Pembayaran Visa Contactless Tumbuh 700% Seiring Masifnya Transaksi Nontunai
Jumat, 7 Agustus 2020 | 15:13 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Perusahaan penyedia pembayaran digital Visa mengumumkan transaksi Visa contactless bertumbuh lebih 700 persen pada periode 2018 dan 2019 seiring meningkatnya masyarakat Indonesia melakukan pembayaran nontunai yang cepat, inovatif, dan aman. Pada periode yang sama, jumlah kartu kredit dan debit Visa contactless yang beredar di pasar meningkat sekitar 500 persen.
"Penggunaan kartu contactless tumbuh signifikan selama 24 bulan terakhir hingga akhir tahun 2019, ini sejalan dukungan kuat Visa dalam merealisasikan masyarakat nontunai di Indonesia serta misi pemerintah dan Bank Indonesia," kata Presiden Direktur Visa Indonesia Riko Abdurrahman dalam keterangan tertulisnya Jumat (7/8/2020).
Riko mengatakan Studi Consumer Payment Attitudes Visa terbaru menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia siap menyambut gaya hidup nontunai, di mana lebih dari 40 persen membawa uang tunai lebih sedikit dibandingkan dua tahun lalu. Alasan meningkatnya penggunaan pembayaran lewat kartu adalah persepsi bahwa membawa uang tunai dalam jumlah banyak tidak aman.
Secara global, teknologi contactless mengubah lanskap pembayaran di toko, dan membuka ruang inovasi pengalaman berbelanja lebih aman dan nyaman bagi pelanggan, serta meningkatkan produktivitas saat proses pembayaran (checkout) bagi merchant.
Di Indonesia, pembayaran Visa contactless memungkinkan konsumen menyelesaikan transaksi dengan kecepatan sekali tap, tanpa harus otorisasi PIN atau tanda tangan untuk nominal di bawah Rp 1 juta. Data Visa menunjukkan pemegang kartu contactless di Indonesia berbelanja rata-rata Rp 332.000 per transaksi baik menggunakan kartu debit maupun kredit contactless. Umumnya dalam kategori makanan dan bahan makanan, yang pada gilirannya berkontribusi menggencarkan pengenalan pembayaran nontunai di sektor tersebut.
Riko menjelaskan, solidnya pertumbuhan merchant yang mengadopsi teknologi contactless di Indonesia seiring faktor efisiensi, kelancaran, dan keamanan. Hal ini menjadikan pengalaman proses pembayaran contactless semakin diminati konsumen. "Studi kami menunjukkan bahwa 70 persen pemegang kartu contactless di Indonesia berencana lebih sering menggunakannya, dengan 77 persen di antaranya berencana menggunakan transaksi contactless setidaknya seminggu sekali," kata Riko.
Penerimaan pembayaran contactless juga semakin luas. Saat ini tersedia di berbagai kategori pedagang/merchant, termasuk hipermarket, restoran, kedai kopi, toko kue dan roti, SPBU, bioskop, dan toko serba ada, seperti Carrefour/Transmart Carrefour, Foodmart, Giant, Hero, Hypermart, Hyfresh, LOTTE Mart, Primo, Pepito, Bakmi GM, Hoka-Hoka Bento, McDonald’s Indonesia, Yoshinoya, Maxx Coffee, Tous Les Jours, Shell, Cinepolis, Cocomart, Guardian.
PrivyID Kolaborasi dengan 6 Bank
Sementara PrivyID, perusahaan penyedia layanan tanda tangan digital pertama di Indonesia, menjadi satu-satunya penyedia layanan tanda tangan digital yang lulus Ruang Uji Coba Terbatas Bank Indonesia (BI).
Inovasi tanda tangan digital PrivyID dapat diintegrasikan dengan sistem aplikasi kartu kredit secara daring milik enam bank terkemuka di Indonesia, yaitu Bank Mandiri, BRI, BNI, BNI Syariah, Bank CIMB Niaga, dan Bank Mega. Dalam setahun, kolaborasi ini berhasil mempermudah proses aplikasi kartu kredit bagi lebih dari 50.000 nasabah.

Aplikasi Kartu Kredit secara Online Menggunakan Tanda Tangan Digital PrivyID.
CEO PrivyID Marshall Pribadi mengatakan tanda tangan digital merupakan pengganti tanda tangan basah yang sah secara hukum. "Dengan penggunaan tanda tangan digital pada proses aplikasi secara online, nasabah tidak perlu bertatap muka atau pergi ke tempat umum seperti pusat perbelanjaan untuk melakukan pembuatan kartu kredit. "Tanda tangan digital merupakan solusi contactless yang tepat bagi penyedia jasa keuangan," ungkap Marshall.
Selain lebih aman dari segi protokol kesehatan, implementasi tanda tangan digital pada proses aplikasi kartu kredit secara daring juga menghasilkan tingkat kepuasan yang sangat tinggi di tengah nasabah. Survei yang diselenggarakan oleh Macromill Southeast Asia (Nusa Research) menyatakan bahwa 96 persen responden yang telah mencoba proses ini menilai proses aplikasi kartu kredit menggunakan tanda tangan digital lebih mudah dibandingkan proses registrasi manual.
Sebagian besar responden juga merasa tanda tangan digital lebih aman karena data pribadi di formulir pendaftaran langsung terintegrasi dengan bank tanpa melalui pihak ketiga. Tingginya tingkat keamanan dan kenyamanan nasabah saat melakukan pendaftaran kartu kredit tentu merupakan salah satu faktor penting untuk mendorong potensi pertumbuhan volume transaksi kartu kredit di Indonesia.
Senior Manager Card Product Management Bank Mandiri Hardian Chandrakusuma menyampaikan, PrivyID berhasil memberikan dampak positif pada proses operasional dan bisnis kartu kredit Bank Mandiri.Kondisi ini terefleksi dari hasil yang didapatkan Bank Mandiri selama menjalankan program Ruang Uji Coba Terbatas (regulatory sandbox) Bank Indonesia bersama PrivyID. "Rata-rata aplikan meningkat tiga kali lipat dibandingkan metode akuisisi eksisting," ujarnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
Kapolda Metro Jaya Bintang 3 Sesuai Arahan Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




