara-cara lain guna mencegah terulangnya tragedi Newton.
Usulan ini didahului oleh peninjauan selama satu bulan penuh yang dipimpin oleh Wakil Presiden Joe Biden, yang dengan perintah dari Obama telah bertemu dengan kedua belah pihak yang bertentangan soal kontrol senjata ini, termasuk perwakilan dari industri senjata dan hiburan.
Usulan Obama juga mendesak Kongres untuk memperbaharui larangan penjualan senjata serbu yang sudah kadaluarsa pada 2004, persayaratan pemeriksaan catatan kriminal pada semua pembeli senjata, dan undang-undang baru tentang perdagangan senjata antar negara bagian – yang sudah lama ditunggu para walikota di kota-kota besar untuk mencegah peredaran senjata yang berasal dari luar negara bagian mereka.
Presiden juga mengumumkan 23 langkah yang akan direalisasikannya segera tanpa perlu menunggu persetujuan Kongres. Langkah-langkah ini termasuk perbaikan sistem pemeriksaan catatan kriminal pembeli senjata, membatalkan larangan atas penelitian pemerintah federal terhadap tindak kekerasan bersenjata, menambah jumlah guru pembimbing di sekolah, dan akses yang lebih mudah pada jasa layanan kesehatan mental.
Konflik Kepemilikan Senjata Serbu
Yang paling sulit dari paket kebijakan Obama ini adalah pembaharuan larangan senjata serbu tipe militer, karena diperkirakan akan ditentang oleh kubu Partai Republik yang sekarang menguasai DPR.
Pembunuh di Newton, Adam Lanza yang baru berusia 20 tahun, menggunakan senapan serbu jenis Bushmaster AR-15 untuk menembaki korbannya sebelum bunuh diri.
Semakin menambah panas perdebatan ini, Asosiasi Senapan Nasional atau National Rifle Association (NRA) belum lama ini meluncurkan iklan kampanye melawan kebijakan anti-kepemilikan senjata Obama.
NRA, yang mengklaim punya sekitar 4 juta anggota, langsung membidik Obama di TV dan internet dengan menuduhnya sebagai “satu lagi munafik elit” karena membolehkan petugas Secret Service (atau Paspamres-nya AS) untuk melindungi dua putrinya di sekolah, namun menolak usulan kelompok pelobi agar satpam bersenjata ditempatkan di sekolah-sekolah.
Ketika mengumumkan usulannya itu, Obama juga membacakan surat dari anak-anak yang menulis tentang kekerasan bersenjata dan keselamatan di sekolah.
"Kita harus menarik pelajaran dari apa yang terjadi di Sandy Hook. Aku merasa sangat buruk," tulis seorang anak laki-laki yang dibacakan langsung oleh Obama, di antara banyak surat lainnya.
President Amerika Serikat Barack Obama mengusulkan pembatasan baru kepemilikan senjata serbu (assault weapon) dan kewajiban pemeriksaan latar belakang setiap pembeli senjata Rabu (16/1) waktu setempat (Kamis WIB) dalam upayanya mendesakkan kontrol kepemilikan senjata paling ketat dalam beberapa dekade terakhir.
Langkah ini merupakan reaksi dari pembunuhan murid-murid sebuah sekolah dasar di Newton.
Usulan aksi pembatasan senjata untuk dilaksanakan oleh eksekutif dan legislatif ini akan memicu konflik sengit dengan kelompok pelobi kepemilikan senjata yang kuat bersama para pendukung mereka di Kongres, dan mereka dipastikan akan mempertahankan apa yang mereka sebut sebagai hak memiliki senjata yang dilindungi oleh konstitusi.
Obama menyampaikan usulan tersebut di Gedung Putih dalam sebuah acara yang dihadiri oleh sebagian kerabat dari 20 murid kelas satu sekolah dasar, yang terbunuh bersama enam orang dewasa lainnya oleh seorang pria bersenjata pada 14 Desember 2012 di SD Sandy Hook di Newtown, Connecticut.
"Kita tak boleh membiarkan hal seperti ini lagi," kata Obama, sembari berjanji akan melakukan apapun yang diperlukan untuk mewujudkan proposalnya.
"Kongres harus bertindak segera," tegasnya.
Sampai sekarang, Obama tak banyak bertindak dalam soal budaya kepemilikan senjata di Amerika dalam masa jabatan empat tahun pertamanya. Namun beberapa hari sebelum pelantikannya yang kedua, tampaknya dia bertekad untuk melakukan kontrol kepemilikan senjata dengan mengusulkan undang-undang yang lebih ketat dan cara-cara lain guna mencegah terulangnya tragedi Newton.
Usulan ini didahului oleh peninjauan selama satu bulan penuh yang dipimpin oleh Wakil Presiden Joe Biden, yang dengan perintah dari Obama telah bertemu dengan kedua belah pihak yang bertentangan soal kontrol senjata ini, termasuk perwakilan dari industri senjata dan hiburan.
Usulan Obama juga mendesak Kongres untuk memperbaharui larangan penjualan senjata serbu yang sudah kadaluarsa pada 2004, persayaratan pemeriksaan catatan kriminal pada semua pembeli senjata, dan undang-undang baru tentang perdagangan senjata antar negara bagian – yang sudah lama ditunggu para walikota di kota-kota besar untuk mencegah peredaran senjata yang berasal dari luar negara bagian mereka.
Presiden juga mengumumkan 23 langkah yang akan direalisasikannya segera tanpa perlu menunggu persetujuan Kongres. Langkah-langkah ini termasuk perbaikan sistem pemeriksaan catatan kriminal pembeli senjata, membatalkan larangan atas penelitian pemerintah federal terhadap tindak kekerasan bersenjata, menambah jumlah guru pembimbing di sekolah, dan akses yang lebih mudah pada jasa layanan kesehatan mental.
Konflik Kepemilikan Senjata Serbu
Yang paling sulit dari paket kebijakan Obama ini adalah pembaharuan larangan senjata serbu tipe militer, karena diperkirakan akan ditentang oleh kubu Partai Republik yang sekarang menguasai DPR.
Pembunuh di Newton, Adam Lanza yang baru berusia 20 tahun, menggunakan senapan serbu jenis Bushmaster AR-15 untuk menembaki korbannya sebelum bunuh diri.
Semakin menambah panas perdebatan ini, Asosiasi Senapan Nasional atau National Rifle Association (NRA) belum lama ini meluncurkan iklan kampanye melawan kebijakan anti-kepemilikan senjata Obama.
NRA, yang mengklaim punya sekitar 4 juta anggota, langsung membidik Obama di TV dan internet dengan menuduhnya sebagai “satu lagi munafik elit” karena membolehkan petugas Secret Service (atau Paspamres-nya AS) untuk melindungi dua putrinya di sekolah, namun menolak usulan kelompok pelobi agar satpam bersenjata ditempatkan di sekolah-sekolah.
Ketika mengumumkan usulannya itu, Obama juga membacakan surat dari anak-anak yang menulis tentang kekerasan bersenjata dan keselamatan di sekolah.
"Kita harus menarik pelajaran dari apa yang terjadi di Sandy Hook. Aku merasa sangat buruk," tulis seorang anak laki-laki yang dibacakan langsung oleh Obama, di antara banyak surat lainnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
INFOGRAFIK
ARTIKEL TERPOPULER
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




