Defisit Perdagangan Beruntun Dapat Hancurkan Kepercayaan Pasar
Selasa, 28 Agustus 2012 | 08:43 WIB
Cadangan devisa Indonesia akan berkurang banyak
Defisit neraca perdagangan yang lebih dari enam bulan berturut-turut, bisa menghancurkan market confidence.
Bank Indonesia mengharapkan, neraca perdagangan positif pada kuartal IV-2012.
Jika market confidence terganggu, pemodal asing akan menarik kembali dananya secara besar- besaran dan hal itu akan memukul nilai tukar rupiah, seperti yang terjadi pada 1998.
Sedangkan neraca pembayaran Indonesia diproyeksikan kembali surplus pada paruh II- 2012.
Hal ini dikarenakan surplus transaksi modal dan finansial akan tetap besar (baik dari PMA, investasi portofolio, maupun penarikan utang luar negeri), serta defisit neraca perdagangan kemungkinan mengecil.
Defisit neraca perdagangan Indonesia harus segera diatasi.
Pemerintah juga harus tetap menjaga ekspor berbasis komoditas, bersamaan dengan dijalankannya program hilirisasi dan penguatan industri.
Pasar-pasar baru untuk perluasan ekspor juga harus dibuka, serta dilakukan rebalancing ekspor nonmigas ke negara-negara dengan defisit lebih dari US$ 100 juta.
Demikian rangkuman keterangan Menteri Perindustrian MS Hidayat, Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Kebijakan Publik, Perpajakan, dan Fiskal Haryadi Sukamdani, Direktur Eksekutif Departemen Perencanaan Strategis dan Hubungan Masyarakat BI Dody Budi Waluyo, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan, Head of World Trade HSBC Indonesia Nirmala Salli, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya Malang Ahmad Erani Yustika, serta Sekjen Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Harry Warganegara Harun.
Mereka memberikan keterangan secara terpisah di Jakarta.
“Kalau neraca perdagangan terus-terusan defisit bisa menurunkan kepercayaan masyarakat, karena cadangan devisa Indonesia akan berkurang banyak,” ujar Haryadi Sukamdani kepada Investor Daily di Jakarta.
Akibatnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat bisa merosot dan memicu pembalikan modal asing besar-besaran (sudden reversal). Hal ini dapat menghancurkan pasar modal dan perekonomian Indonesia.
Ahmad Erani menegaskan, pemerintah harus segera mengatasi defisit perdagangan yang terus membengkak dalam beberapa bulan belakang ini.
Hal itu penting agar kepercayaan publik, baik domestik maupun internasional, terhadap kinerja RI tidak ikut tergerus.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pada April, Mei, dan Juni 2012 terjadi defisit necara perdagangan masing-masing sebesar US$ 641 juta, US$ 207,2 juta, dan US$ 1,32 miliar.
“Sebelum melebar ke mana-mana, Pemerintah Indonesia harus segera mengambil langkah antisipatif, tidak hanya untuk kepentingan jangka pendek, tapi juga jangka panjang. Dalam jangka panjang, harus ada upaya memperbaiki struktur ekonomi, dengan berfokus pada industri domestik,” kata Ahmad Erani kepada Investor Daily di Jakarta.
Erani menjelaskan, defisit neraca perdagangan yang terus meningkat akan menggerus devisa negara, menurunkan nilai tukar rupiah, mengganggu anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN), dan akhirnya membuat kepercayaan publik kepada pemerintah turun.
Defisit ini harus diatasi dengan memperbaiki struktur ekonomi dan merevisi kebijakan agar produk ekspor RI tidak tergantung lagi pada bahan-bahan impor, serta mempunyai nilai tambah tinggi.
“Dalam jangka pendek, defisit ini harus diatasi dengan diversifikasi ekspor,” ujar dia.
Nirmala Salli menegaskan, defisit perdagangan bisa tidak berlanjut jika Indonesia mulai mencari peluang pasar ekspor yang baru.
Defisit neraca perdagangan yang terjadi sejak April hingga Juni 2012 dikarenakan krisis ekonomi Eropa membuat permintaan dan harga komoditas global turun.
“Di tengah ekspor melemah, impor semakin membanjir. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia harus segera mencari jalan keluar dengan mencari pasar baru seperti negara-negara di Afrika, agar defisit perdagangan bisa disetop,” tutur Nirmala.
Harry Warganegara mengatakan, beberapa pasar ekspor yang masih memiliki potensi untuk digarap lebih lanjut adalah Asean, Asia Pasifik, Afrika, dan Timur Tengah.
Selain membuka pasar baru, strategi jual forward dapat dilakukan, untuk kepastian penjualan ke depan.
“Selain tetap berupaya meningkatkan ekspor, laju impor harus ditekan, terutama barang jadi yang bernilai besar, seperti produk-produk elektronik dan otomotif,” tandas Harry.
MS Hidayat mengatakan, defisit transaksi berjalan (current account) yang kini terjadi dikarenakan besarnya importasi bahan baku, barang modal, dan barang konsumsi.
Sementara itu, ekspor Indonesia terkoreksi akibat perlambatan ekonomi di kawasan Eropa dan Amerika Serikat.
“Sebanyak 70 persen kebutuhan bahan baku dan barang modal industri selama semester I-2012 dipasok dari produk impor. Kondisi ini harus segera diatasi, dengan memperkuat struktur industri manufaktur di Tanah Air, dengan membangun industri bahan baku dan barang modal,” ucap mantan ketua umum Kadin Indonesia itu di Jakarta.
Kalau investasi yang saat ini sudah direncanakan segera terealisasi, lanjut dia, defisit bisa diatasi dan ada dana yang mengalir melalui investasi riil.
Sementara itu, pada awal 2012, Gita Wirjawan menargetkan ekspor tahun ini minimal sama dengan tahun lalu atau sekitar US$203,5 miliar.
Ekspor 2011 terdiri atas nonmigas sebesar US$162 miliar dan migas US$41,5 miliar.
Dari total ekspor nonmigas senilai US$76,83 miliar selama semester I- 2012, kontribusi sektor berbasis komoditas masih dominan. Tiga besar kontributor ekspor adalah bahan bakar mineral senilai US$13,96 miliar, minyak/lemak nabati/hewani (terutama sawit) US$10,24 miliar, dan karet US$ 5,76 miliar.
Darmin Nasution mengatakan, sektor komoditas sudah menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia sejak dulu kala.
“Hal ini bisa dilihat dalam 10 tahun terakhir, perkebunan sawit hampir merata di seluruh Indonesia. Potensi untuk mengembangkan kredit komoditas juga masih cukup besar, jika melihat rasio kredit terhadap PDB (produk domestik bruto) yang masih rendah,” papar dia.
Darmin tidak khawatir terjadi over- heating jika penyaluran kredit pada sektor komoditas tinggi. Hal ini dikarenakan kredit tersebut digunakan untuk investasi berorientasi ekspor, tidak seper ti penyaluran kredit ke proper ti dan sektor konsumer lain.
“Beberapa bulan lalu, per tumbuhan real estat cepat sekali, sehingga harga rumah dan tanah naik tinggi sekali. Maka dari itu, pada semester II ini, BI akan mengerem per tum- buhan kredit pada level 23-24% dari 26% pada semester I-2012,” kata Darmin usai halalbihalal di Jakarta.
Defisit neraca perdagangan yang lebih dari enam bulan berturut-turut, bisa menghancurkan market confidence.
Bank Indonesia mengharapkan, neraca perdagangan positif pada kuartal IV-2012.
Jika market confidence terganggu, pemodal asing akan menarik kembali dananya secara besar- besaran dan hal itu akan memukul nilai tukar rupiah, seperti yang terjadi pada 1998.
Sedangkan neraca pembayaran Indonesia diproyeksikan kembali surplus pada paruh II- 2012.
Hal ini dikarenakan surplus transaksi modal dan finansial akan tetap besar (baik dari PMA, investasi portofolio, maupun penarikan utang luar negeri), serta defisit neraca perdagangan kemungkinan mengecil.
Defisit neraca perdagangan Indonesia harus segera diatasi.
Pemerintah juga harus tetap menjaga ekspor berbasis komoditas, bersamaan dengan dijalankannya program hilirisasi dan penguatan industri.
Pasar-pasar baru untuk perluasan ekspor juga harus dibuka, serta dilakukan rebalancing ekspor nonmigas ke negara-negara dengan defisit lebih dari US$ 100 juta.
Demikian rangkuman keterangan Menteri Perindustrian MS Hidayat, Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Kebijakan Publik, Perpajakan, dan Fiskal Haryadi Sukamdani, Direktur Eksekutif Departemen Perencanaan Strategis dan Hubungan Masyarakat BI Dody Budi Waluyo, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan, Head of World Trade HSBC Indonesia Nirmala Salli, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya Malang Ahmad Erani Yustika, serta Sekjen Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Harry Warganegara Harun.
Mereka memberikan keterangan secara terpisah di Jakarta.
“Kalau neraca perdagangan terus-terusan defisit bisa menurunkan kepercayaan masyarakat, karena cadangan devisa Indonesia akan berkurang banyak,” ujar Haryadi Sukamdani kepada Investor Daily di Jakarta.
Akibatnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat bisa merosot dan memicu pembalikan modal asing besar-besaran (sudden reversal). Hal ini dapat menghancurkan pasar modal dan perekonomian Indonesia.
Ahmad Erani menegaskan, pemerintah harus segera mengatasi defisit perdagangan yang terus membengkak dalam beberapa bulan belakang ini.
