Harga Emas Turun Lebih dari 1 Persen Tertekan Sentimen Hawkish The Fed
Jumat, 19 Juni 2026 | 08:35 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Harga emas melanjutkan tren penurunan pada perdagangan Kamis (18/6/2026) meski sempat menguat di tengah sesi. Logam mulia itu tertekan oleh sikap Federal Reserve (The Fed) yang semakin hawkish dan penguatan dolar Amerika Serikat (AS) ke level tertinggi dalam satu tahun terakhir.
Mengutip Reuters, tekanan terhadap emas juga dipicu meredanya kekhawatiran inflasi setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan gencatan senjata. Kesepakatan tersebut turut menekan harga minyak dan mengurangi ekspektasi inflasi global.
Harga emas spot ditutup turun 1,14% ke US$ 4.209,15 per ons troi. Sepanjang perdagangan, emas sempat menyentuh level terendah sejak November 2025. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS merosot 3,51% dan berakhir di US$ 4.227,75 per ons troi.
Tekanan berlanjut hingga Jumat pagi (19/6/2026). Harga emas kembali turun ke US$ 4.186 per ons troi atau melemah 23,66 poin setara 0,56%.
“Hal paling signifikan adalah perubahan nada The Fed yang lebih hawkish. Itu mendorong dolar ke level tertinggi tahun ini, sehingga emas berada di bawah tekanan,” ujar Vice President sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals Peter Grant.
Pada pertemuan kebijakan terbarunya, The Fed mempertahankan suku bunga acuan. Namun, sembilan dari 19 pembuat kebijakan masih melihat peluang kenaikan suku bunga hingga akhir tahun. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada Desember meningkat menjadi 85% dari sebelumnya 61% sebelum pengumuman kebijakan.
Penguatan dolar AS pasca-pernyataan The Fed membuat emas menjadi lebih mahal bagi pembeli global. Kondisi tersebut mengurangi daya tarik emas di pasar internasional.
Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil, emas cenderung menghadapi tekanan ketika suku bunga berada di level tinggi. Sentimen negatif terhadap logam mulia juga telah berkembang sejak konflik Timur Tengah memicu lonjakan harga energi dan meningkatkan kekhawatiran inflasi.
Dari sisi geopolitik, AS dan Iran telah merilis teks kesepakatan sementara yang ditandatangani kedua negara untuk mengakhiri konflik. Meski demikian, Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa serangan dapat kembali dilakukan apabila Iran tidak mematuhi isi kesepakatan tersebut.
Di pasar energi, harga minyak Brent turun ke level terendah sejak 2 Maret, sedangkan minyak West Texas Intermediate (WTI) menyentuh titik terendah sejak 4 Maret.
Pelemahan juga terjadi pada logam mulia lainnya. Harga perak spot anjlok 3,22% menjadi US$ 65,72 per ons troi, platinum turun 2,39% ke US$ 1.689,73 per ons troi, sementara paladium melemah 2,94% menjadi US$ 1.282,60 per ons troi.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
AS Sebut Tak Ada Bukti Iran Kembali Tutup Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Prabowo Minta Masa Tunggu Haji Lebih Singkat dari Saat Ini




