Sejak 2018, 17 Anak Migran Hilang Setiap Hari di Eropa
Kamis, 22 April 2021 | 16:02 WIB
London, Beritasatu.com- Setidaknya 18.292 anak migran tanpa pendamping menghilang di Eropa antara Januari 2018 dan Desember 2020. Seperti dilaporkan Arabnews, Rabu (21/4/2021), jika dirata-rata, jumlah itu berarti hampir 17 anak per hari.
Satu investigasi baru oleh The Guardian dan kolektif jurnalisme Lost in Europe telah mengungkap sekitar 18.000 migran anak tanpa pendamping hilang akibat perdagangan manusia setelah tiba di negara-negara Eropa.
Investigasi jurnalisme tersebut membuat penilaian dari semua 27 negara Uni Eropa serta Norwegia, Moldova, Swiss, dan Inggris.
Setidaknya sekitar 5.768 anak hilang di 13 negara Eropa pada tahun lalu saja. Mayoritas anak-anak yang hilang sejak 2018 telah melakukan perjalanan dari Timur Tengah dan Afrika Utara, dengan jumlah yang signifikan datang dari Maroko dan Aljazair.
Investigasi menemukan bahwa 90% anak-anak adalah laki-laki dan seperenam berusia di bawah 15 tahun.
Dikatakan informasi yang diberikan oleh badan nasional tidak mencukupi, sehingga situasinya bisa jauh lebih buruk.
Spanyol, Belgia, dan Finlandia tidak memberikan data untuk tahun 2020. Sementara Denmark, Prancis, dan Inggris tidak memberikan angka apa pun tentang anak-anak hilang tanpa pendamping.
Temuan investigasi menimbulkan pertanyaan serius tentang sejauh mana negara-negara Eropa mampu atau bersedia melindungi migran anak tanpa pendamping.
"Tingginya jumlah anak yang hilang adalah gejala dari sistem perlindungan anak yang tidak berfungsi," kata Federica Toscano, kepala advokasi dan migrasi di Missing Children Europe.
Toscano mengatakan kepada penyelidik bahwa anak di bawah umur tanpa pendamping menghadapi risiko tinggi eksploitasi, perdagangan manusia, dan cedera fisik.
"Organisasi kriminal semakin menargetkan anak-anak migran. Banyak dari mereka menjadi korban tenaga kerja dan eksploitasi seksual, pengemis paksa dan perdagangan manusia. Sangat sedikit yang tercatat dalam file anak migran yang hilang, dan terlalu sering diasumsikan bahwa seorang anak migran berada di suatu tempat yang aman di negara lain, meskipun kolaborasi lintas batas dalam kasus ini praktis tidak ada," kata Toscano.
Seorang juru bicara Komisi Eropa mengatakan negara-negara Uni Eropa harus mengambil tindakan untuk mencegah dan menanggapi hilangnya anak-anak dalam migrasi. Upaya itu bisa dimulai dengan meningkatkan pengumpulan data dan kolaborasi lintas batas.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
3 Prajurit Gugur, TNI AD Berduka!
Liburan Sambil Belajar Sains Lewat Museum Iptek TMII
3
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
TNI Menunggu Hasil Investigasi Terkait Gugurnya 3 Prajurit di Lebanon




