Jamsostek Siap Serap Seluruh Right Issue BTN
Jumat, 12 Oktober 2012 | 08:44 WIB
Sebagai salah satu pemegang saham BTN, Jamsostek akan mengeksekusi haknya dalam rights issue BTN
PT Jamsostek siap menyerap seluruh saham baru yang diterbitkan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) melalui penawaran umum terbatas saham (rights issue). Jamsostek menyiapkan dana sebesar Rp2,5 triliun.
Direktur Utama Jamsostek Elvyn G Masasya menyatakan, sebagai salah satu pemegang saham BTN, Jamsostek akan mengeksekusi haknya dalam rights issue BTN. Namun, dia enggan menyebutkan jumlah kepemilikan saham Jamsostek pada BTN.
Jamsostek juga siap mengambil saham baru BTN yang tidak dieksekusi pemegang saham lainnya. Namun, hal tersebut diserahkan sepenuhnya ke BTN.
“Jamsostek memiliki dana kelolaan yang dialokasikan untuk investasi pada saham sebesar Rp25 triliun. Dana untuk menyerap saham baru BTN akan diambil dari alokasi investasi itu,” ujar Elvyn di Jakarta, Kamis (11/10).
BTN akan melepas 1,5 miliar (17 persen) saham baru dengan harga penawaran Rp1.000-1.400 per saham. Emiten berkode saham BBTN itu menargetkan perolehan dana sekitar Rp1,5-2,1 triliun. Dana hasil rights issue akan digunakan untuk mendukung ekspansi kredit perseroan. Penetapan harga pelaksanaan rencananya diumumkan pada 5 November 2012.
Sekretaris Perusahaan BTN Rakhmat Nugroho sebelumnya menyatakan, setiap pemegang 555 ribu saham lama berhak atas 94.943 hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD).
Satu HMETD terdiri atas satu saham baru. Perseroan, kata dia, telah menunjuk Bahana Securities, Danareksa, dan Mandiri Sekuritas sebagai pembeli siaga. Ketiga BUMN sekuritas itu akan membeli 425 juta saham baru yang tidak dieksekusi pemegang saham lama.
Pemerintah, kata dia, selaku pemegang saham mayoritas juga tidak akan mengeksekusi haknya sebesar 1,08 miliar saham. Saat ini, pemerintah menguasai 71,8 persen saham BTN.
“Pemerintah akan menjual HMETD ke Bahana, Danareksa, dan Mandiri Sekuritas. Selanjutnya, ketiga per usahaan itu akan menjual saham baru BTN melalui penawaran terbatas ke beberapa investor,” kata dia belum lama ini.
Dia menambahkan, setelah rights issue, kepemilikan saham pemerintah pada BTN ter- pangkas menjadi 61,3 persen. Porsi saham pemerintah akan turun lagi menjadi 60 persen setelah perseroan menuntaskan program management and employee stock option pada 2017.
Perseroan akan menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada 7 November 2012, dengan agenda persetujuan rights issue. Tanggal awal perdagangan dengan HMETD (cum rights) di pasar reguler dan negosiasi dijadwalkan pada 14 November 2012, sedangkan ex rights pada 19 November 2012.
Distribusi dan pencatatan saham baru masing-masing pada 22 dan 23 November 2012. Tanggal akhir pelaksanaan HMETD pada 29 November 2012
PT Jamsostek siap menyerap seluruh saham baru yang diterbitkan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) melalui penawaran umum terbatas saham (rights issue). Jamsostek menyiapkan dana sebesar Rp2,5 triliun.
Direktur Utama Jamsostek Elvyn G Masasya menyatakan, sebagai salah satu pemegang saham BTN, Jamsostek akan mengeksekusi haknya dalam rights issue BTN. Namun, dia enggan menyebutkan jumlah kepemilikan saham Jamsostek pada BTN.
Jamsostek juga siap mengambil saham baru BTN yang tidak dieksekusi pemegang saham lainnya. Namun, hal tersebut diserahkan sepenuhnya ke BTN.
“Jamsostek memiliki dana kelolaan yang dialokasikan untuk investasi pada saham sebesar Rp25 triliun. Dana untuk menyerap saham baru BTN akan diambil dari alokasi investasi itu,” ujar Elvyn di Jakarta, Kamis (11/10).
BTN akan melepas 1,5 miliar (17 persen) saham baru dengan harga penawaran Rp1.000-1.400 per saham. Emiten berkode saham BBTN itu menargetkan perolehan dana sekitar Rp1,5-2,1 triliun. Dana hasil rights issue akan digunakan untuk mendukung ekspansi kredit perseroan. Penetapan harga pelaksanaan rencananya diumumkan pada 5 November 2012.
Sekretaris Perusahaan BTN Rakhmat Nugroho sebelumnya menyatakan, setiap pemegang 555 ribu saham lama berhak atas 94.943 hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD).
Satu HMETD terdiri atas satu saham baru. Perseroan, kata dia, telah menunjuk Bahana Securities, Danareksa, dan Mandiri Sekuritas sebagai pembeli siaga. Ketiga BUMN sekuritas itu akan membeli 425 juta saham baru yang tidak dieksekusi pemegang saham lama.
Pemerintah, kata dia, selaku pemegang saham mayoritas juga tidak akan mengeksekusi haknya sebesar 1,08 miliar saham. Saat ini, pemerintah menguasai 71,8 persen saham BTN.
“Pemerintah akan menjual HMETD ke Bahana, Danareksa, dan Mandiri Sekuritas. Selanjutnya, ketiga per usahaan itu akan menjual saham baru BTN melalui penawaran terbatas ke beberapa investor,” kata dia belum lama ini.
Dia menambahkan, setelah rights issue, kepemilikan saham pemerintah pada BTN ter- pangkas menjadi 61,3 persen. Porsi saham pemerintah akan turun lagi menjadi 60 persen setelah perseroan menuntaskan program management and employee stock option pada 2017.
Perseroan akan menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada 7 November 2012, dengan agenda persetujuan rights issue. Tanggal awal perdagangan dengan HMETD (cum rights) di pasar reguler dan negosiasi dijadwalkan pada 14 November 2012, sedangkan ex rights pada 19 November 2012.
Distribusi dan pencatatan saham baru masing-masing pada 22 dan 23 November 2012. Tanggal akhir pelaksanaan HMETD pada 29 November 2012
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
INFOGRAFIK
Kapolda Metro Jaya Bintang 3 Sesuai Arahan Prabowo
HUKUM & HANKAM
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Seusai Divonis 18 Tahun, Nadiem Makarim Didukung Artis-Influencer




