BI Kawal Rupiah di Pasar Offshore Saat Libur Nyepi dan Lebaran
Rabu, 18 Maret 2026 | 07:07 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Bank Indonesia (BI) memastikan tetap menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di pasar offshore meski pasar domestik libur selama periode Hari Suci Nyepi dan Idulfitri.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, bank sentral akan terus hadir di pasar, baik domestik maupun global, untuk mengawal pergerakan rupiah di tengah ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah.
“Kita boleh libur Lebaran di sini, offshore Non-Deliverable Forward (NDF) terus berjalan dan BI New York juga akan terus mengawal rupiah di luar negeri,” ujar Perry dalam konferensi pers rapat dewan gubernur (RDG) BI, Selasa (17/3/2026).
Senada dengan itu, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menegaskan pihaknya terus memantau pergerakan rupiah terhadap dolar AS selama 24 jam melalui pasar NDF.
Menurutnya, meskipun aktivitas pasar dalam negeri libur, BI tetap siaga dan siap melakukan intervensi di pasar global bila diperlukan, termasuk melalui kerja sama dengan kantor perwakilan BI di New York.
“All effort akan kami lakukan, seperti disampaikan juga oleh Pak Gubernur, seperti yang biasa kita lakukan, intervensi di spot DNDF dan NDF untuk di pasar globalnya,” kata Destry.
Di tengah volatilitas global yang tinggi, BI juga mengoptimalkan berbagai instrumen operasi moneter untuk menjaga daya tarik imbal hasil (yield) dan stabilitas pasar keuangan.
Sepanjang Maret 2026, rupiah tercatat terdepresiasi sebesar 1,29% secara month to date (mtd). Namun, angka tersebut masih lebih baik dibandingkan beberapa mata uang di kawasan, seperti India yang melemah 1,52% dan Filipina 3,71%.
“Artinya, kita di kawasan ini memang menghadapi permasalahan yang sama, tetapi di Bank Indonesia tentunya kami terus akan fokus untuk menjaga stabilitas tersebut,” ujar Destry.
Di sisi lain, BI juga mencatat peningkatan transaksi menggunakan skema Local Currency Transaction (LCT). Pada Februari 2026, nilai transaksi LCT mencapai US$4,12 miliar, dengan kontribusi terbesar berasal dari Tiongkok sebesar US$ 3,026 miliar.
Peningkatan tersebut menunjukkan tren penggunaan mata uang lokal dalam transaksi internasional semakin berkembang.
BI pun terus mendorong pendalaman pasar keuangan berbasis mata uang lokal, termasuk yuan (CNH/CNY), guna mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.
“Ini juga tentunya akan berpengaruh untuk mengurangi permintaan dolar di pasar domestik karena langsung permintaannya adalah ke mata uang mitra yang bersangkutan,” kata Destry.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Pendakian Gunung Gede Pangrango Dibuka Lagi pada 13 April 2026




