Musim Semi di Leipzig
Mantan wartawan.
Minggu, 6 Mei 2012 | 12:30 WIB"Udara sore ini bagus untuk jalan kaki," kata pemandu wisata Gitta Perl, seorang penduduk Leipzig, yang sudah menjalani profesinya selama 28 tahun. Lima belas wartawan baru tiba dari berbagai penjuru dunia. Selandia Baru, Australia, Indonesia, Jepang, China, Afrika Selatan, Mexico, Argentina, Brazil, Kanada, sebagian besar menempuh penerbangan hampir 20 jam, agak terperangah.
Tujuan kami datang ke sini sebenarnya bukan untuk liputan jalan-jalan melihat kota, namun bertemu dan melihat bagaimana para pemilik modal dan kuasa, mengelola bisnis transportasi dunia. Rasanya, kepala masih agak kleyengan, setelah menempuh penerbangan dari Jakarta-Singapura-Helsinki-Berlin, disambung dengan kereta api cepat dari Berlin ke Leipzig, tapi saya pikir boleh juga saran Ibu Gitta ini.
Setelah menyimpan koper di kamar hotel, cuci muka dan ganti baju, saya siap untuk menghalau jetlag ini. Suhu udara 20 derajat Celcius, sinar matahari sore yang lembut menyiram pohon yang kembali berdaun hijau, dan bunga-bunga yang baru mekar menyebarkan harum, Leipzig menampilkan wajah terbaiknya.
Kota yang penduduknya kurang lebih setengah juta orang itu memiliki aura bekas wilayah komunis, yang bergerak cepat mengejar ketertinggalan dari sudaranya di barat Jerman.
Leipzig berada di persimpangan.
Sebelah utara kota adalah jalur menuju Krakow, Polandia dan Eropa Timur, sebelah selatan adalah jalan menuju Spanyol dan Italia. Berbeda dengan kota-kota Jerman lainnya yang nyaris hancur saat perang dunia kedua, Leipzig hanya mengalami kerusakan sekitar 25 persen saja. Sebagian besar bangunan gaya barok dan gotik yang usianya ratusan tahun, selamat.
Era komunis mengusamkan bagunan-bangunan itu, namun dengan cepat dipoles kembali setelah Jerman bersatu. Termasuk mendirikan gedung baru yang jelek dan tidak matching dengan yang sebelahnya. Untungnya bangunan baru yang jelek itu banyak yang tidak laku. Pemerintah kota menghancurkannya, lalu membangunnya kembali untuk pertokoan dan apartemen.
Masih tetap kurang laku juga.
"Ada sekitar 28 ribu apartemen yang kosong di kota ini," kata Ibu Gitta.
Walaupun harganya sudah diturunkan, dan cukup murah untuk standar Eropa, yakni lima euro per meter persegi. Atau kalau dihitung dalam rupiah, harga sewa untuk apartemen studio berukuran 36 meter persegi, sekitar dua juta rupiah per bulannya. Untuk ukuran Jakarta sekali pun, masih tergolong ringan.
Tapi kalaupun saya menetap di Leipzig ini, tidak akan pernah tinggal di apartemen tengah kota itu. Rumah-rumah di desa sekitar Leipzig, menghadap danau dan kebun bunga, jauh lebih menarik.
Luas wilayah Leipzig sekitar 300 kilometer persegi, sepertiganya adalah lahan pertanian, sepertiganya adalah hutan.
Sebagai bekas negara sosialis, Leipzig memiliki jaringan transportasi publik yang baik. Kereta api, trem, dan bus mampu mengangkut seratus persen penduduk, meski mereka ternyata lebih menyukai mengayuh sepeda.
Alhasil, saat ini, bus, tram dan kereta menyediakan tempat khusus untuk mengangkut penumpang beserta sepedanya.
Dengan transportasi seperti ini, kenapa pula harus tinggal di apartemen kota, yang jelek itu.
Revolusi Lilin
Meskipun terasa senyap, Leipzig memiliki perang penting dalam perubahan di Jerman. Bermula dari kebaktian setiap Senin sore di Nikolaikirche atau gereja St Nicholas, bangunan bergaya Gotik didirikan oleh rahib Katolik pada tahun 1555. Gereja ini kemudian menjadi milik kaum protestan, namun tidak laku semasa era komunis.
