KPSN: Adanya "Korban" dalam Revolusi di PSSI Adalah Konsekuensi Perjuangan

Sabtu, 23 Maret 2019 | 21:56 WIB
IC
IC
Penulis: Iman Rahman Cahyadi | Editor: CAH
Ketua KPSN Suhendra Hadikuntono.
Ketua KPSN Suhendra Hadikuntono. (istimewa)

Jakarta, Beritasatu.com - Ketua Komite Perubahan Sepakbola Nasional (KPSN) Suhendra Hadikuntono menegaskan organisasi yang dipimpinnya itu didirikan untuk melakukan perubahan terhadap PSSI ke arah yang lebih baik. PSSI diharapkan KPSN mampu kembali ke khittah-nya pada 19 April 1930 di Yogyakarta, yakni sebagai alat perjuangan dan pemersatu bangsa serta sarana menyejajarkan diri dengan bangsa-bangsa lain yang lebih maju melalui prestasi sepakbola nasional.

Untuk itu KPSN juga mendukung penuh langkah pemberantasan pengaturan skor.

Hal itu ditegaskan Suhendra Hadikuntono menampik tudingan kalau KPSN didirikan untuk melengserkan Edy Rahmayadi sebagai ketua Umum PSSI ketika itu.

"KPSN didirikan atas dasar rasa keprihatinan yang mendalam atas prestasi sepakbola nasional yang tidak mampu bersaing baik di tingkat regional maupun dunia, dan salah satu penyebabnya adalah maraknya pengaturan skor," ujar Suhendra Hadikuntono, Sabtu (23/3/2019). 

"Bahwa dalam perjuangan ke arah PSSI yang lebih baik itu ada pihak-pihak yang menjadi korban, misalnya Ketua Umum mundur atau Plt Ketua Umum menjadi tersangka, itu konsekuensi perjuangan. Revolusi kadang-kadang memang menelan anak kandungnya sendiri," tambah Suhendra Hadikuntono.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon