ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

East Ventures Dkk Suntik US$ 1,3 Juta untuk Startup Buruh Migran

Kamis, 31 Maret 2022 | 16:30 WIB
FB
FB
Penulis: Faisal Maliki Baskoro | Editor: FMB
JiPay, startup fintech berbasis di Singapura yang menciptakan platform layanan keuangan inklusif untuk para pekerja rumah tangga migran.
JiPay, startup fintech berbasis di Singapura yang menciptakan platform layanan keuangan inklusif untuk para pekerja rumah tangga migran. (Ist)

Jakarta, Beritasatu.com  — JiPay, startup fintech berbasis di Singapura yang menciptakan platform layanan keuangan inklusif untuk para pekerja rumah tangga migran, mengumumkan perolehan pendanaan awal (seed) senilai US$ 1,3 juta (sekitar Rp 18,6 miliar).

Putaran pendanaan ini dipimpin oleh East Ventures, dengan partisipasi dari SHL Capital dan juga beberapa angel investors termasuk Manila Angel Network dan Shivaas Gulati (Co-Founder Remitly).

JiPay didirikan oleh Dayana Yermolayeva (Co-Founder & CEO) setelah lulus dari Hong Kong University of Science and Technology pada akhir 2020. Ia pertama kali terpapar sektor pekerjaan rumah tangga setelah pindah ke Hong Kong untuk studinya. Berasal dari Ukraina, di mana konsep asisten rumah tangga hampir tidak ada, dia dikejutkan oleh betapa besar namun tidak terstrukturnya industri ini di Asia, terutama mengingat bagaimana pekerja rumah tangga memainkan peran yang penting dalam masyarakat dan industri tenaga kerja.

Baca Juga: TipTip Raih Seed Funding US$ 10 Juta dari East Ventures Dkk

ADVERTISEMENT

Bagi para pekerja rumah tangga (PRT), yang meramaikan kawasan Central Hong Kong di hari Minggu, masalah yang mereka hadapi tampak jelas; pekerja rumah tangga asing (PRT Asing) tidak memiliki akses ke bank serta akses terjangkau ke layanan keuangan dasar, seperti pengiriman uang, tabungan, dan asuransi.

Sementara itu, keluarga yang mempekerjakan PRT Asing kesulitan dengan pengaturan keuangan karena pembayaran gaji seringkali harus dilakukan secara tunai. Pengelolaan pengeluaran sehari-hari menggunakan uang tunai, kwitansi kertas, dan buku catatan adalah cara pembukuan manual yang melelahkan dan membosankan.

"Masalahnya bukan sekedar ketidaknyamanan karena pengaturan pengeluaran rumah tangga dengan cara yang berantakan ini", kata Dayana, "masalah sebenarnya adalah kurangnya kepercayaan antara keluarga dan PRT mereka."

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon