ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Emiten Serap Dana Rp103 Triliun

Kamis, 29 November 2012 | 08:24 WIB
IW
B
Penulis: ID/ Elisabeth Gloria/ WBP | Editor: B1
Dirut BEI Ito Warsito (kiri) dan Ketua Bapepam-LK Nurhaida (kanan)
Dirut BEI Ito Warsito (kiri) dan Ketua Bapepam-LK Nurhaida (kanan) (Antara)
Kondisi pasar modal Indonesia terus berkembang, terutama pasar saham dan obligasi. Ke depan, kita perlu kembangkan lagi corporate bond.

Sebanyak 78 emiten mengantongi total dana Rp103,3 triliun dari pasar modal Indonesia selama Januari-November 2012.

Dana tersebut diperoleh dari hasil penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham, penawaran umum terbatas saham (rights issue), dan emisi obligasi.

Berdasarkan data Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam- LK), nilai emisi obligasi mencapai Rp80,75 triliun. Sedangkan IPO saham senilai Rp8,01 triliun dan rights issue Rp14,57 triliun.

Adapun jumlah penerbitan obligasi sebanyak 44 emisi, terdiri atas 39 emisi dari emiten sektor jasa dan lima emisi sektor riil. Di sektor jasa, nilai emisi obligasi mencapai Rp74,06 triliun, sedangkan sektor riil Rp6,69 triliun.

Sementara itu, perusahaan yang melangsungkan IPO saham sebanyak 18 perusahaan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 13 perusahaan berasal dari sektor jasa dengan nilai IPO mencapai Rp6,59 triliun. Di sektor riil, lima perusahaan mlaksanak IPO senilai Rp1,42 triliun.

Bapepam-LK juga mencatat, sebanyak 16 emiten menggelar rights issue, terdiri atas 15 emiten sektor jasa dan satu emiten sektor riil. Dana yang dihimpun emiten sektor jasa dari penerbitan saham baru itu mencapai Rp13,74 triliun. Sedangkan emiten sektor riil menyerap dana dari investor sebesar Rp832 miliar.

“Pasar modal Indonesia terus ber tumbuh. Hal itu terbukti dari pertumbuhan jumlah emiten baru (IPO), penerbitan obligasi, dan rights issue,” kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nurhaida di sela acara Investor Summit 2012 di Jakarta, Rabu (28/11).

Nurhaida menegaskan, pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama lima tahun terakhir juga tumbuh signifikan. Pada 2007, IHSG berada pada posisi 2.745. Kemarin, indeks ber tengger pada level 4.304.

Pasar obligasi di pasar modal Indonesia juga tumbuh signifikan. Namun, kata dia, pasar obligasi masih didominasi investor lokal. Berbeda dengan pasar saham, porsi investor asing mencapai 59,4 persen, sedangkan investor domestik sebesar 40,6 persen.

“Kepemilikan obligasi masih mayoritas domestik sebesar 95 persen, investor asing masih sedikit. Ini perlu kita dorong agar obligasi korporasi juga bisa dibeli oleh investor asing,” ujar Nurhaida.

Investor asing, menurut dia, banyak menyerbu surat berharga negara (SBN), terutama surat utang negara (SUN). Saat ini, kepemilikan asing terhadap SBN mencapai 31,46 persen, sisanya 68,34 persen dimiliki investor domestik.

Ketua Bapepam-LK Ngalim Sawega menambahkan, dengan peringkat layak investasi (investment grade) yang diperoleh Indonesia, penerbitan obligasi semakin marak. Namun, penerbitan obligasi korporasi tidak sebesar obligasi negara.

“Kondisi pasar modal Indonesia terus berkembang, terutama pasar saham dan obligasi. Ke depan, kita perlu kembangkan lagi corporate bond,” tutur Ngalim.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon