Konsumsi Obat Modern Asli Indonesia Meningkat pada Masa Pandemi
Jumat, 25 Juni 2021 | 11:58 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Pelaksana tugas (Plt) Dirjen Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemkes), Arianti Anaya mengatakan, pandemi Covid-19 menjadi momentum meningkatkan konsumsi obat modern asli Indonesia.
Terlebih, di tengah meningkatnya kasus Covid-19 semakin banyak masyarakat yang sadar akan pentingnya mengonsumsi imunomodulator yang diproduksi dari tanaman obat asli Indonesia.
"Kalau pandemi ini berkepanjangan, tentu akan lebih bagus mengonsumsi obat herbal yang bahan bakunya dari dalam negeri. Semakin banyak obat modern asli Indonesia (OMAI) jenis fitofarmaka dicari masyarakat, maka suatu saat nanti kita tidak akan lagi bergantung pada obat-obatan berbahan baku impor," ujar Arianti di sela virtual Dialog Nasional bertema Kiprah 17 Tahun Obat Modern Asli Indonesia Fitofarmaka, Kamis (24/6/2021).
Menurut Arianti, saat ini instansinya tengah menyusun formularium khusus OMAI. Sehingga nantinya obat-obatan herbal buatan dalam negeri bisa masuk dalam daftar obat Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang bisa diberikan kepada pasien peserta BPJS Kesehatan.
"Rencananya OMAI fitofarmaka yang sudah mendapat izin edar dari BPOM akan masuk formularium, karena sudah dipastikan keamanannya," jelas Arianti.
Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik BPOM, Reri Indriani, mengungkapkan sejak Covid-19 mulai menyebar di Indonesia tahun lalu, permintaan OMAI fitofarmaka imunomodulator meningkat signifikan.
"Hal tersebut didorong oleh keinginan masyarakat untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya terhadap serangan penyakit. Tingginya permintaan suplemen imunitas tubuh, tak pelak membuat banyak produsen obat-obatan herbal mengajukan berkas permohonan izin untuk mengedarkan obat buatannya," katanya.
Selama pandemi, lanjut Reri, ada peningkatan pengajuan berkas 35% hingga 40% untuk OMAI ini selama pandemi. Tugas BPOM adalah mengawalnya mulai dari uji pra klinis, uji klinis dan memastikan semua proses produksinya memenuhi standar yang berlaku.
"Namun, kami kemudian membuat kebijakan relaksasi untuk mempercepat waktu perizinannya sehingga bisa cepat diproduksi dan dikonsumsi masyarakat," kata Reri.
Sementara itu, Direktur Pengembangan Bisnis dan Saintifik Dexa Medica, Raymond Tjandrawinata mengatakan, dari 26 OMAI fitofarmaka yang sudah mendapatkan izin edar dari BPOM, Stimuno buatan PT Dexa Medica adalah salah satu diantaranya.
"Stimuno bahkan menjadi salah satu dari lima fitofarmaka yang pertama kali mendapatkan izin edar dari BPOM sejak 2004 atau 17 tahun lalu. Kini, Stimuno tidak hanya dipasarkan Dexa di dalam negeri namun juga ke beberapa negara. Dari hasil uji klinik yang dilakukan di beberapa negara, Stimuno aman digunakan untuk pencegahan masuknya virus," jelasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
Kapolda Metro Jaya Bintang 3 Sesuai Arahan Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




