APBN Tak Dipersiapkan untuk Hadapi Resesi Ekonomi Dunia
INDEX

BISNIS-27 538.843 (9.76)   |   COMPOSITE 6321.86 (107.9)   |   DBX 1200.53 (9.93)   |   I-GRADE 184.241 (6.4)   |   IDX30 532.439 (13.05)   |   IDX80 142.581 (3.74)   |   IDXBUMN20 424.518 (18.32)   |   IDXESGL 148.639 (1.84)   |   IDXG30 144.207 (3.69)   |   IDXHIDIV20 468.297 (10.48)   |   IDXQ30 151.63 (3.41)   |   IDXSMC-COM 289.047 (5.63)   |   IDXSMC-LIQ 360.181 (16.02)   |   IDXV30 145.782 (3.85)   |   INFOBANK15 1071.04 (26.84)   |   Investor33 457.812 (8.8)   |   ISSI 186.628 (3)   |   JII 657.942 (12.88)   |   JII70 230.141 (4.83)   |   KOMPAS100 1272.98 (29.01)   |   LQ45 989.051 (25.8)   |   MBX 1747.76 (32.18)   |   MNC36 338.242 (6.45)   |   PEFINDO25 338.749 (2.41)   |   SMInfra18 324.227 (7.63)   |   SRI-KEHATI 391.331 (7.38)   |  

APBN Tak Dipersiapkan untuk Hadapi Resesi Ekonomi Dunia

Jumat, 11 Oktober 2019 | 21:24 WIB
Oleh : Asni Ovier / AO

Jakarta, Beritasatu.com - Resesi ekonomi dunia akan mengancam perekonomian Indonesia, khususnya di level usha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Pasalnya, hingga kini belum ada kebijakan pemerintah yang bisa memproteksi masyarakat miskin. Justru, fakta yang terjadi subsidi sektor energi sebesar Rp 12 triliun dicabut.

"Banyak UMKM bergantung pada subsidi BBM dan elpiji, terutama yang ukuran 3 kg. Kalau dilihat dari kondisi ekonomi global yang akan resesi ekonomi, maka pemerintah akan mengorbankan UMKM kita," ujar ekonomi Indeh, Bhima Yudistira dalam diskusi Forum Tebet (Forte) di Jakarta, Jumat (11/10/2019).

Bhima memberi gambaran, pada krisis 1998, UMKM masih memakai kayu bakar sebagai alternatif untuk tetap menjalankan usaha secara sustainable. Kemudian, semua UMKM beralih memakai elpiji, khususnya yang 3 kg. Lalu, setelah beralih ke elpiji 3 kg, maka ketergantungan terhadap subsidi juga besar.

Bhima mengatakan, jika subsidi ini juga dicabut, maka kondisi ekonomi di masyarakat bawah akan bahaya. Terlebih lagi, tarif dasar listrik bagi pengguna 900 VA dan iuran BPJS Kesehatan juga mengalami kenaikan. "Pemerintah seharusnya berempati kepada UMKM. APBN tak dipersiapkan untuk menghadapi resesi ekonomi dunia," jelasnya.

Bagi Bhima, pernyataan bahwa daya beli masyarakat masih kuat juga tidak tepat. "Kuat bagaimana? Semua naik, iuran BPJS Kesehatan, dan tarif tol adjustment. Listrik 900 Kwh mau dipangkas juga. Jadi, kebijakan ekonomi pemerintah tak punya empati," tegasnya.

Menurut Bhima, APBN yang disusun bukan menjadi stimulus ekonomi, melainkan justru menjadi konstraksi pada 2020. Ia juga tak sepakat dengan pernyataan bahwa masyarakat tak usah khawatir terhadap resesi ekonomi dunia, karena kalau PHK bisa menjadi pedagang daring, pengemudi ojek online, dan sebagainya.

"Padahal, ecommerce itu modalnya sebagian besar disuntik dari modal asing. Modal asing itu sangat mempertimbangkan gejolak ekonomi global," ujarnya. Kalau terjadi resesi ekonomi, kata Bhima, maka pemodal itu bakal pergi dan menyelamatkan diri ke rumah masing-masing.

