Tren Positif Awal Tahun Gairahkan Industri Baja dan Beton di Jatim
Selasa, 23 Mei 2017 | 14:57 WIB
Surabaya - Tren postif di industri baja dan beton sejak awal tahun ini membuat tiga emiten di Jawa Timur bergairah. Ketiga emiten yang bisnisnya sangat bergantung pada kondisi pasar baja dan beton dalam negeri ini adalah PT Gunawan Dianjaya Steel Tbk (GDST), PT Betonjaya Manunggal Tbk (BTON) dan PT Jaya Pari Steel Tbk (JPRS).
Tahun 2016 lalu, kelesuan di pasar baja dan beton membuat mereka kurang beruntung. Meski sempat memetik laba bersih sebesar Rp 31,71 miliar, penjualan bersih GDST tercatat Rp 757, 28 miliar atau turun dibandingkan tahun 2015 sebesar Rp 913,79 miliar.
Nasib lebih buruk dialami BTON dan JPRS, tak hanya penjualan turun mereka juga merugi. BTON mencatat penjualan bersih Rp 62,76 miliar atau turun dibandingkan tahun 2015 sebesar Rp 67,68 miliar. Sedang kerugiannya mencapai Rp 8,22 miliar. Ada pun JPRS mencatat penjualan bersih Rp 121 miliar atau turun dibandingkan penjualan bersih tahun 2015 sebesar Rp 143 miliar. Sedang kerugian yang dicatat sebesar Rp 26 miliar.
Dengan tren positif di industri baja dan beton yang ditunjukan di awal tahun ini, usai menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Surabaya, Senin (22/5) baik manajemen GDST, BTON atau JPRS sepakat kalau kinerja mereka tahun ini akan lebih baik dibandingkan tahun lalu.
"Kami melihat tahun ini berbeda dengan tahun lalu. Ada tren positif dan itu sudah terlihat di awal tahun ini. Kami yakin ini juga akan berdampak pada kinerja yang lebih baik di tahun ini," kata Direktur PT Betonjaya Manunggal Tbk, Andy Soesanto.
Keyakinan Andy itu didasarkan kinerja perseroan pada kuartal I tahun 2017, ketika BTON mencatat penjualan Rp 22,58 miliar atau naik 53,2 persen dibanding penjualan pada periode yang sama tahun lalu. "Capaian ini membuat kami juga optimistis dengan target penjualan tahun ini sebesar Rp 75,3 miliar dan target laba bersih sebesar Rp 3,7 miliar," paparnya.
Andy menyebut selain proyek infrastruktur, proyek pembangunan perumahan juga menjadi pendorong penjualan perseroan. "Semoga tren positif ini bisa terus berlangsung ke depannya," imbuhnya.
Menurut Andy, meski peluang pasar masih terbuka seiring dengan tingginya angka kebutuhan rumah oleh masyarakat, namun persaingan di pasar produk besi beton polos sangat ketat. Apalagi pemerintah dalam hal ini lembaga sertifikasi dinilainya sangat gampang menerbitkan Standar Nasional Indonesia (SNI) bagi produk beton impor.
"Tapi kita terus berupaya menjaga kualitas agar bisa mengimbangi ketatnya persaingan," tandasnya.
Direktur JPRS, Hadi Sutjipto menyatakan tren positif di awal tahun berimbas pada kinerja perseroan. Sepanjang empat bulan pertama tahun 2017, JPRS membukukan penjualan sebesar Rp 49 miliar atau naik 45 persen dibanding penjualan pada periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 27 miliar.
"Kenaikan penjualan pada awal tahun ini lebih dikarenakan adanya peningkatan volume penjualan. Ini tentu adanya permintaan dari pasar yang mulai membaik," kata Hadi.
Jika tren positif penjualan ini terus berlangsung, lanjut dia, target penjualan perseroan hingga akhir tahun ini sebesar Rp 211 miliar dan laba bersih sebesar Rp 9 miliar akan tercapai.
Dikatakan, pertumbuhan di industri baja saat ini didasari oleh mulai banyaknya proyek-proyek pembangunan infrstruktur pemerintah. Namun demikian, konsistensi pemerintah juga diperlukan agar aturan wajib penggunaan komponen lokal pada proyek infrastruktur pemerintah benar-benar dijalankan. "Jika ini ditaati, akan berdampak positif bagi industri lokal," katanya.
Hadi yang juga menjabat Dirut GDST juga mengungkapkan kondisi pasar yang membaik sekarang juga mendongkrak penjualan perseroan. Realisasi penjualan GDST di triwulan I tahun 2017 mencapai Rp 304,3 miliar, meningkat dibanding periode yang sama tahun 2016 sebesar Rp 191,45 miliar.
"Melihat realisasi yang positif di triwulan I ini, kami berani menargetkan penjualan hingga akhir tahun 2017 mencapai Rp 909 miliar atau naik 20 persen lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi 2016," ungkapnya.
Hadi melanjutkan optimisme itu juga didasari adanya proyek infrastruktur oleh pemerintah, kecenderungan harga baja yang mulai meningkat, dan persaingan antar produsen baja lokal dan importir yang bisa ditekan.
"Karena itu, kami berani melanjutkan proses pembangunan gedung pabrik dan pondasi mesin Plate Milk no 2 atau GDS II berkapasitas 1 juta ton itu secara bertahap, dimana saat ini progresnya sudah mencapai 50,42 persen," jelasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




