Sudah Ngebet Pimpin Iran, Reza Pahlavi Siapkan Tim Transisi
Sabtu, 14 Maret 2026 | 21:18 WIB
Washington, Beritasatu.com – Putra mahkota dari Syah terakhir Iran yang diasingkan, Reza Pahlavi, menyatakan kesiapannya untuk memimpin masa transisi di negaranya. Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan regional dan spekulasi mengenai masa depan stabilitas politik di Teheran.
Dalam pesan yang diunggah melalui kanal media sosial resminya, Pahlavi yang kini berbasis di Amerika Serikat mengeklaim telah menyusun tim khusus. Tim yang ia sebut sebagai "Sistem Transisi" ini terdiri dari individu-individu pilihan, baik yang berada di dalam maupun di luar Iran.
Pahlavi menegaskan bahwa tim ini disiapkan untuk segera mengambil alih kendali pemerintahan begitu terjadi kekosongan kekuasaan. "Individu-individu yang cakap baik di dalam maupun di luar negeri telah diidentifikasi dan dievaluasi untuk memimpin berbagai bagian dari Sistem Transisi," ujarnya.
Proses seleksi anggota badan transisi ini kabarnya dipimpin oleh Saeed Ghasseminejad, penasihat senior bidang ekonomi keuangan di Foundation for Defense of Democracies (FDD). Ghasseminejad dikenal sebagai sosok yang sangat kritis terhadap kebijakan pemerintah Republik Islam Iran saat ini.
Keterlibatan pakar dari lembaga think-tank yang berbasis di AS ini menunjukkan upaya Pahlavi untuk membangun legitimasi internasional sekaligus menawarkan peta jalan ekonomi bagi Iran di masa depan.
Meskipun Pahlavi hanyalah satu dari sekian banyak tokoh oposisi di luar negeri, popularitasnya dilaporkan meningkat signifikan pascaprotes besar yang melanda Iran pada Januari lalu. Dalam beberapa aksi massa, sebagian demonstran secara terbuka menyuarakan kerinduan akan kembalinya sistem monarki.
Pahlavi berjanji bahwa di bawah kepemimpinannya, pemerintahan baru akan memprioritaskan pemulihan stabilitas nasional.
“Sistem Transisi, di bawah kepemimpinan saya, akan siap mengambil alih pemerintahan negara segera setelah Republik Islam runtuh, dan dalam waktu sesingkat mungkin, menegakkan ketertiban, keamanan, kebebasan, dan kondisi untuk kemakmuran dan kemajuan Iran,” tegasnya dalam pesan tertulis tersebut.
Meski klaim Pahlavi terdengar ambisius, para pengamat politik internasional menilai tantangan terbesar tetap berada pada konsolidasi kekuatan oposisi yang masih terpecah. Namun, dengan situasi Timur Tengah yang kian tak menentu di tahun 2026 ini, manuver Pahlavi dipandang sebagai langkah krusial dalam memposisikan diri sebagai alternatif kepemimpinan di Iran.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
3 Prajurit Gugur, TNI AD Berduka!
Liburan Sambil Belajar Sains Lewat Museum Iptek TMII
Perbaiki Tanggul Irigasi Makam, Warga Palopo Temukan Granat Nanas
3
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
TNI Menunggu Hasil Investigasi Terkait Gugurnya 3 Prajurit di Lebanon




