ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Purbaya Bantah Isu Krisis meski Rupiah Turun dan IHSG Anjlok

Senin, 9 Maret 2026 | 16:51 WIB
AS
AD
Penulis: Addin Anugrah Siwi | Editor: AD
Purbaya Yudhi Sadewa.
Purbaya Yudhi Sadewa. (Antara)

Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membantah anggapan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah dan koreksi tajam di pasar saham menandakan perekonomian Indonesia sedang menuju krisis atau resesi. Pemerintah menilai fundamental ekonomi domestik masih kuat dan tetap berada pada fase ekspansi.

Pernyataan tersebut disampaikan Purbaya menanggapi pergerakan rupiah yang sempat menyentuh Rp 17.009 per dolar AS pada awal perdagangan Senin (9/3/2026), atau melemah sekitar 0,50% dibandingkan penutupan Jumat sebelumnya di level Rp 16.925 per dolar AS. Meski demikian, pada akhir perdagangan sore hari rupiah ditutup di posisi Rp 16.949 per dolar AS.

Di pasar saham, indeks harga saham gabungan (IHSG) juga bergerak di zona merah sepanjang sesi perdagangan. IHSG ditutup melemah 248,318 poin atau 3,27% ke level 7.337,369. Sementara itu, indeks LQ45 turut terkoreksi 25,471 poin atau 3,28% ke posisi 750,575.

ADVERTISEMENT

Menanggapi kondisi tersebut, Purbaya menilai sebagian ekonom dan pelaku pasar terlalu cepat mengaitkan pelemahan pasar dengan narasi krisis ekonomi.

“Rupiah Rp 17.000, IHSG anjlok karena sebagian teman-teman ekonom bilang kita sudah resesi, mulai 1998 lagi. Daya beli sudah hancur. Tidak seperti itu,” ujar Purbaya saat ditemui di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (9/3/2026).

Menurutnya, aktivitas ekonomi domestik masih menunjukkan kinerja positif. Pemerintah juga terus berupaya menjaga konsumsi masyarakat agar pertumbuhan ekonomi tetap terjaga.

“Ekonomi sedang ekspansi. Daya beli kita jaga mati-matian dan boro-boro krisis,” kata Purbaya.

Ia menegaskan kondisi ekonomi nasional saat ini bahkan masih jauh dari fase resesi.

“Jangankan krisis. Resesi saja belum. Melambatnya saja belum,” ujarnya.

Purbaya menambahkan pemerintah akan terus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dalam waktu dekat, termasuk melalui kebijakan fiskal yang adaptif terhadap dinamika global.

“Kita masih ekspansi, masih akselerasi. Itu yang kita jaga terus dalam beberapa minggu ke depan. Jadi investor di pasar saham tidak perlu takut,” jelasnya.

Ia juga menekankan pemerintah memiliki pengalaman dalam menghadapi berbagai krisis ekonomi sebelumnya, mulai dari krisis Asia 1998, krisis keuangan global 2008-2009, hingga pandemi Covid-19 pada 2020.

“Kita sudah tahu krisis 1998 apa penyebabnya. Ketika global jatuh, kita masih tumbuh bagus. Tahun 2020 kita juga jaga ekonomi dengan kebijakan yang tepat,” ujarnya.

Menurut Purbaya, pengalaman tersebut menjadi bekal penting bagi pemerintah untuk memitigasi potensi gejolak ekonomi yang muncul di pasar keuangan.

“Kita sudah punya pengalaman dan pengetahuan yang cukup untuk memitigasi segala gejolak yang terjadi,” kata Purbaya.

Terkait kebijakan fiskal dan kemungkinan penyesuaian Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) seiring lonjakan harga minyak dunia yang kini telah menembus di atas US$ 100 per barel, pemerintah akan melakukan evaluasi terlebih dahulu.

“Saya akan evaluasi selama satu bulan ke depan apa yang terjadi dan kita akan lakukan adjustment seperlunya,” ujar Purbaya.

Ia memastikan setiap penyesuaian kebijakan yang diambil pemerintah tidak akan mengganggu momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

Adjustment yang dilakukan tidak akan mengganggu momentum pertumbuhan ekonominya,” pungkas Purbaya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Rupiah Hari Ini Ditutup Kembali Melemah ke Rp 17.000

Rupiah Hari Ini Ditutup Kembali Melemah ke Rp 17.000

EKONOMI
Sentimen Timur Tengah Membaik, Rupiah Menguat ke Rp 16.983

Sentimen Timur Tengah Membaik, Rupiah Menguat ke Rp 16.983

EKONOMI
Jaga Stabilitas Rupiah, BI Tambah Instrumen Baru di Pasar Valas

Jaga Stabilitas Rupiah, BI Tambah Instrumen Baru di Pasar Valas

EKONOMI
Rupiah Hari Ini Ditutup Menguat Tipis Lepas dari Level Rp 16.900

Rupiah Hari Ini Ditutup Menguat Tipis Lepas dari Level Rp 16.900

EKONOMI
Perang Iran-Israel Memanas, Rupiah Berisiko Tembus Rp 20.000

Perang Iran-Israel Memanas, Rupiah Berisiko Tembus Rp 20.000

EKONOMI
Penukaran Uang Lebaran Tembus 91 Persen, BI Sebut Ekonomi RI Solid

Penukaran Uang Lebaran Tembus 91 Persen, BI Sebut Ekonomi RI Solid

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT