Bahlil Lahadalia Pastikan BBM Subsidi Tidak Naik hingga Lebaran 2026
Selasa, 10 Maret 2026 | 19:12 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi tidak akan naik hingga Hari Raya Idulfitri 2026. Kepastian ini disampaikan pemerintah, meski harga minyak dunia sempat melonjak akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Pemerintah menjamin harga BBM bersubsidi tetap stabil untuk menjaga daya beli masyarakat menjelang Lebaran.
“Saya dapat memastikan untuk menyangkut subsidi BBM sampai dengan Hari Raya Idulfitri, insyaallah tidak ada kenaikan apa-apa,” kata Menteri Bahlil Lahadalia seusai menghadiri agenda di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (10/3/2026).
Bahlil menjelaskan, eskalasi konflik di Timur Tengah sempat mendorong harga minyak mentah dunia menembus 100 dolar Amerika per barel. Namun dalam beberapa waktu terakhir, harga tersebut mulai turun dan berada di kisaran US$ 80 hingga US$ 90 per barel.
Menurutnya, pemerintah terus memantau perkembangan situasi geopolitik, termasuk ketegangan yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat, yang berpotensi memengaruhi harga energi global.
“Jadi negara hadir untuk memastikan bahwa sekalipun ada kenaikan harga minyak mentah dunia, tapi untuk subsidi tetap sama, tidak ada kenaikan harga untuk minyak subsidi,” tuturnya.
Meski demikian, pemerintah membuka kemungkinan untuk menambah anggaran subsidi BBM apabila konflik global terus berlanjut dan mendorong lonjakan harga minyak dunia.
Selain itu, pemerintah juga menyiapkan langkah mitigasi jangka panjang dengan mempercepat pengembangan energi alternatif, termasuk energi nabati sebagai pengganti energi fosil.
“Kami sedang memitigasi bahwa harus juga mencari sumber-sumber energi lain selain energi fosil, termasuk energi nabati,” papar Bahlil.
Dalam kesempatan tersebut, Bahlil juga mengimbau masyarakat agar tidak melakukan panic buying bahan bakar menyusul ketegangan di Timur Tengah.
Ia memastikan stok BBM nasional dalam kondisi aman untuk 21 hingga 25 hari ke depan. Menurutnya, angka tersebut bukan tanda krisis energi, melainkan berkaitan dengan keterbatasan kapasitas penyimpanan energi di dalam negeri.
Untuk memperkuat ketahanan energi nasional, pemerintah berencana membangun fasilitas storage energi dengan kapasitas cadangan hingga tiga bulan.
Selain itu, pemerintah juga mulai mengalihkan sebagian impor minyak mentah dari Timur Tengah ke negara lain, seperti Amerika Serikat dan kawasan Asia Tenggara.
“Industri kita jalan terus dan impor kita tidak ada masalah. Apalagi dari Timur Tengah kita hanya impor crude atau minyak mentah, sementara minyak jadi banyak berasal dari Asia Tenggara dan produksi dalam negeri,” tutupnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
3 Prajurit Gugur, TNI AD Berduka!
Liburan Sambil Belajar Sains Lewat Museum Iptek TMII
Perbaiki Tanggul Irigasi Makam, Warga Palopo Temukan Granat Nanas
3
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
TNI Menunggu Hasil Investigasi Terkait Gugurnya 3 Prajurit di Lebanon