Hal itu penting agar kepercayaan publik, baik domestik maupun internasional, terhadap kinerja RI tidak ikut tergerus.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pada April, Mei, dan Juni 2012 terjadi defisit necara perdagangan masing-masing sebesar US$ 641 juta, US$ 207,2 juta, dan US$ 1,32 miliar.
“Sebelum melebar ke mana-mana, Pemerintah Indonesia harus segera mengambil langkah antisipatif, tidak hanya untuk kepentingan jangka pendek, tapi juga jangka panjang. Dalam jangka panjang, harus ada upaya memperbaiki struktur ekonomi, dengan berfokus pada industri domestik,” kata Ahmad Erani kepada Investor Daily di Jakarta.
Erani menjelaskan, defisit neraca perdagangan yang terus meningkat akan menggerus devisa negara, menurunkan nilai tukar rupiah, mengganggu anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN), dan akhirnya membuat kepercayaan publik kepada pemerintah turun.
Defisit ini harus diatasi dengan memperbaiki struktur ekonomi dan merevisi kebijakan agar produk ekspor RI tidak tergantung lagi pada bahan-bahan impor, serta mempunyai nilai tambah tinggi.
“Dalam jangka pendek, defisit ini harus diatasi dengan diversifikasi ekspor,” ujar dia.
Nirmala Salli menegaskan, defisit perdagangan bisa tidak berlanjut jika Indonesia mulai mencari peluang pasar ekspor yang baru.
Defisit neraca perdagangan yang terjadi sejak April hingga Juni 2012 dikarenakan krisis ekonomi Eropa membuat permintaan dan harga komoditas global turun.
“Di tengah ekspor melemah, impor semakin membanjir. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia harus segera mencari jalan keluar dengan mencari pasar baru seperti negara-negara di Afrika, agar defisit perdagangan bisa disetop,” tutur Nirmala.
Harry Warganegara mengatakan, beberapa pasar ekspor yang masih memiliki potensi untuk digarap lebih lanjut adalah Asean, Asia Pasifik, Afrika, dan Timur Tengah.
Selain membuka pasar baru, strategi jual forward dapat dilakukan, untuk kepastian penjualan ke depan.
“Selain tetap berupaya meningkatkan ekspor, laju impor harus ditekan, terutama barang jadi yang bernilai besar, seperti produk-produk elektronik dan otomotif,” tandas Harry.
MS Hidayat mengatakan, defisit transaksi berjalan (current account) yang kini terjadi dikarenakan besarnya importasi bahan baku, barang modal, dan barang konsumsi.
Sementara itu, ekspor Indonesia terkoreksi akibat perlambatan ekonomi di kawasan Eropa dan Amerika Serikat.
“Sebanyak 70 persen kebutuhan bahan baku dan barang modal industri selama semester I-2012 dipasok dari produk impor. Kondisi ini harus segera diatasi, dengan memperkuat struktur industri manufaktur di Tanah Air, dengan membangun industri bahan baku dan barang modal,” ucap mantan ketua umum Kadin Indonesia itu di Jakarta.
Kalau investasi yang saat ini sudah direncanakan segera terealisasi, lanjut dia, defisit bisa diatasi dan ada dana yang mengalir melalui investasi riil.
Sementara itu, pada awal 2012, Gita Wirjawan menargetkan ekspor tahun ini minimal sama dengan tahun lalu atau sekitar US$203,5 miliar.
Ekspor 2011 terdiri atas nonmigas sebesar US$162 miliar dan migas US$41,5 miliar.
Dari total ekspor nonmigas senilai US$76,83 miliar selama semester I- 2012, kontribusi sektor berbasis komoditas masih dominan. Tiga besar kontributor ekspor adalah bahan bakar mineral senilai US$13,96 miliar, minyak/lemak nabati/hewani (terutama sawit) US$10,24 miliar, dan karet US$ 5,76 miliar.
Darmin Nasution mengatakan, sektor komoditas sudah menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia sejak dulu kala.
“Hal ini bisa dilihat dalam 10 tahun terakhir, perkebunan sawit hampir merata di seluruh Indonesia. Potensi untuk mengembangkan kredit komoditas juga masih cukup besar, jika melihat rasio kredit terhadap PDB (produk domestik bruto) yang masih rendah,” papar dia.
Darmin tidak khawatir terjadi over- heating jika penyaluran kredit pada sektor komoditas tinggi. Hal ini dikarenakan kredit tersebut digunakan untuk investasi berorientasi ekspor, tidak seper ti penyaluran kredit ke proper ti dan sektor konsumer lain.
“Beberapa bulan lalu, per tumbuhan real estat cepat sekali, sehingga harga rumah dan tanah naik tinggi sekali. Maka dari itu, pada semester II ini, BI akan mengerem per tum- buhan kredit pada level 23-24% dari 26% pada semester I-2012,” kata Darmin usai halalbihalal di Jakarta.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
INFOGRAFIK
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




