Perang Iran-Israel Memanas, Rupiah Berisiko Tembus Rp 20.000
Selasa, 24 Maret 2026 | 07:05 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Memanasnya konflik Iran dengan Israel dan Amerika Serikat berpotensi menekan nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Dalam skenario terburuk, rupiah bahkan berpeluang melemah hingga menyentuh Rp 20.000 per dolar AS.
Managing Director Political Economy and Policy Studies Anthony Budiawan mengatakan, konflik geopolitik di Timur Tengah dapat memicu lonjakan harga minyak dunia, gangguan rantai pasok, serta mendorong arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Konflik di Iran berpotensi mengganggu pasokan minyak dan gas global beserta turunannya, dengan implikasi serius terhadap ekonomi dunia, termasuk Indonesia,” ujar Anthony dalam catatannya.
Menurut dia, ekonomi Indonesia tergolong rentan terhadap guncangan eksternal, terutama yang dipicu faktor geopolitik. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, rupiah kerap mengalami depresiasi signifikan saat tekanan global meningkat.
Pada periode 2014-2015, rupiah tercatat melemah sekitar 20% hingga mencapai Rp 14.650 per dolar AS pada 30 September 2015. Kemudian pada 2018, depresiasi sekitar 13,5% mendorong rupiah ke level Rp 15.202 per dolar AS pada 31 Oktober 2018.
Tekanan serupa juga terjadi pada awal pandemi Covid-19 tahun 2020, ketika rupiah melemah hampir 20% dalam waktu singkat, dari Rp 13.675 pada 21 Februari 2020 menjadi Rp 16.575 per dolar AS pada 23 Maret 2020.
Anthony menilai, besarnya cadangan devisa tidak selalu mampu menjaga stabilitas nilai tukar. Pergerakan rupiah lebih dipengaruhi keberlanjutan aliran dana eksternal, termasuk melalui penerbitan utang pemerintah.
Dalam beberapa periode tekanan tersebut, pemerintah merespons dengan meningkatkan penerbitan obligasi global guna menjaga stabilitas rupiah. Hal ini menunjukkan ketergantungan terhadap aliran pendanaan eksternal masih cukup tinggi.
Ia menegaskan, konflik Iran dapat menjadi katalis tambahan yang mempercepat tekanan terhadap rupiah. Jika arus modal keluar terus berlanjut, ruang stabilisasi nilai tukar akan semakin terbatas.
“Kenaikan harga minyak, gangguan rantai pasok global, dan pergeseran arus modal dari emerging market ke aset safe haven akan menciptakan tekanan simultan terhadap neraca eksternal Indonesia,” tuturnya.
Saat ini, nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp 17.000 per dolar AS. Berdasarkan data Bloomberg pada Senin (23/3/2026), rupiah tercatat di level Rp 16.997 per dolar AS.
Dengan pola historis tersebut, Anthony menilai depresiasi sebesar 15%-20% bukan skenario ekstrem dalam kondisi tekanan global. Hal ini berpotensi mendorong rupiah ke kisaran Rp 20.000 per dolar AS.
“Angka ini bukan lagi spekulatif, tetapi berbasis data historis. Dalam kondisi geopolitik yang lebih ekstrem, depresiasi rupiah bahkan dapat melampaui 20% dan terjadi dalam waktu relatif singkat, yakni tiga hingga enam bulan ke depan,” pungkasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Jet AS Rontok di Iran, Ini Daftar Peristiwa yang Memalukan Amerika




