Bosowa Bangun PLTU Jeneponto Tahap II
Pembangunan Pembangkit Listrik Dipermudah
Kamis, 19 Maret 2015 | 19:09 WIB
Makassar - Setelah mengoperasikan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) tahap I berkapasitas 250 Megawatt (MW), Bosowa Energi kembali memulai konstruksi (ground breaking) PLTU tahap II berkapasitas 2x125 MW di Jeneponto, Sulawesi Selatan. Dalam 26 bulan akan datang, PLTU tahap II di lokasi yang sama akan mencapai 500 MW.
CEO Bosowa Erwin Aksa mengatakan proyek Bosowa ini merupakan infrastruktur energi pertama yang terealisasi di era Kabinet Presiden Joko Widodo. Dia mengakui, partisipasi swasta dalam pembangunan pembangkit listrik kini dipermudah.
Peletakan batu pertama dan pemancangan tiang proyek tersebut dilakukan secara simbolis, Kamis (19/3), di lokasi PLTU Jeneponto, oleh Menteri Koordinator Maritim Indroyono Soesilo, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said, Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo, CEO Bosowa Erwin Aksa, dan Founder Bosowa HM Aksa Mahmud, serta Dewi Kam, pemilik PT Sumberenergi Sakti Prima (SSP) sebagai mitra bisnis Bosowa.
Di lokasi PLTU Jeneponto, Desa Punagaya, Kecamatan Bangkala, Kabupaten Jeneponto, telah berdiri pembangkit yang berkontribusi menyediakan kebutuhan listrik Sulawesi Selatan dengan kapasitas 2x125 MW. Proyek pertama Bosowa di sektor kelistrikan ini dibangun tahun 2010 dan mulai dioperasikan penuh oleh Bosowa Energi dua tahun lalu setelah diresmikan Menteri ESDM Jero Wacik tanggal 19 Desember 2012.
Pembangunan proyek PLTU Jeneponto tahap I tersebut, kata Erwin, mencatat prestasi tersendiri karena pembangunan konstruksi dapat diselesaikan hanya dalam waktu 18 bulan dari rencana 30 bulan. Ada efisiensi yang cukup signifikan. Diharapkan prestasi itu bisa dipertahankan dalam pembangunan proyek ekspansi ini.
Bekerjasama dengan perusahaan terbaik di RRT, Bosowa Energi membangun PLTU tahap I dan tahap II, masing-masing dengan nilai investasi US$ 250 juta dan US$ 300 juta.
"Perusahaan RRT yang menjadi mitra kami bertindak sebagai kontraktor dan sekaligus pendana dengan tingkat bunga dan tenor membayaran yang lunak, 10 hingga 12 tahun," kata Erwin.
Beda dengan periode lalu, kata Erwin, harga jual listrik ke PT PLN kini ditentukan lebih dahulu di depan. Dengan proses seperti itu, swasta lebih berani terlibat dalam pembangunan pembangkit listrik di Tanah Air. Harga jual listrik PLTU di Jeneponto ditetapkan 3,8 sen dolar per kWh selama 30 tahun. Tarif itu tidak termasuk batubara yang harganya fluktuatif. Jika harga batubara diperhitungkan, harga jual listrik ke PLN bisa mencapai 8 sen dolar AS. "Tarif yang ada sekarang cukup memberikan insentif kepada swasta," ujar Erwin.
Kebutuhan listrik Sulsel dan Sulawesi Barat terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi yang tinggi di atas rata-rata nasional, membuat Bosowa Energi memacu pembangunan pembangkit tersebut. Bosowa menyadari karena merupakan pengalaman dalam membangun pabrik semen, industri dan perekonomian hanya akan tumbuh tinggi kalau tersedia listrik yang cukup.
"Oleh karena itu, kami memacu pembangunan proyek ini agar pertumbuhan perekonomian Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat sebagai bagian perekonomian nasional tidak terhambat," ujar Erwin. Bosowa yang dia pimpin adalah konglomerasi bisnis nasional yang berbasis di Sulawesi Selatan. Proyek ekspansi PLTU Jeneponto yang dibangun ini dirancang berkapasitas 2x135 MW (gross capacity) atau 2x125 MW (net capacity). Spesifikasi peralatan yang digunakan semua menunjang untuk memenuhi kapasitas tersebut.

Pekerja menyaksikan penancangan tiang pertama PLTU Jeneponto Tahap II di Kabupaten Jenneponto, Sulawesi Selatan, Kamis, 19 Maret 2015.
Jeneponto dipilih sebagai lokasi PLTU karena kawasan ini terletak di laut bagian selatan Sulsel yang tidak tersedia pembangkit listrik. Pembangkit listrik PLN terletak di bagian utara. Selain itu, kata Erwin, laut Jeneponto cukup tenang dan bersih. Kawasan Jeneponto akan menjadi kawasan industri pada masa akan datang. Dengan memiliki lahan 500 ha, Bosowa berencana membangun kawasan industri di lokasi ini.
Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo mengatakan, kebutuhan energi di Sulsel akan meningkat tajam pada masa akan datang seiring dengan laju pertumbuhan investasi. Dalam empat bulan terakhir, laju pertumbuhan ekonomi Sulsel di atas 8% setahun. Jika ada topangan energi yang cukup, laju pertumbuhan ekonomi Sulsel akan terus meningkat tajam, jauh di atas rata-rata nasional yang terseok di bawah 6%.
Pembangkit Sulsel Minimal 2.500 MW
Menko Maritim Indroyono Soesilo mengatakan, hingga tahun 2017, pembangkit listrik di Sulsel minimal akan mencapai 2.500 MW. Jika kurang dari kapasitas itu, Sulsel akan mengalami defisit energi. Karena itu, ia mengapresiasi keterlibatan Bosowo.
Secara nasional, pemerintah menargetkan pembangunan 35.000 MW pembangkit listrik. Untuk membangun pebangkit listrik sebesar ini, dana investasi yang dibutuhkan mencapai Rp 1.100 triliun. Pemerintah, kata Menko, akan memberikan kemudahan kepada pihak swasta untuk membangun pembangkit. Izin kehutanan, misalnya, sudah dipangkas dari 300 hari menjadi 60 hari. Dengan demikian, pembangunan pembangkit listrik di kawasan hutan bisa mendapatkan izin lebih cepat.
Limpo mengimbau pusat untuk membantu pembangunan pembangkit listrik tenaga angin di Sulsel. "Di sini angin berlimpah dan cukup stabil, sangat menunjang kehadiran pembangkit listrik tenaga angin," kata sang gubernur.
Bosowa membangun PLTU ini melalui anak usahanya, PT Bosowa Energi perusahaan patungan dengan PT Sumberenergi Sakti Prima (SSP) yang telah berpengalaman dalam pengembangan PLTU. PT Bosowa Energi, salah satu anak perusahaan PT Bosowa Corporindo, didirikan bersama PT Sumberenergi Sakti Prima (SSP).
PT Bosowa Corporindo merupakan induk (holding) perusahaan kelompok usaha Bosowa yang didirikan dan dibangun oleh penguasaha putra daerah HM Aksa Mahmud, 22 Februari 1973 di Makassar. Bosowa kini telah menjadi salah satu pemain utama dalam ekonomi nasional, memiliki enam kelompok usaha utama (main business) yakni semen; otomotif; energi dan sumber daya alam; properti; jasa keuangan; pendidikan, serta satu grup portofolio investasi dengan bisnis infrastruktur, media, dan agrobisnis.
PT Sumberenergi Sakti Prima merupakan perusahaan mintra joint venture PLN Pembangkit Jawa Bali (PJB) sebagai operator PLTU Cilacap, Jawa Tengah.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Kapolda Metro Jaya Bintang 3 Sesuai Arahan Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Skuad Timnas AS pada Piala Dunia 2026 Akan Diumumkan 26 Mei




