Fokus Perang Iran, Trump Tunda Rencana Bertemu Xi Jinping
Selasa, 17 Maret 2026 | 22:07 WIB
Washington, Beritasatu.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump berencana menunda kunjungan pentingnya ke China selama sekitar satu bulan dari jadwal semula pada akhir Maret 2026. Penundaan ini dilakukan karena meningkatnya intensitas konflik di Iran.
Trump mengatakan keputusan tersebut diambil agar dirinya tetap berada di Washington untuk mengawasi jalannya konflik. Ia menambahkan bahwa kehadirannya di dalam negeri sangat penting di tengah situasi perang.
"Kami telah meminta untuk menundanya sekitar satu bulan," ujar Trump kepada wartawan di Gedung Putih, seperti dilansir dari BBC, Selasa (17/3/2026).
Baca Juga: AS Sendirian di Selat Hormuz! Mengapa Sekutu Enggan Bantu Trump?
Pertemuan antara Trump dan Presiden China Xi Jinping sebelumnya dijadwalkan berlangsung pada 31 Maret hingga 2 April 2026. Pertemuan ini menjadi kelanjutan dari pertemuan tatap muka terakhir kedua pemimpin pada Oktober 2025.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menyatakan bahwa Beijing dan Washington saat ini masih membahas waktu pelaksanaan kunjungan tersebut. China juga membantah adanya kaitan antara penundaan ini dengan isu Selat Hormuz, jalur penting distribusi energi global dari kawasan Teluk.
"Kami mencatat pihak AS telah mengklarifikasi laporan media yang salah, dan menegaskan bahwa kunjungan ini tidak ada kaitannya dengan isu kebebasan navigasi di Selat Hormuz," ujar Lin Jian.
Sebelumnya, Trump sempat mengatakan kepada Financial Times bahwa ia bisa menunda kunjungan jika China tidak membantu membuka jalur Selat Hormuz. Namun, ia kemudian menegaskan bahwa alasan utama penundaan adalah fokus pada perang.
"Saya menantikan untuk bertemu dengannya. Kami memiliki hubungan yang sangat baik,” ujar Trump terkait pertemuan dengan presiden China itu.
"Tidak ada maksud lain. Ini sangat sederhana. Kita sedang menghadapi perang, dan saya pikir penting bagi saya untuk tetap di sini," ucapnya.
Perang Iran kini menjadi prioritas utama kebijakan luar negeri Trump, terutama karena dampaknya terhadap pasokan minyak global yang berpotensi mendorong kenaikan harga energi di Amerika Serikat.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menegaskan bahwa penundaan ini tidak terkait dengan permintaan kepada China untuk membantu di kawasan Teluk maupun perselisihan dagang.
"Presiden ingin tetap berada di Washington untuk mengoordinasikan upaya perang. Bepergian ke luar negeri dalam situasi seperti ini mungkin tidak optimal," ujarnya.
Di tengah situasi ini, hubungan antara dua ekonomi terbesar dunia tersebut juga semakin tegang. China diketahui merupakan salah satu pembeli utama energi dari Iran dan mengkritik serangan Amerika Serikat serta Israel terhadap negara tersebut.
Selain itu, Washington juga mengumumkan akan menyelidiki praktik perdagangan sejumlah negara, termasuk China, setelah kebijakan tarif andalan Trump dibatalkan Mahkamah Agung pada Februari 2026 lalu.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
3 Prajurit Gugur, TNI AD Berduka!
Liburan Sambil Belajar Sains Lewat Museum Iptek TMII
3
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
TNI Menunggu Hasil Investigasi Terkait Gugurnya 3 Prajurit di Lebanon




