ADB: Meski Tembus US$6,2 T, Pasar Obligasi Asia Masih Berisiko
Kamis, 22 November 2012 | 13:51 WIB
Pasar obligasi korporasi di kawasan Asia lebih banyak diminati dibanding pasar obligasi pemerintah.
Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) dalam laporan Asia Bond Monitor terbaru menyebutkan pasar obligasi berdenominasi mata uang lokal di kawasan Asia Timur masih berisiko, meski menunjukkan kinerja membaik.
Pasar obligasi Asia hingga kuartal III-2012 mencapai US$6,2 triliun, naik 11 persen dari kuartal III-2011.
"Amerika Serikat (AS) masih bisa jatuh karena hambatan fiskal dan kepemimpinan China yang baru harus menghadapi perlambatan pertumbuhan," ujar Kepala Kantor ADB untuk Integrasi Ekonomi Regional, Iwan Jaya Azis di Jakarta, Kamis (22/11).
Dalam laporan ADB, Iwan mengatakan, potensi risiko tersebut berupa volatilitas arus modal masuk (capital inflow) dan inflasi. Guncangan eksternal dan volatilitas arus masuk juga semakin tertransmisikan antar pasar domestik dan antar pasar di seluruh Asia.
"Hal ini berarti otoritas regulasi di Asia perlu memantau dan mengkoordinasikan kebijakan pasar nasional maupun regional dan global," kata Iwan.
Laporan ini juga menunjukkan, di sebagian besar negara Asia, imbal hasil obligasi yang diterima investor juga menurun pada kuartal III-2012. Hal itu terjadi pada negara-negara yang mampu menjaga inflasi, kinerja ekonomi kuat serta stabilnya permintaan.
"Namun di China imbal hasil menjadi lebih tinggi karena kekhawatiran perlambatan pertumbuhan ekonomi dan inflasi," kata Iwan.
Laporan tersebut juga menyatakan, pasar obligasi mata uang lokal di kawasan Asia hingga kuartal III-2012 mencapai US$6,2 triliun atau tumbuh 3,5 persen dibandingkan kuartal II-2012. Pencapaian ini juga naik 11 persen dibandingkan kuartal III-2011.
Obligasi pemerintah masih mendominasi dengan nilai obligasi yang beredar senilai US$4,1 triliun (oustanding) atau naik 3,1 persen dari kuartal II-2012.
Hingga kuartal III-2012, pasar obligasi Malaysia dan Singapura mengalami pertumbuhan kuat, khususnya obligasi pemerintah. Sementara pasar obligasi di Korea, Hong Kong dan China hanya mengalami sedikit peningkatan.
Secara umum, pasar obligasi korporasi di kawasan Asia lebih banyak diminati dibanding pasar obligasi pemerintah. Nilainya mencapai US$2,2 triliun pada akhir September 2012, atau naik 4,2 persen dibanding Juni 2012.
Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) dalam laporan Asia Bond Monitor terbaru menyebutkan pasar obligasi berdenominasi mata uang lokal di kawasan Asia Timur masih berisiko, meski menunjukkan kinerja membaik.
Pasar obligasi Asia hingga kuartal III-2012 mencapai US$6,2 triliun, naik 11 persen dari kuartal III-2011.
"Amerika Serikat (AS) masih bisa jatuh karena hambatan fiskal dan kepemimpinan China yang baru harus menghadapi perlambatan pertumbuhan," ujar Kepala Kantor ADB untuk Integrasi Ekonomi Regional, Iwan Jaya Azis di Jakarta, Kamis (22/11).
Dalam laporan ADB, Iwan mengatakan, potensi risiko tersebut berupa volatilitas arus modal masuk (capital inflow) dan inflasi. Guncangan eksternal dan volatilitas arus masuk juga semakin tertransmisikan antar pasar domestik dan antar pasar di seluruh Asia.
"Hal ini berarti otoritas regulasi di Asia perlu memantau dan mengkoordinasikan kebijakan pasar nasional maupun regional dan global," kata Iwan.
Laporan ini juga menunjukkan, di sebagian besar negara Asia, imbal hasil obligasi yang diterima investor juga menurun pada kuartal III-2012. Hal itu terjadi pada negara-negara yang mampu menjaga inflasi, kinerja ekonomi kuat serta stabilnya permintaan.
"Namun di China imbal hasil menjadi lebih tinggi karena kekhawatiran perlambatan pertumbuhan ekonomi dan inflasi," kata Iwan.
Laporan tersebut juga menyatakan, pasar obligasi mata uang lokal di kawasan Asia hingga kuartal III-2012 mencapai US$6,2 triliun atau tumbuh 3,5 persen dibandingkan kuartal II-2012. Pencapaian ini juga naik 11 persen dibandingkan kuartal III-2011.
Obligasi pemerintah masih mendominasi dengan nilai obligasi yang beredar senilai US$4,1 triliun (oustanding) atau naik 3,1 persen dari kuartal II-2012.
Hingga kuartal III-2012, pasar obligasi Malaysia dan Singapura mengalami pertumbuhan kuat, khususnya obligasi pemerintah. Sementara pasar obligasi di Korea, Hong Kong dan China hanya mengalami sedikit peningkatan.
Secara umum, pasar obligasi korporasi di kawasan Asia lebih banyak diminati dibanding pasar obligasi pemerintah. Nilainya mencapai US$2,2 triliun pada akhir September 2012, atau naik 4,2 persen dibanding Juni 2012.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
INFOGRAFIK
Kapolda Metro Jaya Bintang 3 Sesuai Arahan Prabowo
HUKUM & HANKAM
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




