Perusahaan Jepang Buka Layanan Sewa Nenek, Ini Tugasnya
Rabu, 9 Juli 2025 | 13:33 WIB
Tokyo, Beritasatu.com — Sebuah layanan unik di Jepang memungkinkan masyarakat untuk menyewa seorang nenek yang siap membantu dalam berbagai aspek kehidupan keluarga, mulai dari pekerjaan rumah hingga memberikan nasihat hidup.
Layanan bernama OK Obaachan, yang diluncurkan pada tahun 2011, saat ini mempekerjakan sekitar 100 perempuan lansia berusia antara 60 hingga 94 tahun. Para nenek ini dipilih karena memiliki kemampuan komunikasi yang baik, pengalaman hidup yang kaya, serta masih aktif dan mampu mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
Dengan tarif sekitar 3.000 yen per jam (sekitar sekitar Rp 325.000), pelanggan dapat menyewa para lansia ini untuk berbagai keperluan, seperti mengajari memasak, mengasuh anak, memediasi konflik rumah tangga, hingga membantu mengakhiri hubungan asmara atas nama klien.
Beberapa juga diminta untuk memberikan dukungan emosional atau konseling dalam situasi sensitif, misalnya saat seseorang ingin mengungkapkan identitas diri kepada keluarga.
Tak hanya itu, sejumlah nenek juga diundang untuk memberikan perspektif sosial dalam proyek-proyek penelitian. Selain tarif per jam, pelanggan dikenakan biaya tambahan sebesar 3.000 yen untuk transportasi staf.
Layanan OK Obaachan dikelola oleh perusahaan Client Partners, yang menyebut diri mereka sebagai "agensi khusus perempuan." Perusahaan ini juga menawarkan layanan penyewaan figur adik perempuan, kakak perempuan, hingga teman bicara sebagai bentuk dukungan sosial.
Fenomena penyewaan anggota keluarga bukan hal baru di Jepang. Dalam beberapa tahun terakhir, industri ini berkembang dengan beragam pilihan, seperti menyewa "ossan" (paman) atau pasangan pura-pura.
Layanan ini muncul di tengah krisis demografi yang tengah dihadapi Jepang. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan angka kelahiran pada tahun lalu menurun drastis hingga di bawah 690.000, menjadi yang terendah dalam sejarah.
Sementara itu, populasi penduduk berusia 65 tahun ke atas mencapai 36,25 juta jiwa per September 2023, hampir sepertiga dari total populasi Jepang. Sekitar 25% lansia masih aktif bekerja, didorong oleh tingginya biaya hidup dan tekanan inflasi yang terus meningkat.
Menurut Yasuo Takao, peneliti dari Curtin University, hanya 15,8% lansia yang bekerja karena alasan personal seperti ketertarikan atau makna pekerjaan, sedangkan mayoritas melakukannya untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
3 Prajurit Gugur, TNI AD Berduka!
Liburan Sambil Belajar Sains Lewat Museum Iptek TMII
Perbaiki Tanggul Irigasi Makam, Warga Palopo Temukan Granat Nanas
3
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
TNI Menunggu Hasil Investigasi Terkait Gugurnya 3 Prajurit di Lebanon




