ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Saham Bank Syariah Indonesia Menurun, Ini Penyebabnya

Kamis, 4 Februari 2021 | 20:02 WIB
MA
FB
Penulis: Muhammad Nabil Alfaruq | Editor: FMB
Bagian “teller” BSI (Bank Syariah Indonesia)  menghitung uang di kantor cabang BSI di Jalan S Hasanudin No 57, Jakarta Selatan, Rabu 3 Februari 2021.
Bagian “teller” BSI (Bank Syariah Indonesia) menghitung uang di kantor cabang BSI di Jalan S Hasanudin No 57, Jakarta Selatan, Rabu 3 Februari 2021. (BeritaSatuPhoto/Joanito De Saojoao)

Jakarta, Beritasatu.com — Saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) ditutup menurun 70 poin (2,55%) ke level Rp 2,680 pada perdagangan hari ini. Saham BRIS sempat dibuka menguat setelah memulai debut di pasar modal pada hari ini.

Berdasarkan data RTI, saham BRIS ditutup dengan price earning ratio (PER) 102,47 dan market capital Rp 109,96 triliun. Kemudian, saham perseroan menjadi salah satu yang paling aktif ditransaksikan berdasarkan nilai dengan jumlah 671,1 miliar atau menurun 110 poin (2,55%).

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Okie Ardiastama mengatakan, penurunan saham BRIS pada penutupan hari ini disebabkan oleh antisipasi pelaku pasar terhadap skema lanjutan dari aksi korporasi pasca-dilakukannya merger. "Pelaku pasar akan mencermati upaya manajemen dalam memperkuat kapitalisasi pasar lewat skema right issue," ujar dia kepada Investor Daily, Kamis (4/2/2021).

Okie menilai, akhir pekan ini saham BRIS masih berpotensi tertekan namun terbatas, hal ini seiring dengan kepastian dari rencaha rights issue perseroan. Sementara itu, dalam jangka waktu panjang saham perseroan dinilai masih menarik, terlebih jika melihat prospek perekonomian syariah yang masih memiliki ruang pertumbuhan.

ADVERTISEMENT

Namun, para pelaku pasar juga perlu untuk mempertimbangkan harga saham BRIS yang saat ini diperdagangkan cukup premium, yakni berada pada 4,75 kali PBV di mana rata-rata perusahaan perbankan syariah di Asia diperdagangkan pada 2 hingga 3 kali PBV.

"Investor juga perlu memperhatikan stabilitas dari pertumbuhan interest income dalam 5 tahun terakhir untuk dapat menjadi pertimbangan guna strategi investasi dalam jangka panjang," ujar dia.

Sementara itu, Equity Analyst PT Philip Sekuritas Indonesia, Anugerah Zamzami Nasr mengatakan, penutupan pada hari ini dinilai wajar, sebab minggu ini saham BRIS sudah meningkat 9,8% dan ke depan support level akan berada di 2.300 dan resistance level 2.950 - 3.150.

"Kenaikan saham BRIS sudah lumayan minggu ini, khususnya tanggal 1 Februari. Tekanan profit taking membuat penurunan masih wajar," ujar dia.

Pekan ini, para investor direkomendasikan untuk buy on weakness di harga 2.300 - 2.500 apabila ingin berinvestasi di saham BRIS.

Di lain pihak, Analis Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas mengatakan, penurunah saham BRIS hari ini disebabkan oleh aksi profit taking dan secara valuasi juga sudah tergolong mahal.

"Meskipun sudah merger, valuasinya tetep mahal. Saat ini PBV berada di 5,3 kali," ujar dia.

Sukarno menilai, saat ini harga saham BRIS masih konsolidasi dengan kecenderungan tren menurun dalam jangka pendek. Investor disarankan untuk antisipasi jika candle selanjutnya bearish lagi, maka berpotensi ke support level 2.490-2.500. Namun, skenario bullish masih berpeluang kembali di resistance level 2.970 dengan syarat breakup di 2.840

"Untuk investasi jangka panjang masih layak diinvestasikan, tapi alangkah baiknya menunggu lebih murah. Investor mungkin bisa wait and see dulu, hal ini seiring dengan rencana RI, jadi dilihat valuasi terbaru," ujar dia.

Sebelumnya, saham perseroan sempat mengalami penguatan pada perdagangan hari ini di level 2.770, meningkat 0,73% dari harga pembukaan di level Rp 2.750 seiring dengan Debut Bank Syariah Indonesia di pasar modal.

Direktur Utama Bank Syariah Indonesia Hery Gunardi menyampaikan, harga saham BRIS pada saat initial public offering (IPO) sebesar Rp 510 per unit saham, sedangkan per 3 Februari 2021 mencapai Rp 2.750 per unit saham. Artinya, harga saham ini naik sekitar 5 kali lipat dibandingkan dengan posisi saat IPO. Selain itu, market cap BRIS pada saat IPO sebesar Rp 4,96 triliun. Per 3 Februari 2021, market cap BRIS naik puluhan kali lipat mencapai Rp 112,84 triliun.

"Melihat kinerja saham BRIS yang positif di tengah pandemi, kami berharap BRIS dapat menjadi primadona di bursa. Dan ke depan BRIS bisa dapat masuk ke dalam Indeks IDX BUMN20," tegas Hery pada Opening Bell Ceremony PT Bank Syariah Indonesia Tbk IDX Debut, Kamis (4/2/2021).

Selain itu, pihaknya juga berharap kinerja ini semakin mendorong dan menginspirasi sektor keuangan dan perusahaan keuangan syariah lain untuk melantai di bursa.

Bank Syariah Indonesia tercatat sebagai emiten di Bursa Efek Indonesia dengan kode BRIS. Komposisi pemegang saham Bank Syariah Indonesia terdiri atas PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) 50,95%, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) 24,91%, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) 17,29%, DPLK BRI-Saham Syariah 2%, dan publik 4,4%. 



 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Milad ke-5, BSI Gelar

Milad ke-5, BSI Gelar "Langkah Emas" Ajak Masyarakat Bangun Generasi Sehat dan Merdeka Finansial

LIFESTYLE
Aplikasi BYOND BSI Lumpuh, Pengguna Keluhkan Layanan

Aplikasi BYOND BSI Lumpuh, Pengguna Keluhkan Layanan

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon