Pembiayaan BSI Tumbuh 20,15 Persen pada Kuartal I 2023
Jumat, 28 April 2023 | 06:45 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Bisnis pembiayaan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) atau BSI tumbuh 20,15% secara year on year (yoy) sampai kuartal I-2023. Perseroan juga berhasil menekan pembiayaan bermasalah, termasuk portofolio pembiayaan berisiko.
"Alhamdulillah pembiayaan BSI mampu tumbuh sehat dan sustain sebesar 20,15% (yoy) sehingga total pembiayaan pada Maret 2023 mencapai Rp 213,27 triliun," ujar Direktur Retail Banking BSI Ngatari, Kamis (27/4/2023).
Jika dirinci, pertumbuhan pembiayaan tersebut utamanya ditopang oleh pembiayaan konsumer dengan portofolio sebesar Rp 110,63 triliun atau meningkat 24,04% (yoy). Diikuti pembiayaan segmen corporate sebesar Rp 47,05 triliun atau tumbuh 19,56% (yoy).
Pembiayaan mikro dengan portofolio sebesar Rp 19,32 triliun, tumbuh 24,32% (yoy) pada kuartal I-2023. Menyusul gadai dan cicil emas mencapai Rp 6,29 triliun atau naik 32,79% (yoy). Pembiayaan card dengan portofolio Rp 586 miliar tercatat tumbuh 44,46% (yoy).
Sementara itu, pembiayaan untuk segmen commercial tumbuh single digit atau sebesar 8,58% (yoy) menjadi rp 11,12 triliun. Adapun pembiayaan segmen UKM turun 1,35% (yoy) menjadi Rp 18,28 triliun.
Fungsi intermediasi BSI yang tumbuh agresif itu mempertahankan financing to deposit ratio (FDR) di level 79,14%. Hal ini diiringi dengan kualitas pembiayaan yang terjaga baik, tercermin rasio non performing financing (NPF) gross dan net, masing-masing sebesar 2,36% dan 0,54% di kuartal I-2023. Posisi tersebut lebih baik dibandingkan periode sama tahun lalu, dimana NPF gross dan net masing-masing di level 2,91% dan 0,90%.
"InsyaAllah BSI terus menyalurkan pembiayaan secara sehat dan sustain. Pembiayaan BSI yang tumbuh sebesar 20,15% year on year memiliki kualitas yang terjaga melalui penerapan beberapa strategi," sambut Direktur Risk Management BSI Tiwul Widyastuti.
Strategi yang dimaksud meliputi, pertama, disiplin pertumbuhan pada fokus bisnis serta target pasar yang telah ditetapkan. Kedua, perbaikan proses bisnis dan fitur produk. Ketiga, disiplin dalam melakukan intensif monitoring, serta melakukan reviu secara periodik terhadap portfolio guideline.
Keempat, mengklasifikasikan kriteria industri hingga persetujuan kriteria. Kelima, peningkatan kapabilitas dan kompetensi SDM dalam proses pembiayaan.
Menurut Tiwul, realisasi strategi tersebut dapat tercermin dari pembiayaan baru yang disalurkan sampai Maret 2023 memiliki kualitas yang cukup baik. Seluruh pembiayaan wholesale tercatat memiliki kinerja baik dengan kolektibilitas 1. Sedangkan segmen ritel dan konsumer memiliki 98,73% di kolektibilitas 1.
Perkembangan kualitas pembiayaan BSI pun terus menunjukkan tren semakin membaik dan manageable. Hal tersebut dapat dilihat pada financing at risk (FaR) yang terus bergerak menurun. Secara year to date (ytd), FaR turun sekitar Rp 700 miliar.
"Sehingga FaR menurun dari 12,45% di Desember 2022 menjadi Rp 11,80% pada Maret 2023. Penurunan FaR tersebut terjadi di seluruh segmen, baik wholesale, ritel, maupun konsumer," ucap Tiwul.
Dia menuturkan, penurunan pembiayaan dalam kategori berisiko ini dapat dicapai dengan penerapan sejumlah strategi. Selain disiplin berdasarkan target pasar dan intensif monitoring, BSI turut melakukan restrukturisasi nasabah yang masih memiliki kemampuan bayar dan penguatan collection/recovery.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
Kapolda Metro Jaya Bintang 3 Sesuai Arahan Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