Namun kebaktian setiap Senin tetap diadakan dan kemudian berkembang menjadi ajang rakyat menunjukkan kehendaknya.
Pemerintah semasa Jerman Timur sudah menyadari bibit-bibit pergerakan bersemi di kebaktian Seninan itu. Menjelang peringatan usia Jerman Timur ke-40, pada 7 Oktober 1989, polisi menangkap jemaat dan memukulinya.
Jalan menuju St. Nicholas ditutup dan dijaga ketat. Namun Senin berikutnya, puluhan ribu orang duduk di jalanan. Jemaah cum pengunjuk rasa tidak melemparkan batu, mereka menyalakan lilin.
Satu tangan memegang lilin, tangan lainnnya melindungi dari tiupan angin sore yang dingin. Tidak ada alasan bagi polisi untuk memukuli mereka.
Pendeta membaca khotbah di halaman gereja. Konduktor Kurt Masur dan Gewandhaus Orchestra memainkan musik, menemani rakyat yang menyatakan keinginannya dalam sunyi. Revolusi ini tidak bisa dihalangi, justru menjalar ke seluruh negeri. Sebulan kemudian Tembok Berlin yang memisahkan kedua Jerman, diruntuhkan pada tanggal 9 November 1989. Dengan demikian berakhirlah era Perang Dingin di dunia. Musik Leipzig juga tidak bisa dipisahkan dari musik dan para pemikir dunia. Di sinilah tempat Johan Sebastian Bach dan Felix Mendelssohn Bartholdy produktif menghasilkan komposisi musik abadi. Di sini pulalah Johann Wolfang von Goethe menciptakan figur Faust. Demikian Gottfield Wilhelm Leibniz, Federich Nietzsche menciptakan filosofi sosialis dan humanis.
Bahkan Kanselir Jerman saat ini, Angela Merkel kuliah di jurusan Fisika di Universitas Leipzig. Jejak mereka terasa kental di pusat kota yang diciptakan untuk pejalan kaki ini. Ibu Gitta, pemandu kami yang saya taksir usianya diatas 60 tahun, menunjukkan tempat-tempat para tokoh itu melahirkan karya dan pemikiran hebat. Tempat itu bukan perpustakaan senyap dan angkuh, bukan pula laboratorium.
Tempat itu adalah kafe
Kafe Baum adalah yang tertua di Eropa, beroperasi tanpa henti sejak tahun 1711. Ada pula tempat nongkrong favorit Bach, yakni Kandler, yang kini seolah-olah seperti tempat wajib kunjung pencinta musik. Kandler menghadap ke pelataran gereja St Thomas, tempat patung Bach berdiri dengan gagah. Namun jika diamati dengan saksama, patung itu sebenarnya menampilkan sosok bangkrut dan gundah.
Johann Sebastian Bach memiliki dua istri dan 20 anak. Dia sulit mendapat pekerjaan, bahkan ketika direktur musik kota Leipzig kosong pada tahun 1723, Bach bukanlah pilihan utama dewan kota. Namun itulah yang membuat Bach semangat membuat komposisi dan 'ngamen di pelataran. Saya bisa paham mengapa kantung-kantung celana pakaian Bach, keluar semuanya, dan dia menggenggam gulungan kertas yang tidak sempurna.
Tur jalan kaki keliling kota ini sudah pas dua jam, seperti argonya Ibu Gitta. Di pelataran lega yang dikitari kantor pos dan gedung konser, kami berpisah. Waktu menunjukkan pulul enam sore, dan masih terang benderang. Saya memilih sebuah kursi di sebuah kafe yang mungkin juga pernah di tongkrongi Goethe.
Saya tidak memikirkan dunia, apalagi komposisi musik. Saya hanya memandang bunga-bunga, daun hijau, burung gagak, dan anak-anak berlarian, sesekali trem lewat dan dentang lonceng di gereja peninggalan abad ke-17.
Saya memikirkan pulang.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




