Peneliti Inggris: Kedelai Lokal Lebih Bagus dari Impor
Sabtu, 28 Juli 2012 | 14:09 WIB
Air rendaman kedelai lokal lebih jernih.
Peneliti tempe asal Inggris, Jonathan Agranoff menyatakan kedelai produksi Indonesia dinilai lebih bagus dibanding kedelai impor dari Amerika Serikat (AS).
Sayangnya produsen tahu-tempe lokal masih berasumsi kedelai impor lebih besar dan lebih enak.
"Di Indonesia ada 14 jenis kedelai tapi belum dimanfaatkan sepenuhnya," kata Jonathan dalam diskusi bertajuk "Memble tanpa Kedele" di kawasan Cikini, Jakarta, hari ini.
Jonathan membandingkan, 1 kilogram (kg) kedelai impor hanya bisa menghasilkan sekitar 1,5 kg tempe. Sementara 1 kg kedelai lokal, mampu memproduksi 1,7 kg tempe. Selain itu, kata dia, berdasarkan penelitiannya di Malang, air rendaman kedelai lokal lebih jernih.
"Masalahnya, di Indonesia sudah biasa gunakan kedelai impor, mereka anggap kedelai impor ada biji besar sementara lokal kecil. Itu zaman dulu, karena bentuk kedelai lokal tidak distandarisasi," kata dia lagi.
Menurut dia, dengan berbagai keunggulan kedelai lokal, pemerintah tinggal memfasilitasi agar petani agar mau menanam kedelai. Meski diakuinya, cara ini memerlukan waktu, namun pemberdayaan petani merupakan satu cara mewujudkan swasembada kedelai pada 2014 mendatang. "Peta sudah siap untuk dijalankan," kata dia lagi.
Peneliti tempe asal Inggris, Jonathan Agranoff menyatakan kedelai produksi Indonesia dinilai lebih bagus dibanding kedelai impor dari Amerika Serikat (AS).
Sayangnya produsen tahu-tempe lokal masih berasumsi kedelai impor lebih besar dan lebih enak.
"Di Indonesia ada 14 jenis kedelai tapi belum dimanfaatkan sepenuhnya," kata Jonathan dalam diskusi bertajuk "Memble tanpa Kedele" di kawasan Cikini, Jakarta, hari ini.
Jonathan membandingkan, 1 kilogram (kg) kedelai impor hanya bisa menghasilkan sekitar 1,5 kg tempe. Sementara 1 kg kedelai lokal, mampu memproduksi 1,7 kg tempe. Selain itu, kata dia, berdasarkan penelitiannya di Malang, air rendaman kedelai lokal lebih jernih.
"Masalahnya, di Indonesia sudah biasa gunakan kedelai impor, mereka anggap kedelai impor ada biji besar sementara lokal kecil. Itu zaman dulu, karena bentuk kedelai lokal tidak distandarisasi," kata dia lagi.
Menurut dia, dengan berbagai keunggulan kedelai lokal, pemerintah tinggal memfasilitasi agar petani agar mau menanam kedelai. Meski diakuinya, cara ini memerlukan waktu, namun pemberdayaan petani merupakan satu cara mewujudkan swasembada kedelai pada 2014 mendatang. "Peta sudah siap untuk dijalankan," kata dia lagi.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
INFOGRAFIK
Kapolda Metro Jaya Bintang 3 Sesuai Arahan Prabowo
HUKUM & HANKAM
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




