Melemahnya Industri Pengolahan Jadi Penyumbang Defisit Dagang April
Jumat, 17 Mei 2019 | 17:02 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Turunnya ekspor produk industri pengolahan menjadi pemicu defisit neraca perdagangan yang mencapai US$ 2,5 miliar April lalu. Pasalnya, pertumbuhan negatif dari industri pengolahan berkontribusi besar dalam menurunkan nilai ekspor pada April hingga 13,10 persen secara year on year (YoY).
Deputi Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Yunita Rusanti, mengatakan nilai ekspor industri pengolahan mengalami penurunan yang cukup dalam pada April. Secara year on year nilainya turun 11,82 persen dan membuat pertumbuhan ekspor secara keseluruhan sulit terangkat dan tercatat negatif hingga 13,10 persen.
"Ekspor turun dan sulit diangkat karena industri pengolahan juga turun," ujar Yunita dalam siaran persnya yang diterima Beritastau.com, Jumat (17/5/2019).
Ekspor industri pengolahan merupakan kontributor terbesar yang membentuk total nilai ekspor Indonesia. Porsinya pada April mencapai 74 pesen dari total ekspor, nilainya mencapai US$ 9,42 miliar. Perhiasan menjadi produk industri yang mengalami penurunan ekspor paling tajam dimana BPS mencatat nilai ekspor perhiasan turun hingga US$ 339 juta.
Yunita menjelaskan, impor sebenarnya tidak tumbuh signifikan bahkan jika dibandingkan nilainya secara tahunan mengalami penurunan. Tercatat impor secara tahunan turun 7,24 persen, dari posisinya di angka US$ 60 miiar pada periode Januari-April 2018 menjadi US$ 55 milar pada periode yang sama tahun ini.
Sebagaian besar impor pun berupa bahan baku dan penolong sebesar 75 persen, sementara itu besaran nilai bahan modal mencapai 16 persen dari total impor. Baru kemudian ada kontribusi barang konsumsi 8,61 persen, kontribusi impor barang konsumsi ini turun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 9 persen.
"BPS mencatat adanya perlambatan produksi industri besar dan sedang pada kuartal I dimana tingkat pertumbuhan hanya 4 persen," kata Yunita.
Melambatnya pertumbuhan industri pengolahan dinilai memiliki pengaruh yang besar terhadap kinerja ekspor nasional. Masalahnya kebijakan industri hingga kini tidak mengalami perubahan berarti.
Ekonom Universitas Brawijaya, Candra Fajri Ananda, mengatakan, saat ini sulit menemukan industri baru yang bisa berkembang. Dampak dari kebijakan industri nasional sudah mengarah pada kebijakan subtitusi impor.
"Kebijakan tersebut sudah tidak cocok dengan kebutuhan Indonesia saat ini. Indonesia seharusnya bisa menjadi bagian dari industri dunia," kata Candra.
Meski daya saing nasional dikatakan sempat meningkat, Candra menilai, keterbatasan pasar turut memperparah lesunya kinerja ekpor ini.
"Makanya kemarin Kementerian Perdagangan melakukan kerja sama dengan beberapa negara di Amerika Latin jadi memperluas ekspansi pasar, harapannya mungkin itu," pungkas Candra.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
Kapolda Metro Jaya Bintang 3 Sesuai Arahan Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




