ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Larangan Ekspor Mineral Tambang Picu Investasi Smelter Rp100 T

Selasa, 18 Desember 2012 | 15:46 WIB
AB
B
Penulis: Antara/ Whisnu Bagus | Editor: B1
Lokasi tambang Freeport.
Lokasi tambang Freeport.
Untuk lokasi investasi, kemungkinan berada di Kalimantan yang selama ini dikenal kaya kandungan bauksit sebagai bahan baku. 

Kementerian Perindustrian menyatakan lima investor asing akan berinvestasi US$10 miliar (Rp100 triliun) dengan membangun pabrik pengolahan bauksit menjadi alumina (smelter) menyusul kebijakan pemerintah yang membatasi ekspor bahan baku mineral.

"Saat ini ada lima investor, apabila satu pabrik memiliki kapasitas produksi sebesar 3 juta ton, maka dibutuhkan investasi US$2 miliar," kata Dirjen Basis Industri Manufaktur Kemenperin, Panggah Susanto di Jakarta, Selasa (18/12).

Dia mengatakan, salah satu investor yang berminat adalah berasal dari Dubai. Saat ini, mereka sedang melakukan studi kelayakan, khususnya terkait lokasi pabrik, termasuk melakukan pendekatan dengan pemilik izin usaha pertambangan (IUP). "Rencana investasi dimulai pada 2013 dan pemerintah akan mengawal proyek tersebut," katanya.
 
Untuk lokasi investasi, lanjut Panggah, kemungkinan berada di Kalimantan yang selama ini dikenal kaya kandungan bauksit sebagai bahan baku. 
 
"Kami memiliki program mendorong investor membangun dan memperkuat struktur industri logam dan baja nasional yang berbasis pengolahan tambang. Hal tersebut akan menambah produk yang dihasilkan," ujarnya.
 
Berdasarkan data Kemenperin, ada empat perusahaan yang telah merealisasikan investasi hilirisasi tambang dan logam, yakni PT Krakatau Posco, PT Indonesia Chemical Alumina, PT Ferronikel Halmahera Timur, dan PT Batulicin Steel.

PT Krakatau Posco telah berinvestasi sebesar US$2,8 miliar untuk proyek pabrik baja tahap I dengan kapasitas 3 juta per ton.
 
Selain itu, PT Indonesia Chemical Alumina telah membangun pabrik Chemical Grade Alumina (CGA) berkapasitas 300.000 ton per tahun dengan investasi senilai US$450 juta di Kalimantan Barat.
 
Kemudian, PT Ferronikel Halmahera Timur berinvestasi US$1,6 miliar di Maluku Utara untuk pembangunan pabrik berkapasitas 27.000 ton nikel per tahun.

PT Batulicin Steel membangun pabrik baja berkapasitas 1 juta ton per tahun di Kalimantan Selatan dengan investasi tahap I senilai US$500 juta.
 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon