ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Dubes AS Scot Marciel: RI Tujuan Investasi Paling Atraktif

Rabu, 15 Mei 2013 | 17:41 WIB
PD
B
Penulis: Primus Dorimulu | Editor: B1
Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Scot Marciel (kelima dari kiri).
Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Scot Marciel (kelima dari kiri). (Primus Dorimulu/ Beritasatu.com)

Jakarta - Indonesia masih menjadi tujuan investasi paling atraktif saat ini. Kalau pun terjadi sedikit penurunan tahun 2014, hal itu lebih disebabkan oleh sikap "wait and see" pemodal untuk melihat pemimpin baru Indonesia lima tahun akan datang.

"Investasi AS di Indonesia terus meningkat, baik perusahaan yang sudah ada maupun yang baru," kata Dubes Amerika Serikat untuk Indonesia Scot Marciel dalam diskusi dengan para pimpinan Kadin Indonesia, Rabu (15/5). Hadir pada kesempatan itu Ketua Umum Kadin Indonesia Suryo Bambang Sulisto dan sejumlah pengurus Kadin seperti Chris Kanter dan Peter F Gontha.

Dalam setahun terakhir, kata Scot, investasi AS ke Indonesia meningkat dan menempatkan Negeri Paman Sam itu pada peringkat ketiga negara yang berinvestasi langsung di Indonesia.

"Tahun lalu, investasi AS di Indonesia naik sekitar 30%," kata Scot.

ADVERTISEMENT

Pada pertemuan APEC yang akan digelar di Bali, Oktober 2013, Presiden AS Barack Obama dipastikan hadir. Scot mengatakan, Obama akan membawa banyak CEO, baik yang sudah maupun yang belum berinvestasi di Indonesia. APEC CEO Summit akan dilangsungkan 5-7 Oktober 2013 di Bali.

Selain otomotif - seperti yang telah ditunjukkan General Motor - AS juga meningkatkan investasi di bidang migas, keuangan, dan industri padat teknnologi. AS, kata Scot, tertarik berinvestasi di berbagai industri pengolahan di Indonesia. Industri pengolahan hasil produk pertanian dan produk perkebunan sangat prospektif di Indonesia.

Sejumlah pimpinan Kadin mempertanyakan sikap AS yang dianggap kurang fair dalam perdagangan, terutama dalam menyikapi sawit. Di Forum APEC, AS termasuk negara yang paling keras menolak CPO masuk produk ramah lingkungan. Akibatnya, ekspor CPO Indonesia tidak bisa mendapatkan insentif bea masuk di negara tujuan.

Merujuk pada hasil kajian Environmental Protection Agency (EPA), sebuah badan lingkungan AS, Scot mengatakan, CPO masih dinilai belum ramah lingkungan. Tapi, Indonesia masih berpeluang untuk membuktikan bahwa CPO sudah ramah lingkungan.

Sikap negara maju terhadap CPO dinilai pengusaha dan pengamat Indonesia sebagai sikap tidak adil negara maju, termasuk AS. Sikap itu merupakan upaya boikot terhadap produk yang menjadi primadona ekspor Indonesia.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon