Sentimen Timur Tengah Membaik, Rupiah Menguat ke Rp 16.983
Rabu, 1 April 2026 | 16:36 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Nilai tukar rupiah kembali bergerak di zona hijau pada Rabu (1/4/2026), seiring meredanya kekhawatiran pasar terhadap konflik di Timur Tengah dan rilis data ekonomi Amerika Serikat (AS).
Pada penutupan perdagangan sore, rupiah tercatat menguat 58 poin terhadap dolar AS (US$), menjadi Rp 16.983 dari posisi sebelumnya Rp 17.041. Sepanjang hari, mata uang Garuda bahkan sempat menguat hingga 75 poin.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengatakan penguatan rupiah dipengaruhi sinyal meredanya konflik di Timur Tengah. Hal itu menyusul pernyataan Presiden AS, Donald Trump, yang membuka peluang Washington menarik diri dari konflik tersebut.
“Terlepas dari sinyal diplomatik ini, reaksi pasar cenderung tenang. Pelaku pasar masih menyeimbangkan harapan gencatan senjata dengan risiko gangguan pasokan yang masih berlangsung,” ujar Ibrahim dalam keterangannya.
Konflik di kawasan tersebut sebelumnya sempat memicu kekhawatiran pasar global, terutama setelah terjadi pemblokiran di Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Selain faktor geopolitik, penguatan rupiah juga didorong data ekonomi AS yang menunjukkan pelemahan pasar tenaga kerja. Jumlah lowongan kerja pada Februari tercatat turun menjadi 6,882 juta dari sebelumnya 7,24 juta, serta berada di bawah proyeksi 6,92 juta.
Pada sisi lain, indeks kepercayaan konsumen AS naik menjadi 91,8 pada Maret dari 91,0 pada Februari 2026.
Ibrahim menambahkan, ekspektasi penurunan suku bunga oleh bank sentral AS, Federal Reserve, pada 2026 mulai memudar. Hal ini dipengaruhi tingginya harga energi yang masih menjadi perhatian utama pasar.
“Saat ini ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed pada 2026 mulai sirna, karena pelaku pasar mempertimbangkan tekanan dari harga energi,” jelasnya.
Dari dalam negeri, penguatan rupiah juga ditopang kinerja neraca perdagangan Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus sebesar US$ 1,27 miliar pada Februari 2026, yang turut memberikan sentimen positif bagi pasar valuta asing domestik.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Jet AS Rontok di Iran, Ini Daftar Peristiwa yang Memalukan Amerika




