ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Sejak 2018, 17 Anak Migran Hilang Setiap Hari di Eropa

Kamis, 22 April 2021 | 16:02 WIB
UW
UW
Penulis: Unggul Wirawan | Editor: WIR
Anak-anak bermain di kamp pengungsi Kara Tepe, Pulau Lesbos, Yunani, 19 September 2020.
Anak-anak bermain di kamp pengungsi Kara Tepe, Pulau Lesbos, Yunani, 19 September 2020. (Getty Images/Dokumentasi)

London, Beritasatu.com- Setidaknya 18.292 anak migran tanpa pendamping menghilang di Eropa antara Januari 2018 dan Desember 2020. Seperti dilaporkan Arabnews, Rabu (21/4/2021), jika dirata-rata, jumlah itu berarti hampir 17 anak per hari.

Satu investigasi baru oleh The Guardian dan kolektif jurnalisme Lost in Europe telah mengungkap sekitar 18.000 migran anak tanpa pendamping hilang akibat perdagangan manusia setelah tiba di negara-negara Eropa.

Investigasi jurnalisme tersebut membuat penilaian dari semua 27 negara Uni Eropa serta Norwegia, Moldova, Swiss, dan Inggris.

Setidaknya sekitar 5.768 anak hilang di 13 negara Eropa pada tahun lalu saja. Mayoritas anak-anak yang hilang sejak 2018 telah melakukan perjalanan dari Timur Tengah dan Afrika Utara, dengan jumlah yang signifikan datang dari Maroko dan Aljazair.

ADVERTISEMENT

Investigasi menemukan bahwa 90% anak-anak adalah laki-laki dan seperenam berusia di bawah 15 tahun.

Dikatakan informasi yang diberikan oleh badan nasional tidak mencukupi, sehingga situasinya bisa jauh lebih buruk.

Spanyol, Belgia, dan Finlandia tidak memberikan data untuk tahun 2020. Sementara Denmark, Prancis, dan Inggris tidak memberikan angka apa pun tentang anak-anak hilang tanpa pendamping.

Temuan investigasi menimbulkan pertanyaan serius tentang sejauh mana negara-negara Eropa mampu atau bersedia melindungi migran anak tanpa pendamping.

"Tingginya jumlah anak yang hilang adalah gejala dari sistem perlindungan anak yang tidak berfungsi," kata Federica Toscano, kepala advokasi dan migrasi di Missing Children Europe.

Toscano mengatakan kepada penyelidik bahwa anak di bawah umur tanpa pendamping menghadapi risiko tinggi eksploitasi, perdagangan manusia, dan cedera fisik.

"Organisasi kriminal semakin menargetkan anak-anak migran. Banyak dari mereka menjadi korban tenaga kerja dan eksploitasi seksual, pengemis paksa dan perdagangan manusia. Sangat sedikit yang tercatat dalam file anak migran yang hilang, dan terlalu sering diasumsikan bahwa seorang anak migran berada di suatu tempat yang aman di negara lain, meskipun kolaborasi lintas batas dalam kasus ini praktis tidak ada," kata Toscano.

Seorang juru bicara Komisi Eropa mengatakan negara-negara Uni Eropa harus mengambil tindakan untuk mencegah dan menanggapi hilangnya anak-anak dalam migrasi. Upaya itu bisa dimulai dengan meningkatkan pengumpulan data dan kolaborasi lintas batas.



 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

10 Negara dengan Populasi Muslim Terbesar di Eropa pada 2025

10 Negara dengan Populasi Muslim Terbesar di Eropa pada 2025

INTERNASIONAL
Ancaman Trump ke Greenland, Sejauh Mana Eropa Bisa Melawan?

Ancaman Trump ke Greenland, Sejauh Mana Eropa Bisa Melawan?

INTERNASIONAL
Trump Melunak ke Eropa, Batalkan Ancaman Tarif Impor Baru 8 Negara

Trump Melunak ke Eropa, Batalkan Ancaman Tarif Impor Baru 8 Negara

INTERNASIONAL
Tanpa Visa Schengen! Ini 5 Negara Eropa Ramah Paspor Indonesia 2026

Tanpa Visa Schengen! Ini 5 Negara Eropa Ramah Paspor Indonesia 2026

INTERNASIONAL
Sengketa Greenland, Rusia Sindir Eropa Jangan Senggol AS

Sengketa Greenland, Rusia Sindir Eropa Jangan Senggol AS

INTERNASIONAL
Eropa Kompak Bersatu Tolak Ambisi AS Kuasai Greenland

Eropa Kompak Bersatu Tolak Ambisi AS Kuasai Greenland

INTERNASIONAL

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon