Harga Minyakita Naik, Warga & Pedagang Gorengan Menjerit
Jumat, 3 Februari 2023 | 10:54 WIB
Tangerang, Beritasatu.com - Minyak goreng (migor) bersubsidi dengan merek Minyakita yang diinisiasi Kementerian Perdagangan (Kemendag) langka di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Tangerang, Banten, Jumat (3/2/23) pagi. Akibatnya harga menjulang sehingga membuat warga dan pedagang gorengan menjerit.
Pedagang di pasar tradisional Gudang Tigaraksa, Sukandi mengaku sudah 2 pekan terakhir tidak menjual Minyakita lantaran tidak mendapatkan pasokan dari distributor. Dia sudah mengajukan pemesanan, tetapi distributor belum mengirimkan. Saat ini dia hanya bisa menjual minyak curah dan minyak kemasan dengan merek lain.
"Saya sudah nggak jual Minyakita, karena kalau pesan barang, semua agen dan distributor bilangnya nggak ada, gimana kita. Dari distributornya juga kosong, ke mana itu, saya juga bingung,"ujar Sukandi
Sebelum menghilang di pasaran, Sukandi pernah mendapatkan pasokan Minyakita 10 karton per pekan dan biasanya habis dalam 4-5 hari karena Minyakita diminati masyarakat.
"1 karton isinya 12 pcs, paling saya dapatnya 10 karton, itupun barangnya susah. Di pasar ini Minyakita laku keras, karena barangnya nggak ada, orang beralih ke minyak lain. Tukang gorengan, tukang nasipecel lele dia membeli Minyakita karena harga terjangkau," kata Sukandi.
Kepala Pasar Gudang Tigaraksa Indah nurwulan menjelaskan, kelangkaan Minyakita sudah terjadi sejak 2 pekan terakhir. "Kosong pak di pasar Gudang, ada satu pedagang, itu juga dapat satu dus dan harganya di atas HET (harga eceran tertinggi) mencapai Rp 16.000, bahkan kemarin pedagang ada yang jual Rp 17.000," ucapnya.
Selain Minyakita, stok minyak goreng curah di Pasar Gudang Tigaraksa juga sudah tidak aman. Harga minyak goreng curah pun kini naik dari sebelumnya Rp 14.000 menjadi Rp 15.000 per kilogram.
"Untuk harga minyak curah di Pasar Gudang Tigaraksa sudah mencapai Rp 15.000, normalnya kan Rp 14.000 jadi sudah ada kenaikan. Stoknya juga kurang, sedikit, karena dapat dari distributornya juga dibatasi," kata salah seorang pedagang Indah Nurwulan.
Sementara salah satu warga Putri Retno terpaksa membeli minyak kemasan dengan merek lain yang harganya lebih mahal. "Minyakita nggak ada, kan ini minyak juga mulai naik, tapi saya tetap beli minyak kemasan. Harapannya harga minyak turun, harga sembako turun, itu harapannya kita sebagai ibu rumah tangga," imbuh Putri.
Hal yang sama dikeluhkan pedagang gorengan di Kawasan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Banten. Salah satunya Marni. Dia terpaksa membeli minyak curah yang harganya Rp 15.000 per kilogram. Namun agar biaya produksi tidak naik, Marni harus mengurangi pembelian minyak goreng curah.
"Pakai minyak curah, Minyakita sudah mulai jarang, harga minyak curah Rp 15.000, lebih mahal, sehari kadang butuh 7 kg, kadang 10 kg, sekarang 10 liter, bukan kilo, tapi liter, jadi dikurangi. Harga gorengan masih sama Rp 5.000 per empat buah. Harapannya minyak goreng jangan naik lagi," pungkasnya.
Pedagang berharap kepada pemerintah agar segera megambil tindakan sehingga pasokan minyak goreng subsidi di pasaran kembali tersedia dengan harga terjangkau.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
Kapolda Metro Jaya Bintang 3 Sesuai Arahan Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