"Mereka bisa pergi kalau resesi. Ibaratnya, kalau rumahnya kebakaran, apakah tak menyelamatkan rumahnya dulu. Begitu juga soal ancaman resesi ini," kata Bhima.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Data Indonesia, Herry Gunawan menyoroti perekonomian Indonesia yang masih rapuh dan daya beli masyarakat sangat lemah. "Kinerja penerimaan negara pada 2019 mengkhawatirkan, karena realisasinya lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya," ujar Herry.

Herry membeberkan, sepanjang Januari hingga Agustus, penerimaan negara dan hibah baru mencapai 55% atau turun dibandingkan penerimaan pada periode yang sama tahun lalu, yang mencapai 61%. "Dalam kondisi tersebut, defisit anggaran hingga akhir 2019 kemungkinan mencapai Rp 305 triliun," jelasnya.

Akibat kondisi ini, lanjut Herry, pemerintah berpeluang untuk semakin rajin mencari utang yang lebih besar untuk menutup defisit anggaran. "Utang selalu menjadi solusi. Padahal, saat ini, risikonya semakin tinggi," ujarnya.

Herry mengibaratkan, ekonomi Indonesia saat ini seperti tubuh manusia yang kondisinya sedang meriang. Seluruh persendian terasa nyeri. "Namun, obat generik yang diberikan masih sama," ujar Herry.



Sumber: Suara Pembaruan


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

WOM Finance Ubah Susunan Direksi

Masuknya Wibowo ke dalam direksi perseroan diharapkan semakin memperkuat kepemimpinan WOM Finance.

EKONOMI | 11 Oktober 2019

Diprakarsai SKK Migas, Praktisi Genaral Affair Kembali Gelar FM Forum

FM Forum 2019 menargetkan hadirnya 500 orang dari seluruh kalangan.

EKONOMI | 11 Oktober 2019

Tatalogam Optimistis Tembus Pasar Baja Amerika

Pemerintah mewajibkan penggunaan tulang baja konstruksi bangunan memiliki label SNI.

EKONOMI | 11 Oktober 2019

Pemerintah Diminta Pertahankan Asas Cabotage

Asas cabotage dinilai berhasil meningkatkan produktivitas industri pelayaran dalam negeri.

EKONOMI | 11 Oktober 2019

GrabWeels, Grab Operasikan Lebih dari 900 Skuter Listrik

Investasi yang dikeluarkan Grab sekitar Rp 10 juta untuk satu skuter listrik

EKONOMI | 11 Oktober 2019

BRI Siapkan Rp 100 Miliar untuk Pembiayaan Mobil Listrik

BRI telah menyiapkan dana hingga Rp 100 miliar untuk pembiayaan kepemilikan kendaraan ramah lingkungan atau kendaraan listrik.

EKONOMI | 11 Oktober 2019

Waskita Realty Rampungkan Pembangunan Teraskita Hotel Makassar

PT Waskita Karya Realty (Waskita Realty) menandai penyelesaian pembangunan proyek terbarunya, yaitu Teraskita Hotel Makassar dengan upacara topping off.

EKONOMI | 11 Oktober 2019

Harga Gas Industri Sebaiknya Dinaikkan secara Bertahap

Harga gas untuk industri masih lebih murah dibandingkan golongan rumah tangga.

EKONOMI | 11 Oktober 2019

Hakim Minta HIL Tunjukan Izin Usaha yang Masih Berlaku

Majelis Hakim PN Jakarta Pusat kembali menegur H Infrastructure Limited (HIL), perusahaan asal Selandia Baru, karena tidak membawa izin usaha yang masih berlaku

EKONOMI | 11 Oktober 2019

Rupiah Terpantau Menguat ke Rp 14.137

Rupiah berada di level Rp 14.137,5 per dolar AS atau terapresiasi 12,5 poin (0,09 persen).

EKONOMI | 11 Oktober 2019


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS