Ancaman Trump ke Greenland, Sejauh Mana Eropa Bisa Melawan?
Senin, 26 Januari 2026 | 11:25 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Hubungan transatlantik yang telah terjalin hampir delapan dekade kembali diuji oleh isu Greenland.
Ancaman mengejutkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk memberlakukan tarif tambahan demi memaksa akuisisi wilayah semi-otonom milik Kerajaan Denmark itu memicu ketegangan serius antara Eropa dan Washington.
Dalam situasi genting tersebut, muncul pertanyaan besar, mungkinkah Eropa benar-benar bersatu membela Greenland di tengah tekanan politik dan ekonomi dari sekutu lamanya sendiri?
Sejak awal, Greenland menjadi pusat perdebatan bukan hanya karena posisinya yang strategis di Arktik, tetapi juga karena kekayaan mineralnya dan perannya dalam keamanan global.
Ketegangan yang terjadi menempatkan Eropa pada dilema antara menjaga aliansi lama atau mempertahankan prinsip kedaulatan dan hukum internasional.
Selama lima hari yang penuh ketidakpastian, Eropa berada dalam kondisi tegang setelah Trump mengancam akan mengenakan tarif tambahan sebesar 10% terhadap delapan negara Eropa anggota NATO.
Ancaman tersebut secara eksplisit dikaitkan dengan upaya memaksa pembelian Greenland secara penuh. Pernyataan Trump yang menyebut tarif itu akan berlaku hingga tercapai kesepakatan akuisisi memicu kemarahan luas di kalangan pemimpin Eropa.
Presiden dan perdana menteri dari berbagai negara secara serempak menyatakan dukungan terhadap kedaulatan Denmark dan menilai langkah tersebut sebagai bentuk tekanan yang tidak dapat diterima.
Sikap ini menandai fase awal persatuan politik Eropa, yang sebelumnya kerap terpecah dalam merespons kebijakan perdagangan Amerika Serikat.
Sejauh Mana Eropa Bisa Melawan?
Menurut laporan Euronews, tak lama setelah ancaman tersebut disampaikan, para duta besar Uni Eropa menggelar pertemuan darurat untuk menyiapkan langkah antisipasi sebelum tarif diberlakukan.
Prancis mendorong aktivasi Instrumen Anti-Koersi, sebuah mekanisme yang memungkinkan pembalasan luas di berbagai sektor ekonomi.
Meski instrumen ini sebelumnya belum pernah digunakan, situasi kali ini dipandang berbeda karena tarif dimanfaatkan sebagai alat tekanan teritorial terhadap sekutu.
Berbeda dengan perdebatan internal yang pernah terjadi pada 2025, negara-negara anggota kini menunjukkan tekad kolektif.
Para diplomat di Brussels menegaskan kesiapan menanggung dampak ekonomi demi membela Greenland, Denmark, dan kedaulatan Uni Eropa secara keseluruhan.
Sebagai bagian dari respons politik, Parlemen Eropa memutuskan menunda ratifikasi kesepakatan perdagangan Uni Eropa-Amerika Serikat tanpa batas waktu.
Keputusan ini secara efektif menahan manfaat tarif nol bagi produk Amerika yang sebelumnya disepakati. Langkah tersebut memperkuat pesan bahwa tekanan ekonomi tidak akan direspons dengan konsesi sepihak.
Secara paralel, daftar langkah balasan senilai puluhan miliar euro disiapkan untuk diberlakukan jika tarif tambahan benar-benar diterapkan. Kebijakan ini mencerminkan perubahan sikap Eropa yang lebih tegas dan terkoordinasi dalam menghadapi ancaman terhadap Greenland.
Meski menunjukkan kesiapan membalas, para pemimpin Eropa tetap menekankan bahwa diplomasi adalah pilihan utama.
Mereka berupaya mencari jalan keluar yang dapat melindungi Greenland tanpa memicu eskalasi konflik yang lebih luas. Pernyataan dari Berlin hingga Helsinki menegaskan keinginan menyelesaikan krisis melalui dialog bersama.
Beberapa pemimpin mencoba membuka ruang kompromi dengan menafsirkan ulang langkah-langkah Amerika Serikat, meski upaya tersebut tidak langsung membuahkan hasil. Ketegangan semakin meningkat ketika Trump kembali menegaskan keinginannya mengambil alih Greenland dalam forum internasional, disertai pernyataan bernada ultimatum terhadap Eropa.
Situasi mulai mencair ketika Trump menyatakan tidak berniat menggunakan kekuatan militer untuk mencapai tujuannya. Celah ini segera dimanfaatkan oleh negara-negara Eropa dan NATO.
Sebuah kesepakatan kerangka kerja untuk meningkatkan keamanan di Greenland dan kawasan Arktik mulai dibahas, dengan fokus pada kerja sama pertahanan tanpa perubahan status kedaulatan.
Kesepakatan tersebut dipandang sebagai solusi sementara yang memungkinkan semua pihak menyelamatkan muka. Trump menyatakan tidak akan melanjutkan ancaman tarif maupun upaya kepemilikan Greenland, sementara Eropa berhasil mempertahankan prinsip kedaulatan dan stabilitas kawasan.
Dalam pertemuan darurat para pemimpin Uni Eropa di Brussels, suasana yang semula tegang berubah menjadi lebih tenang.
Para pemimpin menegaskan bahwa hubungan transatlantik terlalu penting untuk dikorbankan oleh satu krisis singkat. Meski demikian, kewaspadaan tetap dijaga mengingat potensi isu Greenland kembali mencuat di masa depan.
Denmark mengambil langkah cepat dengan memastikan bahwa setiap kesepakatan terkait keamanan Greenland melibatkan persetujuan penuh dari Kopenhagen dan Nuuk. Langkah ini bertujuan menegaskan bahwa Greenland bukan objek tawar-menawar, melainkan bagian dari entitas politik yang berdaulat.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Cuaca Jakarta Hari Ini Minggu 21 Juni: Hujan Ringan pada Malam Hari




