Dampak Virus Korona Baru Tercermin pada Neraca Dagang Februari

Dampak Virus Korona Baru Tercermin pada Neraca Dagang Februari
Ilustrasi virus korona. (Foto: Antara)
Triyan Pangastuti / FMB Senin, 17 Februari 2020 | 16:37 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Badan Pusat Statistik (BPS) menilai mewabahnya virus korona baru tergambar pada kinerja neraca dagang pada bulan Februari dan belum terpengaruh pada kinerja neraca dagang Januari. Jika dirunut kronologinya, virus korona baru mulai merebak di akhir Januari setelah perayaan Imlek. 

Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan, pergerakan ekspor dan impor akibat virus korona mungkin sudah mulai terasa pada pekan terakhir Januari, sebab sejak awal bulan hingga minggu ketiga Januari masih relatif baik pergerakannya. Akan tetapi karena BPS tidak menyajikan data mingguan dan hanya bulanan, maka efek korona belum terlihat dari hasil neraca dagang Januari.

Meski begitu, Suhariyanto mengeaskan bahwa perlu meningkatkan kewaspadaan atas dampak penyebaran virus baik ke sektor perdagangan dan sektor lainnya.

“Kita perlu waspada dan sebagaimana efeknya bisa dilihat di bulan berikutnya yang menyajikan Februari. Tetapi intinya kita semua perlu waspada” ujarnya dalam konferensi pers di Gedung BPS, Jakarta, Senin (17/2/2020).

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia QI-2020 Dipredisi di Bawah 5%

Ia menyampaikan secara kronologis, BPS mencatat penyebaran virus korona yang dilaporkan di Wuhan, Tiongkok pada tanggal 31 Desember 2019. Kemudian diidentifikasikan terjadi pada tanggal 3 hingga 5 Januari 2020.

Lanjut dia, pada 20 Januari 2020, Suhariyanto menambahkan, beberapa negara mulai melakukan langkah antisipasi berupa pengecekan suhu badan. Tapi, saat itu, World Health Organization (WHO) belum merekomendasikan pembatasan perjalanan ataupun ekspor impor.

Adapun Badan Pusat Statistik mencatat kinerja neraca dagang Januari mengalami defisit US$ 860 Juta dengan komposisi nilai ekspor mencapai US$ 13,41 miliar, turun 7,16 persen dibandingkan Desember 2019.

Disamping itu, ekspor ke negara tirai bambu tersebut tercatat mengalami penurunan sebesar US$ 211,9 juta secara bulanan (MoM). Beberapa komoditas yang mengalami penurunan adalah bijih, terak, dan abu logam yang turun 75,81 persen MoM, lemak hewan nabati yang turun 65,58 persen MoM, serta bahan kimia organik yang turun 28,27 persen MoM.

“Kondisi ekspor Indonesia ke Tiongkok masih dalam taraf oke” ujarnya.

Lanjutnya, ia mengatakan untuk dinamika perdagangan dengan Tiongkok menjadi salah satu faktor yang harus diwaspadai. Sebab, berdasarkan data Bank Dunia, asumsinya untuk penurunan ekonomi Tiongkok 1 persen akibat korona berpotensi menurunkan ekonomi hingga 0,3 persen terhadap ekonomi Indonesia.

Selain pengaruhnya pada kinerja perdagangan, yang paling terpengaruh juga kondisi wisatawan Tiongkok yang memiliki andil 12 persen terhadap keseluruhan jumlah wisatawan.



Sumber: BeritaSatu.com