ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Kuartal II, Pemerintah Terbitkan SBR Seri 002

Selasa, 12 Januari 2016 | 21:08 WIB
YW
B
Penulis: Yosi Winosa | Editor: B1
Surat Utang Negara Amat Diminati Investor Asing
Surat Utang Negara Amat Diminati Investor Asing (BeritaSatu TV/BeritaSatu TV)

Jakarta – Pemerintah menargetkan penerbitan Saving Bond Ritel (SBR) seri 002 pada kuartal II-2016. Saat ini, pemerintah tengah merampungkan proses pengadaan jasa agen penjual obligasi negara ritel untuk tahun anggaran 2016.

Direktur Surat Utang Negara Kementerian Keuangan Loto Srinaita Ginting menyatakan, berbeda dengan SBR seri 001 terdahulu, SBR seri 002 bisa dijaminkan dan dicairkan lebih awal (early redemption) sebelum dua tahun. Sementara ini didesain pada bulan ketigabelas.

"Akan menggunakan suku bunga floating dimana kuponnya akan di-reset tiap tiga bulan dengan reference BI rate (suku bunga acuan Bank Indonesia). Sebelumnya menggunakan suku bunga LPS (Lembaga Penjamin Simpanan)," kata dia.

Loto mengatakan, tahun lalu pemerintah tidak menerbitkan SBR. Pasalnya, pemerintah masih menanti SBR seri 001 jatuh tempo. Strategi tersebut diterapkan agar investor dapat menikmati SBR yang telah terbit. "SBR merupakan instrumen yang relatif baru dan tidak dapat diperdagangkan di sekunder, harus dicairkan kepada pemerintah dan tidak bisa kepada investor lain," tutur Loto.

ADVERTISEMENT

Pada 2014, pemerintah menerbitkan SBR pertama dengan seri SBR001 menggunakan skema kupon mengambang dengan tingkat kupon minimal. Acuannya, suku bunga penjaminan di bank umum yang ditetapkan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) ditambah 125 basis poin. Sementara tingkat kupon minimalnya dipatok di 8,75%.

Penerbitan SBR dalam rangka mengurangi dominasi investor asing dalam Surat Utang Negara yang masih sekitar 37 – 38%. Pemerintah tahun ini berencana untuk menerbitkan sekitar Rp 532,4 triliun SUN dengan komposisi 24–30% di antaranya berdenominasi valas. Dari total penerbitan SUN tahun ini, porsi ritel sekitar Rp 63,88 triliun atau sekitar 12%, dalam bentuk SBR, ORI, Sukri dan sukuk tabungan.

"Meski juga ada wacana penerbitan obligasi daerah dan obligasi tax amnesty, kami sebenarnya fleksibel saja baik yang porsi valas-rupiah, antarinstrumen juga fleksibel. Seperti tahun lalu, kami mengurangi penerbitan SUN reguler ternyata ada pelebaran defisit anggaran akhirnya target masih tetep seperti awal naik sedikit," tambah dia.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon