Perubahan Komunikasi The Fed Picu Risiko Volatilitas Pasar Global
Minggu, 21 Juni 2026 | 06:06 WIB
Washington, Beritasatu.com - Federal Reserve (The Fed) memasuki babak baru di bawah kepemimpinan Kevin Warsh. Pada konferensi pers pertamanya sebagai ketua bank sentral Amerika Serikat, Warsh mengisyaratkan perubahan besar dengan memangkas komunikasi dan panduan kebijakan yang selama ini menjadi acuan utama pelaku pasar keuangan.
Selama beberapa dekade, The Fed bertransformasi dari lembaga yang tertutup menjadi institusi yang lebih transparan dalam menjelaskan arah kebijakan dan pandangannya terhadap perekonomian. Namun, Warsh menilai pasar telah terlalu bergantung pada panduan atau forward guidance yang diberikan bank sentral.
Sebagai langkah awal, The Fed memangkas panjang pernyataan kebijakan suku bunga menjadi 132 kata dari sebelumnya 341 kata pada April lalu. Warsh juga menegaskan bahwa pernyataan terbaru tidak memuat petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga berikutnya.
Kebijakan tersebut langsung memicu gejolak di pasar keuangan. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik menjadi 4,49% dari 4,43%, sementara imbal hasil obligasi dua tahun meningkat menjadi 4,16% dari 4,05%. Di sisi lain, indeks S&P 500 melemah 1,2% setelah pernyataan dan konferensi pers Warsh.
“Secara umum, panduan kebijakan ke depan telah berfungsi untuk menekan volatilitas dan menstabilkan ekspektasi pasar,” kata ahli strategi makro global Bespoke Investment Group George Pearkes dikutip dari CNBC, Minggu (21/6/2026).
Menurut Pearkes, dampak terhadap konsumen kemungkinan tidak terlalu besar. Namun, suku bunga kredit perumahan berpotensi lebih tinggi sekitar seperempat poin dibandingkan jika The Fed tetap memberikan panduan yang jelas kepada pasar.
Pendekatan Warsh dinilai mengingatkan pada era mantan Ketua The Fed Alan Greenspan yang memimpin bank sentral AS pada 1987 hingga 2005. Pada masa itu, pasar sering kali harus menafsirkan sendiri arah kebijakan moneter karena minimnya petunjuk resmi dari bank sentral.
Selain mengubah pola komunikasi, Warsh juga mengumumkan pembentukan lima gugus tugas yang akan mengkaji berbagai aspek operasional The Fed, mulai dari komunikasi kebijakan, neraca keuangan, metode pengumpulan data ekonomi, dampak kecerdasan buatan terhadap produktivitas dan lapangan kerja, hingga kerangka analisis inflasi.
“Ini adalah perubahan besar dalam cara The Fed bertindak sejak krisis keuangan global (2008-2009),” kata Kepala Ekonom AS Deutsche Bank Matthew Luzzetti.
Menurut Luzzetti, sejak krisis keuangan global, The Fed secara konsisten meningkatkan transparansi, komunikasi, dan panduan kebijakan kepada pasar. Namun, arah tersebut kini mulai berubah di bawah kepemimpinan Warsh.
Warsh berpendapat harga pasar keuangan seharusnya menjadi salah satu sumber informasi utama bagi bank sentral. Karena itu, investor didorong untuk menilai sendiri arah kebijakan berdasarkan data ekonomi, bukan hanya mengandalkan sinyal dari The Fed.
“Harga pasar keuangan mungkin merupakan sumber informasi terpenting untuk memandu para bankir sentral,” ujar Warsh.
Meski mendapat dukungan dari sebagian ekonom, pendekatan tersebut juga menuai kritik. Profesor ekonomi Universitas Miami sekaligus mantan ekonom Federal Reserve St Louis, David Andolfatto, menilai penghapusan forward guidance harus diimbangi dengan strategi yang jelas dalam menghadapi berbagai risiko ekonomi.
“Saya setuju dengannya untuk menghapus panduan ke depan, tetapi Anda harus menggantinya dengan rencana darurat.Tidak cukup hanya mengatakan, percayalah, kami akan menjaga inflasi tetap pada target," kata Andolfatto.
Para analis menilai tantangan terbesar kebijakan baru Warsh akan muncul saat terjadi gejolak pasar atau krisis ekonomi. Dalam situasi seperti itu, komunikasi yang jelas dari bank sentral selama ini terbukti menjadi instrumen penting untuk menjaga stabilitas pasar dan menenangkan pelaku ekonomi.
“Apakah hal itu akan bertahan lama dan dia akan berperilaku seperti ini selama lima tahun adalah pertanyaan yang sangat berbeda, tetapi kita harus menunggu perkembangan peristiwa untuk mendapatkan jawabannya,” pungkas Pearkes.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
62 Persen Jemaah Haji Indonesia Telah Kembali ke Tanah Air




