ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Pantau Panen di Enrekang, Kemtan Pastikan Stok Bawang Merah Nasional Aman

Rabu, 9 Maret 2016 | 08:21 WIB
LT
WP
Penulis: Lenny Tristia Tambun | Editor: WBP
Dirjen Hortikultura Spudnik Sujono (tengah) memanen bawang merah di Desa Pekalobean, Kecamatan Anggeraja, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, Selasa 8 Maret 2016.
Dirjen Hortikultura Spudnik Sujono (tengah) memanen bawang merah di Desa Pekalobean, Kecamatan Anggeraja, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, Selasa 8 Maret 2016. (Lenny Tristia Tambun)

Enrekang, Makassar- Kementerian Pertanian (Kemtan) memastikan pasokan bawang merah di Indonesia masih aman, bahkan berlebih untuk memenuhi kebutuhan bawang merah yang mencapai 80.000 kilogram (kg) per bulannya. Sehingga, Indonesia tidak perlu impor bawang merah.

Untuk memastikan stok bawang merah di kantong produksi masih berlimpah, Direktorat Jenderal (Ditjen) Hortikultura Kemtan mengunjungi salah satu sentra penghasil bawang merah di Sulawesi Selatan, yaitu Kabupaten Enrekang pada Selasa (8/3). Setelah menempuh perjalanan sekitar 6 jam dari Kota Makassar, rombongan Ditjen Hortikultura yang dipimpin langsung Dirjen Hortikultura Spudnik Sujono mengunjungi para petani bawang merah di beberapa desa di Kabupaten Enrekang.

Berdasarkan pantauan Beritasatu.com, para petani tengah memanen. Terlihat di bawah rumah panggung mereka, puluhan karung besar berisi bawang merah kering (askip) siap dijual. Selain itu, tampak gunungan bawang merah yang dikeringkan dan siap dikemas.

"Di Kabupaten Enrekang ini sedang panen besar-besaran, tinggal didistribusikan ke daerah-daerah yang membutuhkan. Kalau Enrekang biasanya mengirim ke Indonesia Timur, selain memenuhi kebutuhan di Sulawesi Selatan," kata Spudnik saat meninjau kegiatan panen bawang merah di Dusun Sipate, Desa Pekalobean, Kecamatan Anggareja, Kecamatan Enrekang, Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (8/3).

ADVERTISEMENT

Harga jual bawang merah dari petani ke pedagang di Kabupaten Enrekang di kisaran Rp 17.000 hingga Rp 20.000 per kg. Diharapkan dengan harga stabil, berdampak pada penurunan harga jual pedagang ke konsumen yang sempat menembus Rp 45.000 per kg. "Sah-sah saja pedagang ingin untung. Tapi untungnya jangan terlalu melebihi keuntungan petani. Kan mereka yang susah payah menanam, merawat hingga memetik hasilnya," ujarnya.

Kepala Desa Pekalobean, Engkos Sinte mengatakan hampir semua warga di desanya bermata pencaharian petani bawang merah. Saat ini, jumlah penduduk Desa Pekalobean mencapai 589 kepala keluarga atau sebanyak 3.000 jiwa. "Dari lahan pertanian bawang merah di sini, untuk bulan ini, kami memanen bawang merah sebanyak 300 ton. Ini akan kami pasarkan ke Kalimantan, Manado dan Papua," kata Engkos.

Kepala Dinas Pertanian Provinsi Sulawesi Selatan, Fitriani menerangkan di tahun 2015, potensi lahan pertanian bawang merah di Kabupaten Enrekang mencapai 6.025 hektare (ha). Dari potensi lahan tersebut, luas lahan yang ditanam mencapai 5.447 hektare. "Dari luas tanam itu, luas panennya mencapai 5.356 hektare. Untuk produksi yang dihasilkan dengan luas panen tersebut mencapai 58.537 ton di tahun 2015," kata Fitri.

Kondisi ini mengalami peningkatan dari tahun 2014, dengan luas tanam 4.460 hektare dan luas panen 4.436 hektare serta produksi bawang merah mencapai 44.189 ton. "Dari jumlah produksi yang dihasilkan, sebanyak 25.000-30.000 ton dipasarkan untuk kebutuhan masyarakat Sulawesi Selatan. Sisanya, sekitar 28.000 ton lebih dipasarkan ke wilayah Indonesia Timur," ungkapnya.

Seperti diketahui, ada lima daerah penghasil bawang merah terbesar di Indonesia, salah satunya Kabupaten Enrekang di Sulawesi Selatan. Kemudian Bima, Nusa Tenggara Timur (NTT); Brebes di Jawa Tengah, di Jawa Barat dan Jawa Timur.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon