Inflasi 2013 Diprediksi Capai 5,3 Persen
Senin, 14 Januari 2013 | 15:43 WIB
Resiko peningkatan laju inflasi terkait dengan potensi dampak kebijakan kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) dan kenaikan harga gas.
Pemerintah memprediksi laju inflasi tahun ini akan berkisar antara 4,9 hingga 5,3 persen. Angka ini lebih tinggi dibanding realisasi pada 2012 yang mencapai 4,3 persen atau target APBN 2013 sebesar 4,9 persen, meskipun lebih rendah dari target dalam APBN-P 2012 yang mencapai 6,8 persen.
Menteri Keuangan Agus DW Martowardojo menjelaskan laju inflasi masih beresiko meningkat sepanjang tahun ini karena tekanan eksternal, yakni belum pulihnya permintaan global (global demand) dan tekanan pada kinerja ekspor.
"Tekanan eksternal inflasi tercermin pada (angka) imported inflation," ujar Menkeu dalam rapat dengan Komisi XI digedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (14/1).
Sedangkan dari sisi internal, Menkeu mengatakan resiko peningkatan laju inflasi terkait dengan potensi dampak kebijakan kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP), dimana rata-rata nasional meningkat hingga 30 persen, dan kenaikkan harga gas.
Selain itu, rencana kenaikan tarif 11 ruas jalan tol dan rencana kenaikan tarif angkutan dipastikan akan memberikan resiko tambahan kenaikkan inflasi.
"Diperkirakan tambahan inflasi dapat mencapai 0,3-0,9 persen," tegas Menkeu.
Untuk mengantisipasi resiko kenaikkan inflasi, Menkeu berpendapat perlu adanya peningkatan koordinasi kebijakan antara Kementerian Keuangan dengan BI.
"Ini untuk mensinergikan kebijakan fiskal, moneter, sektor rill guna menjaga inflasi tetap berada pada rentang sasaran 4,5 ± satu persen," tukas dia.
Sementara itu Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution memprediksi inflasi dapat diarahkan pada kisaran sasarannya sebesar 4,5 ± satu persen, sekalipun TDL naik.
Inflasi inti diperkirakan tetap stabil, didukung oleh kapasitas produksi nasional untuk mengimbangi peningkatan permintaan.
"Sehingga dampak meningkatnya permintaan domestik terhadap kenaikan harga akan relatif terbatas," tutur Darmin.
Sementara itu, Darmin memperkirakan inflasi dari volatile food akan tetap terkendali, sejalan dengan perkiraan perbaikan distribusi dan produksi yang didukung oleh perbaikan infrastruktur pertanian dan keterhubungan antar wilayah.
Inflasi administered price diperkirakan lebih tinggi dari tahun karena adanya penyesuaian Tarif Tenaga Listrik (TTL) hingga 15 persen di 2013.
"Setelah memerhitungkan dampak kenaikan UMP dan TTL, inflasi IHK diperkirakan masih berada dalam kisaran sasaran inflasi di 2013, yaitu 4,5 ± satu persen," tandasnya.
Pemerintah memprediksi laju inflasi tahun ini akan berkisar antara 4,9 hingga 5,3 persen. Angka ini lebih tinggi dibanding realisasi pada 2012 yang mencapai 4,3 persen atau target APBN 2013 sebesar 4,9 persen, meskipun lebih rendah dari target dalam APBN-P 2012 yang mencapai 6,8 persen.
Menteri Keuangan Agus DW Martowardojo menjelaskan laju inflasi masih beresiko meningkat sepanjang tahun ini karena tekanan eksternal, yakni belum pulihnya permintaan global (global demand) dan tekanan pada kinerja ekspor.
"Tekanan eksternal inflasi tercermin pada (angka) imported inflation," ujar Menkeu dalam rapat dengan Komisi XI digedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (14/1).
Sedangkan dari sisi internal, Menkeu mengatakan resiko peningkatan laju inflasi terkait dengan potensi dampak kebijakan kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP), dimana rata-rata nasional meningkat hingga 30 persen, dan kenaikkan harga gas.
Selain itu, rencana kenaikan tarif 11 ruas jalan tol dan rencana kenaikan tarif angkutan dipastikan akan memberikan resiko tambahan kenaikkan inflasi.
"Diperkirakan tambahan inflasi dapat mencapai 0,3-0,9 persen," tegas Menkeu.
Untuk mengantisipasi resiko kenaikkan inflasi, Menkeu berpendapat perlu adanya peningkatan koordinasi kebijakan antara Kementerian Keuangan dengan BI.
"Ini untuk mensinergikan kebijakan fiskal, moneter, sektor rill guna menjaga inflasi tetap berada pada rentang sasaran 4,5 ± satu persen," tukas dia.
Sementara itu Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution memprediksi inflasi dapat diarahkan pada kisaran sasarannya sebesar 4,5 ± satu persen, sekalipun TDL naik.
Inflasi inti diperkirakan tetap stabil, didukung oleh kapasitas produksi nasional untuk mengimbangi peningkatan permintaan.
"Sehingga dampak meningkatnya permintaan domestik terhadap kenaikan harga akan relatif terbatas," tutur Darmin.
Sementara itu, Darmin memperkirakan inflasi dari volatile food akan tetap terkendali, sejalan dengan perkiraan perbaikan distribusi dan produksi yang didukung oleh perbaikan infrastruktur pertanian dan keterhubungan antar wilayah.
Inflasi administered price diperkirakan lebih tinggi dari tahun karena adanya penyesuaian Tarif Tenaga Listrik (TTL) hingga 15 persen di 2013.
"Setelah memerhitungkan dampak kenaikan UMP dan TTL, inflasi IHK diperkirakan masih berada dalam kisaran sasaran inflasi di 2013, yaitu 4,5 ± satu persen," tandasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
INFOGRAFIK
Kapolda Metro Jaya Bintang 3 Sesuai Arahan Prabowo
HUKUM & HANKAM
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




