Ketua Asprov PSSI DIY Akui Peran KPSN dalam Reformasi PSSI
Minggu, 3 Maret 2019 | 14:05 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Reformasi di tubuh PSSI terus bergulir. Satgas Antimafia bola yang dibentuk Mabes Polri terus mengusut tuntas kasus match fixing atau pengaturan skor dengan melakukan penangkapan. Terbongkarnya skandal ini tidak lepas dari peran Komite Perubahan Sepakbola Nasional (KPSN).
Ketua Asosiasi Provinsi (Asprov) Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Bambang Kuncoro menilai peran KPSN dalam reformasi PSSI sangat konkret.
"KPSN bukan sekadar berwacana, melainkan berperan sangat konkret dalam reformasi PSSI yang tengah berjalan," ujarnya, Minggu (3/3/2019).
KPSN yang diketuai Suhendra Hadikuntono merupakan inisiator pemberantasan match fixing dengan menggandeng Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri sehingga terbitlah Sprin/4876/X/2018/Bareskrim tertanggal 29 Oktober 2018. Kemudian Kapolri Jenderal Tito Karnavian pun membentuk Satgas Antimafia Bola pada 21 Desember 2018. Satgas kemudian melakukan penangkapan-penangkapan terhadap para tersangka match fixing, dan sementara ini sudah 16 orang yang ditetapkan sebagai tersangka.
"Itu semua tak lepas dari peran KPSN yang selalu memberikan masukan kepada Polri, termasuk data para tersangka match fixing, bahkan sebelum Satgas Antimafia Bola dibentuk," akui Bambang Kuncoro.
Penetapan para tersangka pengaturan skor itulah yang menurut Bambang Kuncoro memicu gelombang reformasi di tubuh PSSI, termasuk mundurnya Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi dalam Kongres PSSI di Bali, 20 Januari 2019, dan kemudian digantikan Wakil Ketua Umum PSSI Joko Driyono selaku Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum PSSI.
Setelah Joko Driyono ditetapkan sebagai tersangka, kata Bakun, reformasi PSSI berlanjut ke Kongres Luar Biasa (KLB) yang secara bulat diputuskan Komite Eksekutif PSSI pada Selasa (19/2/2019) setelah Joko Driyono mengundurkan diri.
"Itu semua tentu tak lepas dari peran konkret KPSN. Selama ini aroma pengaturan skor hanya bisa dicium tapi tak bisa dibuktikan," cetus Bambang Kuncoro.
Dia berharap KPSN terus mengawal reformasi PSSI sampai kemudian KLB benar-benar digelar dan terpilih sosok-sosok pengurus PSSI yang benar-benar bersih, berintegritas dan profesional, sehingga prestasi sepakbola nasional akan mampu unjuk gigi di tingkat internasional.
"Terbukti setelah oknum-oknum PSSI berurusan dengan Satgas, Timnas Indonesia U-22 langsung juara Piala AFF 2019," tukasnya dengan nada bercanda.
Terkait KLB PSSI, Bakun bahkan mengaku dua-tiga hari lalu sudah berkonsolidasi dengan para voters (pemilik hak suara) lainnya agar KLB digelar sesegera mungkin, sebelum Pemilihan Presiden 2019 digelar pada 17 April mendatang. "KLB makin cepat makin baik agar tak mengganggu agenda pemilu," tandas Bambang Kuncoro
Dihubungi terpisah, Koordinator Save Our Soccer (SOS) Akmal Marhali mendesak agar reformasi di tubuh PSSI tidak dilakukan setengah hati. "Dalam KLB nanti, orang-orang lama jangan dipilih lagi. Reformasi di PSSI harus dilakukan secara total. Kalau perlu potong satu generasi. PSSI jangan cuma ganti cashing," ujarnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Kapolda Metro Jaya Bintang 3 Sesuai Arahan Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Seusai Divonis 18 Tahun, Nadiem Makarim Didukung Artis-Influencer




